31 Desember 2013

SKANDAL - Chapter 6

SKANDAL
Chapter 6

-xxx-

            “Jae Jaejoong-ah.”
            Kim Jaejoong yang merasa namanya dipanggil, dengan cepat mengangkat kepalanya dan mengerjap-ngerjap menatap sekeliling. Dilihatnya Junsu yang sedang duduk di sampingnya sambil menatap dengan pandangan cemas. Menyadari hal itu, Jaejoong membenarkan posisi duduknya dan mengusap-usap matanya.
            “Waeyo, hyung?” tanya Jaejoong pada Junsu.
            “Apa kau baik-baik saja? Kulihat sedari tadi kau hanya duduk diam,” jawab Junsu, dengan nada penuh kekhawatiran.
            “Ah gwaenchana, hyung. Aku hanya sedikit merasa lelah.”
            Meski Jaejoong berkata baik-baik saja, tapi Junsu tidak yakin dan masih menatap Jaejoong dengan cemas lalu berkata, “Kalau begitu kembalilah ke hotel dan istirahatlah di kamar. Lagipula besok kau masih ada jadwal pemotretan, ‘kan?”
            “Eh?” sahut Jaejoong bingung.
            “Tidak apa-apa kok, istirahat saja duluan.”
            “Eum” Jaejoong tampak berpikir sejenak.
            Suasana di ruang karaoke yang cukup luas ini masih riuh. Salah seorang staf sedang menyanyikan sebuah lagu, sementara yang lain sibuk bersorak-sorai. Di meja penuh dengan berbagai makanan dan camilan, serta beberapa botol minuman ringan serta soju. Jaejoong melirik sekilas jam yang ada di dinding. Waktu ternyata hampir lewat tengah malam.
            Kedatangan Jaejoong ke Jeju adalah untuk pekerjaan, bukan untuk liburan apalagi menghindar dari kejaran pers. Dan saat ini Jaejoong memang sedang berada di salah satu tempat karaoke di Jeju. Dia pergi setelah menerima ajakan dari para kru dan staf sebuah majalah fashion yang sedang bekerja sama dengannya untuk sebuah pemotretan. Acara karaoke ini mungkin menjadi cara bagi mereka untuk bisa melepas penat sejenak dari pekerjaan yang menumpuk.
            “Mungkin aku akan keluar sebentar untuk mencari udara segar, hyung,” ujar Jaejoong, kemudian bangkit dari tempat duduk dan mengenakan mantelnya.
            “Kau yakin tidak apa-apa, Jae?” tanya Junsu, masih khawatir karena menurut matanya Jaejoong terlihat begitu penat dan banyak pikiran.
            Jaejoong mengangguk pelan lalu berkata, “Aku pergi dulu, hyung.”
            Junsu hanya bisa menatap Jaejoong yang berjalan menjauh dari keramaian tanpa ada satu pun yang menyadari, dan melihat punggung Jaejoong menghilang di balik pintu. Junsu menghela napas kuat-kuat sebelum kemudian memutuskan untuk kembali ke kerumunan orang-orang yang sepertinya sudah sangat terlarut dalam euforia masing-masing.
*          *          *
            Kim Jaejoong melangkahkan kakinya menembus pekatnya malam, dan ternyata kakinya membawanya ke sebuah pantai. Tidak ambil pusing, Jaejoong berjalan saja menuju bibir pantai dan menyusurinya. Suara desiran halus ombak menyapa pendengarannya dan memecah kesunyian malam. Hanya butuh beberapa menit berjalan di pantai sebelum Jaejoong melepas sepatunya dan berjalan dengan telanjang kaki, karena merasa kakinya tergelitik untuk menikmati halusnya pasir pantai.
            Jaejoong melangkah dengan ringan, tanpa perlu khawatir ada yang mengenalinya. Fakta bahwa pantai di malam hari begitu sepi atau bahkan tidak ada orang lain selain dirinya sedikit melegakan untuk hatinya yang merasa sesak belakangan ini. Sepanjang menyusuri bibir pantai, sesekali ombak mengenai kakinya dengan lembut. Suasana yang tenang sekaligus menghanyutkan ini terasa nyaman bagi Jaejoong.
            Sembari berjalan, sesekali Jaejoong mengedarkan pandangannya ke arah laut. Laut yang tetap terlihat gelam dan kelam, sekalipun bulan menggantung di atasnya. Laut yang meski dipandang sejauh apapun tetap terlihat tak ada ujungnya. Jaejoong berhenti sejenak dan terdiam. Matanya terpejam sambil menikmati desiran angin malam yang menerpa tubuhnya, ditambah dengan suara-suara nyiur kelapa yang bergemerisik akrena terusik oleh angin pantai yang cukup kencang. Terasa dingin, tapi juga menenangkan.
            Jaejoong mengeratkan mantelnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya, agak menepi karena mulai terusik oleh dinginnya air yang mengenai kakinya. Kedua tangannya menyatu ke belakang tubuhnya, dengan sepasang sepatu yang terkait di jemarinya. Kepalanya mendongak, matanya menatap langit malam yang gelap namun cerah tak berawan. Bulan terlihat bersinar terang di atas sana, ditemani ratusan bintang yang menciptakan konstelasi indah di langit.
            Kaki Jaejoong kembali terhenti. Matanya kini sibuk memandang bintang-bintang. Sejak kecil Jaejoong memang suka sekali melihat bintang, dan kebiasaan melihat bintang itu terus terbawa hingga di umurnya yang sekarang. Jaejoong tersenyum samar, masih sambil memandang bintang-bintang. Bintang-bintang itu selalu berhasil menghibur hatinya.
            Jaejoong melangkah lagi, kali ini lebih menepi lagi. Setelah dirasa menemukan tempat yang pas, Jaejoong meletakkan sepatunya, kemudian duduk dan merebahkan tubuhnya begitu saja dengan beralaskan pasir. Kedua telapak tangannya saling tertaut dan digunakan sebagai sandaran kepalanya. Jaejoong menghela napas pelan, lalu kembali sibuk memandangi bintang. Bintang-bintang itu memang tak pernah membuatnya bosan.
            Kedua kelopak mata Jaejoong kembali tertutup. Dia tengah menikmati halusnya pasir pantai tempat punggungnya bersandar, angin malam yang mengalir lembut membawa dingin yang menenangkan, gemerisik pohon-pohon kelapa, dan desir ombak.
            “Kau suka sekali melihat bintang ya?”

            Jaejoong tersentak kaget dan seketika membuka kedua matanya. Tubuhnya segera terduduk dan matanya mengamati sekeliling. Suara tadi mendadak terngiang di telinganya dan terdengar sangat nyata. Tapi, Jaejoong tidak menemukan siapa pun di dekatnya. Sepi, dan hanya ada dia seorang.
            Jaejoong menarik napas dalam, sebelum akhirnya berbaring lagi dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Masih dengan telapak tangan sebagai penyangga kepalanya, Jaejoong menatap lurus ke atas, ke arah langit yang bertabur bintang.
            “Aku sering melihatmu keluar ke beranda pada malam hari, dan berdiri diam di sana sambil menatap ke atas.”
            Kali ini Jaejoong yakin dengan apa yang didengarnya. Beberapa kali matanya mengerjap-ngerjap kaget, sekaligus bingung. Ya, Jaejoong sangat yakin kalau suara bass yang terngiang di telinganya itu adalah suara Yunho, suara yang memang akrab di telinganya. Dan Jaejoong masih ingat benar, kata-kata Yunho yang tadi mendengung di telinganya dan pembicaraan mereka dulu.
            Jaejoong mendesis pelan, merasa kesal sekaligus kasihan pada dirinya sendiri yang sangat merindukan Yunho sampai-sampai berimajinasi seperti ini. Jaejoong kemudian memilih untuk memejamkan matanya dan berkonsentrasi pada otaknya untuk memutar kembali memori setahun lalu itu dalam benaknya.
            “Eum, aku sangat suka melihat bintang,” barusan itu suara Jaejoong, dia masih ingat dengan jelas kata-katanya waktu itu.
            “Appa meninggal waktu aku berumur 9 tahun. Waktu tahu selamanya tidak akan bisa bertemu Appa lagi, aku menangis sepanjang hari. Aku terus menangis, sampai akhirnya suatu saat Umma menghiburku dengan berkata padaku bahwa Appa sebenarnya tidak pergi jauh, beliau hanya pergi ke langit dan menjadi bintang di atas sana. Umma bilang, aku masih bisa melihat Appa yang bersinar di atas sana. Karena itu, saat itu setiap malam aku menatap ke arah langit dan melihat bintang-bintang, untuk mengobati rasa rinduku pada Appa. Mungkin karena tersugesti juga oleh kata-kata Umma, setiap kali melihat bintang aku merasa hangat, nyaman, dan terhibur. Dan kebiasaan dari kecil itu terus terbawa hingga umurku yang sekarang.”
            Jaejoong mengerutkan dahinya saat kalimat itu terngiang di telinganya. Mengingat saat-saat dimana dia kehilangan appa adalah kenangan paling pahit dalam hidupnya. Dada Jaejoong mulai terasa sesak. Dia teringat pada ayahnya dan merasakan kerinduan yang mendalam itu muncul lagi ke permukaan hatinya. Dan tanpa sadar, Jaejoong menggumam memanggil ayahnya dengan suara lirih yang bergetar.
            Jaejoong kembali membuka matanya dan menatap bintang-bintang di atas kepalanya. Dadanya terasa makin sesak. Dan mendapati tidak ada Yunho di sampingnya sebagai tempatnya bersandar, dadanya kini mulai berdenyut nyeri.
            “Apa yang harus aku lakukan, appa?” kata Jaejoong pelan, terdengar penuh keputusasaan. Dan memang hanya sebuah helaan napas kuat yang bisa dilakukan Jaejoong sekarang.
            Jaejoong masih menatap bintang. Namun kali ini tatapannya kosong dan terasa hampa. Jaejoong merasa perlahan jiwanya mulai meninggalkan raganya, membuatnya tak lagi bersemangat melewati hari. Dan menit-menit selanjutnya hanya Jaejoong lalui dengan lamunan.
            “Jaejoong-ah,” sebuah suara dari jauh menyadarkan Jaejoong kembali.
Suara derap langkah kaki yang makin mendekat membuatnya menengok ke samping, mencari sumber suara. Suasana yang gelap dengan penerangan minim membuatnya ragu melihat sosok yang mendekat ke arahnya. Jaejoong baru merasa lega ketika sosok yang berhenti dan berdiri di sampingnya itu adalah Kim Junsu, manejernya.
            “Rupanya kau, hyung,” ujar Jaejoong sambil mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, sambil mengacak rambutnya pelan.
            “Eum,” tandas Junsu sambil mengangguk, “Aku mengkhawatirkanmu, makanya aku berniat menyusulmu. Kucari-cari, ternyata kau ada di sini.”
            Jaejoong menatap Junsu dengan kepala sedikit terdongak ke atas, mengingat Junsu yang memang masih berdiri di sebelahnya, “Tidak perlu khawatir, hyung, aku bisa pulang sendiri kok,” sahutnya.
Jaejoong melirik sekilas ke arah Junsu, mencoba menerka arti ekspresi manajernya itu, sebelum kemudian kembali membaringkan tubuhnya di atas pasir pantai. Junsu yang melihat hal itu akhirnya ikut duduk di samping Jaejoong, lalu menyandarkan kepalanya di kedua lututnya. Dilihatnya sekilas Jaejoong yang tengah memejamkan matanya itu.
            “Apa kau baik-baik saja?”
            “Aku tidak apa-apa, hyung,” jawab Jaejoong tanpa membuka matanya.
Junsu mendesah pelan sebagai respon, dan kemudian kedua namja ini hanya terdiam, menciptakan keheningan di antara mereka. Hanya ada suara debur ombak yang sesekali mencoba memecah kesunyian malam itu.
            “Maafkan aku, Jae,” kata Junsu mencoba memulai sebuah pembicaraan.
            Jaejoong yang kaget mendengar Junsu tiba-tiba meminta maaf, membuka matanya dan menatap Junsu yang duduk di sampingnya dengan pandangan lurus ke depan.
            “Maaf, aku tidak bisa melakukan apa yang bisa membantumu keluar dari masalah ini,” lanjut Junsu.
            Ini benar-benar ungkapan permintaan maaf yang tulus darinya, yang sebenarnya sudah lama ingin dia katakan sejak dulu namun belum menemukan waktu yang tepat. Baru sekaranglah Junsu merasa kalau inilah saat yang pas.
            “Kenapa bicara seperti itu, hyung? Ini bukan salahmu kok, tidak perlu sampai minta maaf segala. Ini semua karena diriku sendiri,” kata Jaejoong sambil mengalihkan pandangannya kembali menatap ke bintang.
            “Tapi, Jae, setidaknya seharusnya aku bisa memberikanmu jalan keluar atau…”
            “Sudahlah, hyung, tidak apa-apa kok,” sela Jaejoong.
            Junsu diam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Sekalipun Jaejoong berkata tidak apa-apa, tapi tetap saja Junsu merasa bersalah padanya. Dia merasa tidak berguna dan tidak bisa membantu apapun untuk Jaejoong. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin melihat Jaejoong yang seperti sekrang ini, tapi dia tidak tahu harus bagaimana.
            “Hyung,” panggil Jaejoong. Junsu menegok dan menatap Jaejoong. “Menurutmu, apa Yunho membenciku?” tanyanya.
            “Eh? Kenapa kau berpikir seperti itu?” Junsu hanya balik bertanya.
            “Aku sudah menyakitinya sampai seperti ini. Kurasa Yunho pasti membenciku sekarang,” sahut Jaejoong dengan nada pahit. Lidahnya sendiri terasa getir ketika mengucapkannya.
            Junsu diam sejenak, tampak sedang berpikir dan menimbang-nimbang, “Kurasa tidak Jae,” jawabnya.
            Jaejoong sebenarnya sudah bisa menebak apa jawaban Junsu. Dia pikir Junsu berkata seperti itu untuk sedikit menghiburnya.  Tapi meskipun sudah yakin dengan perkiraannya, tetap saja Jaejoong bertanya lagi, “Kenapa tidak, hyung?”
            “Memangnya kau tidak merasakannya, Jae?”
            “Eh?” Jaejoong tersentak kaget dan tubuhnya terduduk seketika. Apa yang dimaksud Junsu?
            “Hm… kupikir kau merasakannya juga.”
            “Aku tidak mengerti, hyung. Coba bicara yang jelas, jangan buat aku penasaran,” desak Jaejoong sambil menatap Junsu lekat-lekat.
            Junsu balas menatap Jaejoong dengan pandangan bertanya lalu berkata, “Kau masih ingat insiden sebelum kita berangkat ke Jeju, ‘kan?” Jaejoong mengangguk dan Junsu melanjutkan kalimatnya. “Jika Yunho benar membencimu, apa kau pikir dia akan berbuat sampai sejauh itu? Bukankah dia melakukan itu karena dia ingin melindungimu?”
            Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia kaget juga mendengar penuturan Junsu barusan, itu di luar dugaannya. Jaejoong pikir Junsu hanya akan menjawab dengan ‘Aku yakin Yunho tetap mencintaimu’ atau ‘Rasa cintanya padamu pasti tidak berubah’. Jaejoong tidak mengira Junsu akan menjawabnya dengan analisis seperti itu.
            “Kalau dia ingin melindungimu, itu berarti dia tidak membencimu dan masih mencintaimu, ‘kan?”
            Lagi-lagi Jaejoong hanya diam. Otaknya sibuk memikirkan apa yang dikatakan Junsu. Benarkah itu?
            Sekalipun itu bukanlah kebenarannya, tapi setidaknya itu cukup untuk membuat perasaan Jaejoong lebih baik sekarang. Dadanya terasa hangat dan asanya terhadap Yunho muncul lagi. Memikirkan perasaan Yunho terhadapnya yang masih sama seperti dulu membuatnya hatinya membaik.
            Tidak mendengar sahutan Jaejoong, Junsu menoleh dan melihat Jaejoong yang tengah menatap ke atas sembari sibuk dengna pikirannya sendiri. Meski samar, tapi Junsu bisa melihat ada seulas senyum kecil di wajahnya. Dan sorot mata Jaejoong yang memandang bintang-bintang terlihat lebih hidup.
            Melihat itu, Junsu ikut tersenyum dan berkata dalam hati, ‘Percayalah padaku, Jae. Kalau soal ini, aku bisa menjamin 100%.’
*          *          *
            Jam dinding menunjukkan waktu tengah hari. Suara bel berdering keras di sepanjang koridor sekolah. Beberapa detik kemudian, suara hiruk pikuk siwa-siswa beserta suara derap langkah mereka memenuhi seluruh sudut di salah satu sekolah di Seoul itu. Waktu tengah hari, berarti saatnya jam makan siang.
            “Yo, Yunho~” panggil si guru Biologi bernama Park Yoochun sambil menepuk pundak sahabatnya.
            Namja bermarga Jung itu menengok dan mendapati Yoochun tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum lebar. Setelah berpikir beberapa detik, Yunho mengangguk samar dan menutup buku yang sedari tadi dibacanya. Setelah menghela napas pelan, Yunho bangkit dari tempat duduknya.
            “Iya iya, aku ingat, kok,” ujar Yunho. Tangan kanannya meraba saku belakangnya, memastikan dompetnya masih berada aman disana.
            Yoochun hanya nyengir lebar dan dengan semangat merangkul bahu Yunho dengan semangat, “Enaknya kita makan apa hari ini ya, Yun?” tanyanya sambil berjalan meninggalkan ruang guru.
            “Terserah kau saja. Asal jangan membuat isi dompetku sekarat,” jawab Yunho ketus saja.
            Yoochun tertawa lebar mendengar penuturan sahabatnya itu lalu berkata, “Baiklah, baiklah, aku tahu. Kalau gitu kita makan di kantin saja ya.”
            “Jam segini ‘kan sedang ramai-ramainya, Yoochun-ah.”
            “Tidak apa ‘kan. Jadi kita bisa merasakan lebih dekat dengan murid-murid kita.”
            “Bicaramu itu terdengar berlagak bijak,” tandas Yunho sambil melirik sekilas ke arah Yoochun dan kembali mengundang tawa dari Yoochun.
            Kedua guru muda yang terkenal di kalangan murid-muridnya ini mengobrol ringan sepanjang kaki mereka melangkah menuju ke kantin sekolah. Setibanya di sana, mereka tak terkejut melihat kantin yang ramai oleh anak-anak. Semuanya kemari dengan tujuan yang sama, mengisi perut mereka yang kelaparan.
            “Kau cari tempat, biar aku yang pesan makanan. Oke?”
            Yunho mengangguk menyetujui Yoochun dan tak lupa menambahkan, “Jangan pesan makanan yang tidak-tidak.”
            “Arraseo, arraseo,” ujar Yoochun dan berlalu meninggalkan Yunho yang memandang sekeliling untuk mencari tempat mereka makan berdua.
            Setelah berjalan di antara kerumunan anak didiknya, Yunho menemukan sebuah meja kosong di pojok. Tanpa pikir panjang, Yunho melangkahkan kaiknya kesana dan duduk, sebelum meja itu ditempati orang lain. Duduk di pojok tidak terlalu buruk, bukan? Sebaliknya, justru lebih terasa nyaman karena jauh dari kerumunan. Sambil menunggu Yoochun datang, Yunho mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai sibuk dengan ponsel pintar itu.
            Sementara Yoochun tengah berkutat melewati puluhan manusia di sekelilingnya semabil membawa 2 nampan berisi makan siang mereka sambil terus bersikap ramah pada murid-murid yang berpapasan dan menyapanya. Hei, menjaga image guru yang baik perlu dilakukan dimanapun, ‘kan?
            Setelah mencari dan mengedarkan pandangannya, Yoochun menemukan sosok Yunho yang tengah duduk di bagian pojok. Pria bermata sipit itu tampak sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
            “Yosh,” ujar Yoochun sambil meletakkan kedua nampan di atas meja dan mengambil duduk di depan Yunho.
            Melihat Yunho yang tidak merespon kedatangannya dan masih asyik menatap layar ponsel, Yoochun menyeletuk, “Berhenti memandangi fotonya, Jung.”
            Yunho mendongakkan kepalanya dan menatap Yoochun dengan tatapan datar. Sementara Yoochun yang ditatap dengan tatapan tanpa ekspresi itu mulai merasa risih. Didekatkannya nampan miliknya ke arahnya sambil berkata, “Lupakan ucapanku barusan.”
            Yunho hanya menghela napas. Ponselnya itu kembali dia masukkan ke dalam saku lalu menarik nampan makan siangnya ke dekatnya. Dahinya berkerut samar melihat makan siangnya hari ini yang terlihat cukup… beragam? Ditatapnya Yoochun dengan tatapan tajam yang terlihat sudah mulai menikmati makannya.
            Yoochun yang sedang mengunyah makannya, mengerti arti tatapan Yunho dan berkata, “Itu menu spesial hari ini, Yun. Enak, coba kau makanlah. Tadi aku berhasil dapat diskon dari penjualnya setelah kubujuk dengan susah payah, jadi jangan menatapku begitu.”
            “Harusnya aku tidak menyetujui usulmu waktu itu,” gumam Yunho setelah lagi-lagi menghela napas, dan mulai memakan makananya.
            “Hei, ini ‘kan bayaran yang pantas. Lenganku kena cakar, dan sampai sekarang belum sembuh. Coba lihat,” sahut Yoochun sambil menyingsing lengan kiri kemejanya dan menunjukkan sebuah luka sepanjang 7 cm kepada Yunho.
            Yunho hanya melirik sekilas dan kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, “Luka itu sudah kering, Yoochun, jangan berlebihan.”
            Yoochun memajukan bibirnya kesal, lalu kembali melanjutkan makannya. Suasana kantin masih ramai, dan biasanya baru akan sepi setelah bel masuk berdering. Tapi kedua namja ini tampaknya tak terpengaruh oleh keriuhan kantin, mereka asyik saja menikmati makan siang mereka sambil mengobrol santai. Sesekali mereka mengangguk dan tersenyum ramah ke arah murid-murid yang menyapa mereka.
            “Yunho.”
            “Hm?”
            “Dia tidak mengabarimu sejak kejadian waktu itu?” tanya Yoochun. Suaranya rendah dan penuh kehati-hatian. Ditatapnya Yunho dengan penuh antisipasi, sementara namja itu hanya terdiam dan meletakkan sumpit.
            “Tidak,” jawab Yunho singkat, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
            “Kau sudah coba menghubunginya?”
            “Belum.”
            Yoochun mendesis kesal melihat sahabatnya, “Lalu untuk apa kau sampai melakukan hal seperti itu?” serunya dengan nada tinggi, tapi cukup pelan.
            “Jangan buat aku mengatakannya lagi, Yoochun-ah.”
            “Alasan klise itu?” tandas Yoochun, ditatapnya Yunho lekat-lekat.
            “Eum,” Yunho hanya mengangguk dan masih melanjutkan makan siangnya.
Yoochun mendesah pelan, lalu meneguk air mineralnya, “Sudahlah Yun, lupakan saja dia,” katanya setelah menghabiskan sepertiga air di botolnya.
            “Aku tidak bisa. Meskipun ingin, tetap saja aku tidak bisa.”
            “Kalau begitu lakukan sesuatu, untuk memperjelas semuanya. Bukankah kalau terus seperti ini kesannya seperti dia memberi harapan palsu padamu?” kata Yoochun yang mulai tidak sabar melihat sikap Yunho.
            “Memangnya apa yang bisa aku lakukan?” tanya Yunho dengan nada sarkatis.
            Yoochun menopang dagunya sambil berpikir sejenak, “Kau bisa menulis di surat kabar, bilang kalau kau pacarnya yang sebenarnya dan menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi dari sudut pandangmu.”
Yunho menatap Yoochun dengan pandangan tak percaya. Sahabatnya yang menurutnya cukup jenius itu ternyata bisa memberikan saran paling konyol yang pernah didengarnya seumur hidup.
            “Lupakan saja,” tandas Yunho cepat, lalu meneguk air mineralnya, “Aku bahkan tidak tahu kebenaran apa pun dibalik skandal itu,” lanjutnya.
            “Lalu apa yang harus dilakukan?” keluh Yoochun. Dia ingin sekali membantu sahabatnya, tapi dia sendiri bingung harus memberikan solusi apa.
            “Tidak ada.”
            “Tidak?”
            “Tidak,” ucap Yunho tegas.
            “Kenapa? Apa kau bisa berdiam terus seperti ini, tanpa kejelasan sama sekali?” kata Yoochun. Tubuhnya sedikit condong ke depan dan matanya menatap dalam ke mata Yunho, mencoba mencari sesuatu melalui sorot mata namja itu.
            “Aku percaya padanya, Yoochun-ah. Aku yakin ini semua hanya butuh waktu,” jawab Yunho. Suaranya terdengar tenang, tapi sebenarnya pikiran Yunho sangat kalut.
            Yoochun menyerah. Dia tidak bisa lagi membujuk Yunho untuk melupakan penyanyi itu, Kim Jaejoong. Yunho sangat yakin dengan sikapnya, Yoochun bisa merasakan ketaguhan hati sahabat sekaligus rekan seprofesinya itu. Walaupun pahit, tapi Yunho tetap menelannya dengan tanpa melupakan segala akibat dan risiko.
            Yoochun mendesah pelan sembari membenarkan posisi duduknya, “Terserah kau saja, Yun.”
Yunho hanya meresponnya dengan sebuah senyum kecil, senyum yang seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tapi sebaliknya, di mata Yoochun senyum itu hanya memperlihatkan kepedihan dan kesepian.
            “Aku tahu kau yang paling tahu apa yang harus kau lakukan dan tidak kau lakukan, tapi bisakah kau berhenti menatap fotonya di ponselmu, Yun?” ujar Yoochun, membuat Yunho menautkan kedua alisnya, “Kau terlihat menyedihkan dan itu sangat menggangguku,” tambah Yoochun.
            Mendengar itu, Yunho malah menundukkan kepalanya sambil tertawa kecil, membuat Yoochun menatap heran ke arahnya. Setelah tawanya mereda, Yunho menatap Yoochun dengan sebuah senyum lebar sembari berkata, “Gomawo, Yoochun-ah.”
            “Eh? Kenapa malah berterima kasih?” tanya Yoochun dengan raut muka bingung sekaligus heran.
Yunho hanya tersenyum simpul sebagai jawaban, lalu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kantin.
            “Hei tunggu! Jangan tinggalkan aku begitu saja, Jung Yunho,” seru Yoochun melihat Yunho yang tiba-tiba meninggalkannya, sambil buru-buru berdiri dan menyusul Yunho.
            ‘Terima kasih, Yoochun-ah. Aku tidak menyangka kau sangat baik mau memperhatikan dan peduli padaku,’ batin Yunho sembari sedikit menoleh ke belakang, menatap Yoochun yang tengah berlari kecil menyusulnya melalui ekor matanya.
*          *          *
            Kim Jaejoong melangkahkan kakinya menyusuri koridor kantor agensinya. Setelah kembali dari Jeju, ada beberapa hal yang harus diurusnya mengenai kontrak dan jadwal aktivitasnya, membuat Jaejong harus datang kemari meskipun sebenarnya dia enggan untuk datang. Junsu membantu mengurusnya, tentu saja karena itu memang pekerjaannya, tapi namja berwajah cukup imut itu langsung pergi begitu urusan selesai. Katanya dia harus menyiapkan beberapa pakaian untuk Jaejoong. Maka, tinggallah Jaejoong yang harus pulang sendiri.
            Jaejoong melirik jam tangannya sembari menunggu pintu lift di depannya terbuka. Jam 5 sore. Masih ada waktu untuknya membuat makan malam. Dan saat Jaejoong memikirkan apa yang akan dimakannya malam ini, pintu lift terbuka. Jaejoong segera masuk dan menekan tombol yang ada di samping pintu lift. Pintu lift menutup beberapa detik kemudian.
            “Jaejoong hyung,” panggil seseorang yang juga berada di lift yang sama dengan Jaejoong.
            Jaejoong menengok ke belakang dan menemukan sosok tinggi yang berdiri di pojok lift sedang tersenyum ke arahnya, “Annyeong, hyung.”
            “Changmin-ah~ Kau di sini? Aku tidak menyadarinya, hahaha,” kata Jaejoong, diakhiri dengan tawa pelan, menertawai dan juga heran dengan dirinya sendiri yang tidak menyadari kehadiran Shim Changmin, hoobae sekaligus dongsaengnya.
            “Hyung sibuk melamun sih,” ujar Changmin.
            Jaejoong mundur beberapa langkah, menyejajarkan dirinya dengan Changmin, kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding lift, “Aku bukannya melamun, aku sedang memikirkan makan malam hari ini,” kilah Jaejoong sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
            “Hm, kukira hyung melamun,” kata Changmin.
            Jaejoong hanya tersenyum dan berkata, “Kita bertemu lagi di lift ya? Dulu juga pernah ada kejadian seperti ini ‘kan?”
            “Iya, hyung. Mungkin itu artinya kita dijodohkan untuk bertemu di lift,” sahut Changmin, mengundang tawa kecil dari Jaejoong, “Ngomong-ngomong, kapan hyung kembali ke Seoul? Kudengar hyung sedang di Jeju,” tambanya.
            “Kemarin sore, Changmin-ah. Dan karena ada yang harus kuurus jadinya aku kemari,” jawab Jaejoong sambil menatap Changmin di samping kirinya, “Kau habis latihan?”
            “Tidak, hyung, laptopku kemarin tertinggal di sini, jadi aku kemari untuk mengambilnya.”
            “Eeyy, kau masih saja ceroboh, Changmin-ah.”
            Mendengar itu Changmin hanya tertawa pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka, sampai pintu lift terbuka di lanati paling bawah.
            “Kau bawa mobil, Changmin?” tanya Jaejoong setelah mereka berdua keluar dari lift, “Kalau tidak, biar kuantar. Aku bawa mobil kemari.”
            “Tidak usah repot-repot, hyung, aku bawa mobil kok,” tolak Changmin dengan halus.
            Jaejoong hanya mengangguk samar. Kedua namja ini kemudian berjalan bersama menuju basement. Lagi-lagi tidak ada percakapan di antara keduanya.
            Baru setelah keduanya sampai di dalam basement, tiba-tiba Jaejoong menghentikan langkahnya dan berkata, “Setelah ini kau ada kegiatan atau tidak, Changmin-ah?”
            Changmin tampak berpikir sejenak lalu menjawab, “Tidak ada, hyung.”
            “Kalau begitu, mau pergi minum bersamaku?”
            “Eh?” Changmin sedikit kaget mendengar ajakan Jaejoong yang tiba-tiba, apalagi ini adalah ajakan minum bersama setelah beberapa tahun. Terakhir kali mereka melakukannya adalah tepat sebelum Changmin melakukan debutnya.
            “Aku sedang ingin minum, tapi Junsu hyung sedang sibuk dan aku tidak mau minum sendiri.”
            Changmin terdiam sebentar sebelum kemudian mengiyakan ajakan Jaejoong, “Baiklah, hyung,” sahutnya.
            “Ah kau baik sekali, Changmin-ah. Gomawo,” kata Jaejoong senang sembari tersenyum lebar.
            “Tapi kau yang traktir ya, hyung,” tandas Changmin cepat, membuat Jaejoong mngerucutkan bibirnya. Namja ini tidak berubah, selalu saja minta ditraktir olehnya.
            “Iya, iya. Dasar kau ini~”

*          *          *
-to be continued-

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!