1 November 2013

SKANDAL - Chapter 2

SKANDAL
Chapter 2

-xxx-

Suasana apartemen Yunho malam ini sepi. Tak ada suara lain selain suara televisi. Namja pemilik apartemen ini pun hanya duduk di atas karpet berwarna coklat muda yang ada di ruang tengah dan sibuk dengan laptopnya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard dan matanya menatap lurus ke arah layar laptop. Sesekali Yunho menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menyesap segelas kopi yang ada tak jauh dari laptopnya.
            “Apa Jaejoong benar-benar tidak mengatakan sesuatu padamu tentang ini?” tiba-tiba kata-kata Yoochun pagi tadi melintas di benak namja bermarga Jung ini. Seketika jemarinya berhenti bergerak dan matanya hanya menatap kosong.
            “Skandal. Kim Jaejoong terlibat skandal dengan aktris Wang Jihye. Kau benar-benar tidak tahu?” Yunho terdiam dan memikirkan kata-kata Yoochun pagi tadi.
            Jaejoong terlibat skandal? Yunho sama sekali tidak mendengar berita tentang skandal ini sebelumnya, sampai Yoochun mengatakannya pagi tadi. Jaejoong juga tidak mengatakan apa pun padanya. Bahkan penyanyi top Korea itu sulit untuk dihubungi beberapa hari ini.
            Dahi Yunho berkerut begitu mata sipitnya menangkap majalah yang tergeletak begitu saja di atas meja. Majalah dengan cover Kim Jaejoong dan aktris Wang Jihye. Majalah yang tadi pagi Yoochun tunjukkan padanya. Majalah nista yang Yunho letakkan sembarangan saat dia mengeluarkan laptopnya dari ransel.
            Yunho sama sekali belum membuka majalah itu. Entah karena alasan apa, tapi Yunho memilih untuk tidak menyentuh majalah itu. Itu yang ada di pikirannya tadi pagi, namun sekarang berbeda. Yunho berubah pikiran dan dia ingin membaca berita tentang skandal kekasihnya. Terlalu banyak pertanyaan yang berkelebat di otaknya, membuat tangan Yunho bergerak meraih majalah itu.
            Diperhatikannya lekat-lekat sampul majalah itu. Setelah menarik napas dalam, Yunho mulai membuka majalah itu. Tak butuh waktu lama bagi Yunho untuk menemukan berita yang dia cari, karena toh berita skandal Kim Jaejoong ada di halaman pertama majalah itu.
‘Kim Jaejoong dan Wang Jihye Tertangkap Kamera Sedang Berpegangan Tangan’
            Yunho mengerutkan alisnya membaca headline berita itu. Bola matanya bergerak menelusuri tiap kata yang menjadi berita terhangat saat ini.
‘Kim Jaejoong, penyanyi papan atas Korea, tertangkap basah sedang berpegangan tangan dengan Wang Jihye di sebuah jalan di Apgujung, Sabtu malam lalu. Keduanya berjalan bersama menyusuri jalanan Apgujung. Meski mereka berdua memakai topi dan masker, tapi mata para fans setia Kim Jaejoong tidak pernah salah mengenali idola mereka,’
            Yunho mengamati sebuah foto yang menampilkan sosok seorang namja dan yeoja sedang berpegangan tangan. Foto tersebut agak buram, sehingga wajah namja dan yeoja yang mengenakan masker dan topi itu tidak terlalu jelas. Lama Yunho memperhatikan foto itu. Awalnya dia tidak percaya dengan kebenaran foto itu sebagai foto Kim Jaejoong dan Wang Jihye, namun ketidakpercayaannya sirna begitu dia mengenali sepatu yang dikenakan oleh namja dalam foto tersebut. Sepatu sneakers dengan kombinasi warna hitam-coklat itu milik Jaejoong. Yunho ingat benar ketika Jaejoong memamerkan sepatu itu kepadanya beberapa waktu lalu. Itu sepatu yang Jaejoong beli ketika dia tour ke Jepang.
            ‘Benarkah?’ tanya Yunho dalam hati sembari menghela napas berat.
‘Diduga kedua selebriti yang berada dalam agensi yang sama ini tengah menjalin suatu hubungan istimewa. Apakah mereka sedang berkencan?’
            Yunho mengatupkan rahangnya kuat-kuat tiap membaca kalimat demi kalimat yang ada di berita itu. Dia masih bisa menahan kekesalannya saat membaca berita itu sampai kalimat terakhir. Namun tidak setelah Yunho melihat sebuah foto di sudut halaman itu. Foto yang menampakkan seorang namja dan yeoja tengah berciuman di dalam mobil. Meski buram karena gelapnya kaca mobil, namun siluet mereka masih bisa dikenali. Refleks Yunho melempar majalah yang sudah agak kusut karena sedari tadi dia menggenggamnya dengan kuat selagi dia membaca beritanya.
            Emosi Yunho yang sudah dia tahan seharian ini sekarang meluap. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja dengan kasar. Ditekannya keypad ponselnya dengan cepat, sebelum kemudian menempelkan ponselnya ke telinga kanannya. Dia butuh penjelasan dari Jaejoong sekarang.
            15 detik berlalu, Jaejoong tak kunjung mengangkat panggilannya. Sampai akhirnya Yunho menyerah dan mengumpat kesal ketika operator telepon yang menyahut panggilannya. Dia melemparkan ponselnya ke atas sofa dengan kasar.
            “Argh!” erang Yunho sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
            Napas Yunho pendek-pendek dan jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengacak rambutnya frustasi. Yunho menengadahkan kepalanya dan memejamkan matanya, sembari berusaha menenangkan dirinya. Yunho mencoba menarik napas panjang beberapa kali untuk meredam emosinya.
            “Kenapa, Jae? Kenapa seperti ini?” bisik Yunho.
            Ingatannya membawa Yunho kembali mengingat saat terakhir kali dia bertemu Jaejoong sebelum skandal ini mencuat. Saat itu Jaejoong tampak murung, tak seperti biasa. Tapi saat itu Yunho tak ambil pusing, karena dia pikir kekasihnya itu hanya sedang lelah.
            “Apa kau lelah bersamaku?”
            “Yunho-ya, kau percaya padaku ‘kan?”
            Pertanyaan yang Jaejoong lontarkan saat itu terngiang di benak Yunho. Yunho menegakkan tubuhnya dan irisnya menatap lurus ke depan. Perlahan semuanya terasa jelas. Memang ada sesuatu yang Jaejoong sembunyikan saat itu, tapi Jaejoong tidak mau mengakuinya ketika dia tanya tentang hal itu. Dan Yunho yakin yang disembunyikan Jaejoong pasti berkaitan dengan skandal ini.
            Mata Yunho mendadak terpaku pada layar televisi yang tengah menampilkan sebuah iklan tentang wisata Korea.
            “Apa yang terjadi, Jae?” tanya Yunho dengan suara lirih saat melihat bintang utama iklan itu adalah kekasihnya, Kim Jaejoong.
            Senyum Jaejoong di iklan tersebut membuat namja bermarga Kim itu terlihat sangat manis meski tubuhnya dibalut dalam tuksedo hitam. Yunho tersenyum pahit melihat kekasihnya.
            ‘Aku percaya. Aku percaya padamu, Jaejoong-ah,’ ucap Yunho dalam hati, berusaha menguatkan dirinya.
*          *          *
            “Kim Jaejoong-sshi, apa pendapatmu mengenai skandal ini?”
            “Apa itu benar?”
            “Sejak kapan kalian berhubungan dekat?”
            “Apakah kedekatan kalian untuk mendongkrak popularitas?”
            “Kim Jaejoong-sshi, Kim Jaejoong-sshi~”
            Kilat blitz dari kamera wartawan membuat seorang namja yang notabene adalah penyanyi ini menundukkan kepalanya. Penyanyi yang sedang gencar diberitakan akibat kasus skandalnya dengan seorang aktris ini berjalan menuju mobil van-nya dengan susah payah, karena banyaknya wartawan yang ingin menanyakan tentang skandal itu padanya. Meski beberapa orang bertubuh besar yang menjadi bodyguard-nya berusaha menghalangi para wartawan, namun usaha itu tidak berhasil sepenuhnya. Wartawan terus saja mengejar Kim Jaejoong, mengarahkan kamera padanya dan melontarkan ribuan pertanyaan, membuat suasana menjadi riuh.
            Sebenarnya Jaejoong sudah tahu kalau jadinya akan seperti ini. Dia pasti akan terus diserbu wartawan dimana pun dia berada, termasuk saat ini, ketika dia keluar dari salah satu gedung stasiun TV ternama di Korea Selatan. Namun tak ada yang bisa dilakukannya saat ini, selain diam dan tidak mengatakan hal apa pun tentang skandal ini pada wartawan dan media massa. Dengan kacamata hitam yang setia bertengger di hidungnya dan pengawalan ketat para bodyguard, Jaejoong berusaha menerobos kerumunan wartawan yang kian nekat.
            Namja bersuara tinggi bak lumba-lumba yang menjadi manajernya, Kim Junsu, segera membukakan pintu mobil begitu mereka berhasil sampai di dekat mobil yang sebenarnya sudah menunggu mereka sejak 15 menit lalu. Karena banyaknya wartawan, maka mereka yang seharusnya hanya butuh waktu tak sampai 5 menit untuk berjalan ke mobil, malah membutuhkan waktu sampai 15 menit untuk berjalan beberapa meter ke depan.
            Jaejoong segera menundukkan tubuhnya sedikit dan masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Junsu. Kemudian dengan cepat Junsu menutup pintu mobil. Para bodyguard pun bertindak cepat dengan memblokir area sekitar mobil, dan mobil van hitam itu pun mulai melaju meninggalkan wartawan yang tak putus asa untuk mengejar berita.
            Begitu mobil berjalan cukup jauh dari gedung stasiun TV itu, Jaejoong segera melepas topi dan kacamata hitamnya, kemudian berdecak kesal. Dia tidak suka dikejar-kejar wartawan seperti tadi, terlebih alasan para wartawan itu mengejar adalah skandalnya, bukannya karena prestasi di bidang musik yang mungkin bisa dibanggakannya.
            “Ini,” ujar Junsu sembari menyodorkan sebotol air mineral untuk Jaejoong. Tangan Jaejoong terulur untuk menerimanya dan kemudian dia mulai menegak isinya.
            “Aku tidak suka dikejar-kejar wartawan seperti itu, hyung,” keluh Jaejoong. Botol air mineral yang isinya tinggal setengah dia letakkan begitu saja di bawah jok mobil.
            “Aku tahu, Jaejoong-ah,” sahut Junsu. Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel layar sentuhnya. Jemarinya mulai bergerak lincah di atas layar ponselnya.
            “Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu, hyung? Konferensi pers atau apa lah. Supaya para wartawan itu berhenti mengejarku.”
            Junsu menghentikan jemarinya dan terdiam sejenak. Dia tolehkan kepalanya ke samping dan menatap Jaejoong. “Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu, Jaejoong-ah.”
            Jaejoong balas menatap Junsu dengan tatapan tajam. Diraihnya sebuah majalah yang tergeletak di jok belakang mobil, dan dengan kasar dia banting majalah itu hingga jatuh tepat di depan kaki Junsu. “Aku sudah lelah dengan ini semua, hyung!” erang Jaejoong sambil memasang ekspresi jengah.
            Junsu menatap majalah dengan cover Kim Jaejoong dan Wang Jihye itu. Dia mendesah pelan, kemudian meraih majalah itu dan kembali meletakkannya di jok belakang. “Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, Jaejoong-ah. Kau tahu ‘kan, Presdir Baek yang menyuruh kita melakukan ini?” kata Junsu pelan sebelum kemudian kembali sibuk berkutat dengan ponselnya.
            “Si tua sialan itu,” desis Jaejoong sembari membuang mukanya dan menatap keluar jendela mobil.
            “Jaejoong, jaga ucapanmu,” hardik Junsu tepat setelah Jaejoong melampiaskan kekesalannya dengan mengumpat Presdir Baek, CEO dari agensi ternama tempat Jaejoong bernaung.
            Jaejoong hanya berdecak kesal, mengabaikan peringatan Junsu tadi. Dia benar-benar sudah muak dengan semua ini, dengan semua hal yang berkaitan dengan skandal, yang memang hanya rekayasa belaka. Meski begitu, tak ada yang bisa Jaejoong dan Junsu perbuat saat ini.
            Skandal ini hanyalah sebuah skenario picisan yang dikarang oleh Presdir Baek. Dengan alasan untuk mendongkrak penjualan album, Presdir Baek yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu memaksa Kim Jaejoong untuk melakukan drama klise yang mudah ditebak. Awalnya Jaejoong ingin menolaknya. Dia tidak ingin membuat imej-nya runtuh dan mengecewakan fans yang sangat dicintainya. Namun ganjaran yang akan dia terima bila tidak mematuhi keinginan Presdir Baek terlalu besar, tidak setimpal dengan apa yang sudah Jaejoong perbuat demi agensinya ini.
            “Lakukan itu, Kim Jaejoong. Bila tidak, aku tidak akan segan untuk memutuskan kontrak denganmu dan membuat karir yang telah kau bangun selama ini hancur dalam sekejap,” kata-kata Presdir Baek terus saja terngiang di telinga Jaejoong, membuat namja bermarga Kim ini hanya bisa diam sembari menggertakan gigi, berusaha menahan amarah.
            Jaejoong tahu benar dimana dan bagaimana posisinya sekarang. Terdesak dan tersudut. Kontrak yang ditandatanganinya beberapa tahun lalu pun masih jelas dalam ingatan Jaejoong. Tak ada yang bisa Jaejoong perbuat meski agensinya itu memutuskan kontrak tiba-tiba, dia hanya bisa menerimanya. Keseluruhan isi kontrak mungkin bisa dibilang sebagian besar hanya menguntungkan pihak agensinya. Hanya saja Jaejoong tidak memikirkan apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan bisa menjadi buruk, saat dia menerima kontrak itu. Ambisi dan keinginan untuk menjadi penyanyi dan melakukan debut membuatnya dengan mudah mengambil keputusan pada saat itu.
            Sekarang nasi telah menjadi bubur. Tak ada yang bisa Jaejoong lakukan selain menjadi artis yang harus terus terkenal untuk menghasilkan pundi-pundi uang bagi agensinya.
            “Malam ini istirahatlah, Jaejoong-ah. Mungkin syuting iklan besok memakan banyak waktu dan energi,” ujar Junsu. Kini tangannya beralih dari ponsel dan sedang membolak-balik halaman di notes yang sering dia gunakan untuk mencatat jadwal Jaejoong.
            “Besok mau kujemput di rumah atau di kantor? Atau kau mau berangkat sendiri?” tanya Junsu, sembari mulai sibuk menggoreskan tinta di notes bersampul biru tua itu.
            “Jemput di rumah saja, hyung,” jawab Jaejoong lirih. Tubuhnya bergerak mencari posisi duduk yang nyaman, kemudian dia sandarkan kepalanya dan kedua matanya mulai terpejam.
            “Baiklah, kalau begitu akan kujemput jam 7. Jangan bangun kesiangan, ne?”
            Jaejoong tidak menyahut. Dia sibuk menenangkan pikirannya yang terasa penat. Mendadak wajah kekasihnya muncul dalam pikirannya. Jaejoong sangat merindukan Jung Yunho, kekasihnya yang sudah 3 hari ini tidak dia temui.
            Bukan karena Jaejoong sibuk sehingga dia tidak bisa bertemu dengan Yunho, melainkan perannya dalam skenario karya Presdir Baek membuatnya tidak bisa bertemu dengan namja bermata sipit itu. Jaejoong harus memutuskan komunikasi dengan Yunho untuk beberapa waktu, entah berapa lama. Mungkin setidaknya sampai skenario ini tamat dan semuanya kembali seperti semula. Saat tak ada lagi wartawan yang sibuk mengejarnya, saat penjualan albumnya tak lagi mengusik Presdir Baek.
            Jaejoong membuka matanya dan menatap keluar jendela. Cuaca hari ini cukup cerah meski sedikit berawan. Jalanan kota Seoul pun tampak ramai seperti biasa. Memikirkan Yunho membuat Jaejoong menghela napas berat. Beberapa hari ini Jaejoong berusaha keras mengabaikan pesan dan panggilan dari Yunho, meski itu berarti melawan keinginan hatinya.
            Tidak memberitahukan tentang skandal ini sebelumnya pada Yunho membuat Jaejoong merasa bersalah dan menyesal. Seharusnya dia memberitahukan dahulu mengenai skandal ini sebelum Yunho mendengarnya dari televisi atau media massa lain. Seharusnya dia bisa menjelaskan realita dibalik semua ini pada Yunho dan memberi pengertian padanya. Tapi itu semua tak bisa terwujud. Alasannya pun hanya satu, karena Presdir Baek.
            Presdir Baek yang mengekangnya melakukan banyak hal. Presdir Baek yang mengarang semua berita bohong itu. Presdir Baek yang sudah bertindak berlebihan hanya demi uang. Namun Presdir Baek juga lah yang telah membuat seorang Kim Jaejoong berhasil melakukan debut hingaa setenar sekarang. Entah Jaejoong harus berterima kasih pada orang itu atau harus menyalahkan orang itu, Jaejoong tidak tahu.
            Yang dia tahu sekarang hanya satu. Dirinya, Kim Jaejoong, hanya mencintai Jung Yunho.
*          *          *
            “Aku mau pulang, hyung, aku lelah. Tolong antarkan aku pulang,” ucap Jaejoong dengan nada malas tanpa menatap Junsu sama sekali.
            “Aku akan mengantarmu pulang, tapi kita mampir dulu ke kantor, ne?” sahut Junsu.
            Alis Jaejoong berkerut ketika mendengar jawaban dari manajernya. “Ada perlu apa? Aku malas kesana,” ujar Jaejoong ketus.
            “Aku ada urusan sebentar disana.”
            “Kalau begitu aku tunggu di mobil saja.”
            “Mungkin aku akan lama, Jae-ah. Bagaimana kalau kau ke studio saja sembari menungguku? Setidaknya agar kau tidak bosan,” kata Junsu sembari sibuk merapikan benda-benda yang berserakan di dalam mobil.
            Jaejoong terdiam, tampak berpikir sejenak. “Kalau begitu aku pulang sendiri saja.”
            “Jangan!” tandas Junsu cepat, membuat Jaejoong menatapnya heran, “Bagaimana kalau wartawan sedang menunggu di apartemenmu? Kau akan sulit mengelak kalau sendirian.”
            “Tapi aku lelah, hyung,” ujar Jaejoong, kemudian memalingkan wajahnya kesal.
            “Sebentar saja, oke?”
            Jaejoong menghela napas pelan, “Um, ya, baiklah,” ujarnya menyerah.
            Beberapa menit kemudian, van hitam Jaejoong berhenti di depan lobi kantor agensinya. Jaejoong segera mengenakan topi beserta kacamata hitamnya, kemudian keluar dari mobil. Dengan langkah cepat dan panjang, Jaejoong masuk ke dalam gedung berlantai 5 ini, sementara unsu mengekornya di belakang.
            “Tunggu aku di studio saja, nanti aku akan menyusul kesana,” kata Junsu sambil menyejajari langkah Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk, matanya beredar ke seluruh ruangan, mencoba mengantisipasi siapa tahu ada wartawan disini.
            “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” lanjut Junsu, lalu berjalan ke arah berlawanan dengan Jaejoong. Jaejoong menghentikan langkahnya sejenak dan menatap punggung Junsu yang pergi menjauh.
            Jaejoong berdecak pelan, kemudian melanjutkan langkahnya, sembari merapikan rambutnya yang dirasa agak berantakan. Kaki jenjangnya membawa namja kelahiran 16 Februari ini menuju ke sebuah lift. Jemarinya bergerak menekan tombol yang ada di samping lift begitu dia sampai di depan pintu lift yang masih tertutup.
            Pintu lift terbuka beberapa detik kemudian dan Jaejoong segera masuk. Jarinya menekan sebuah tombol di dalam lift. Lift mulai bergerak ke atas begitu pintunya tertutup. Jaejoong sibuk dengan pikirannya sembari menunggu lift ini mengantarnya ke lantai 3.
‘Ting!’
            Pintu lift kembali terbuka di lantai 2. Jaejoong yang sedari tadi menekuri lantai, mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke depan.
            “Jaejoong hyung,” sebuah suara menyapa Jaejoong, menerbitkan sebuah senyum di wajah Jaejoong.
            “Oh, Changmin-ah, kau disini?” tanya Jaejoong. Dia menggeser tubuhnya sedikit, memberikan tempat untuk namja tinggi yang baru saja masuk ke dalam lift itu.
            Namja yang dipanggil Changmin itu berdiri di samping Jaejoong. “Ne, hyung, aku ada jadwal latihan hari ini,” jawabnya.
            “Oh begitu,” gumam Jaejoong sembari mengangguk samar.
            “Hyung ada perlu disini? Belakangan ini aku jarang melihat hyung disini.”
            “Manajerku ada kepentingan disini, jadi mampir dulu kemari,” sahut Jaejoong, matanya menatap Changmin sekilas. “Daripada bosan menunggu di dalam mobil, aku jalan-jalan saja ke studio.”
            “Eum,” gumam namja bernama lengkap Shim Changmin.
            Kedua namja ini saling terdiam, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka, membuat suasana hening yang canggung memenuhi lift.
            “Oh ya, hyung,” panggil Changmin.
            Jaejoong menoleh menatap Changmin, “Hm?”
            “Soal berita skandalmu itu…” Changmin menggantung kalimatnya, lalu menatap Jaejoong ragu. “Itu tidak benar ‘kan?” tanyanya dengan nada pelan.
            Jaejoong tersenyum ketir. Matanya kembali menatap lurus ke depan. “Kalau menurutmu begitu, Changmin-ah,” sahutnya lirih.
            Changmin menghela napas pelan, merasa bodoh karena telah menanyakan hal sensitif itu langsung pada Jaejoong, hyung sekaligus sunbae-nya. “Mianhe, hyung,” ujar Changmin.
            “Untuk apa? Kau tidak perlu minta maaf, memang seperti ini adanya,” tandas Jaejoong. Tangannya menepuk pundak Changmin pelan. “Aku baik-baik saja.”
            Changmin kembali menatap Jaejoong. Di mata Changmin, Jaejoong yang sekarang berbeda dengan Jaejoong yang dulu. Meski baru setahun terakhir ini kenal dengan Jaejoong, namun hubungan keduanya cukup dekat. Dulu Jaejoong sering membantunya berlatih sebelum memulai debut. Dan setelah Changmin mulai debut, Jaejoonglah orang yang sangat mendukungnya. Kedekatan mereka itulah yang membuat Changmin cukup mengenal Jaejoong.
            Menurutnya, sekarang Jaejoong terlihat lebih murung, tak seperti biasanya. Meski Jaejoong tetap ramah dan selalu tersenyum tiap kali menyapanya, Changmin merasa kalau Jaejoong tak jujur dengan dirinya sendiri.
            “Kudengar single Jepang-mu berhasil masuk Oricon, Changmin-ah,” kata Jaejoong, berusaha merubah suasana dan pembicaraan yang sempat canggung.
            “Ne, hyung,” sahut Changmin.
            “Chukkae, ne,” ujar Jaejoong, kemudian menatap Changmin dengan senyuman lebar di wajahnya. Changmin balas tersenyum pada Jaejoong.
            “Gomawo, hyung.”
‘Ting!’
            Pintu lift terbuka saat lift sampai di lantai 3. Jaejoong menatap keluar sekilas, kemudian menatap Changmin lagi.
            “Aku pamit dulu, Changmin-ah. Aku mau mampir ke studio dulu,” ucap Jaejoong.
            “Ne, sampai jumpa, hyung,” ujar Changmin. Jaejoong tersenyum, kakinya lalu melangkah keluar dari lift.
            Jaejoong melambaikan tangannya sekilas, tepat sebelum pintu lift tertutup. Dia terdiam sesaat dan menghela napas berat. Kakinya yang baru melangkah beberapa meter dari lift terhenti ketika seorang yeoja menyapanya.
            “Oppa,” panggil yeoja yang berdiri beberapa langkah di depan Jaejoong. Jaejoong terkesiap kaget begitu melihat sosok yang menyapanya barusan.
            “Jihye-sshi,” sahut Jaejoong. Yeoja di hadapannya yang ternyata adalah Wang Jihye tersenyum pada Jaejoong. “Kebetulan sekali bertemu disini,” lanjut Jaejoong sembari tersenyum samar.
            “Benar, kebetulan sekali,” kata yeoja berambut pendek sebahu itu. “Eum, oppa, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Apa oppa ada waktu sekarang?”
*          *          *
            Kim Jaejoong mengedarkan matanya ke sekeliling. Saat ini dia sedang berada di kafetaria yang ada di gedung agensinya, bersama seorang yeoja yang juga sedang hangat menjadi perbincangan masyarakat. Tangan Jaejoong bergerak meraih secangkir cappuccino hangat yang ada di meja di hadapannya dan menyesapnya.
            “Apa yang ingin kau bicarakan, Jihye-sshi?” tanya Jaejoong setelah meletakkan cangkirnya kembali, dan menatap lurus ke arah yeoja bernama Wang Jihye itu.
            “Eum, ini tentang berita skandal kita, oppa,” jawab Jihye pelan. Jaejoong terdiam beberapa saat, kemudian mengalihkan pandangannya ke samping.
            Jihye menatap Jaejoong ragu, kemudian melanjutkan kalimatnya. “Apa perlu sampai sejauh ini?”
            Jaejoong kembali menatap Jihye. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisir emosinya sekarang. “Aku juga tidak tahu, Jihye-sshi. Kurasa kita memang harus tetap seperti ini sampai Presdir Baek memberi instruksi lain,” jawab Jaejoong.
            “Begitu,” desis Jihye pelan, dengan nada kecewa. Mata besarnya menekuri lantai sembari terdiam, membuat suasana menjadi sunyi.
            “Mianhe, Jihye-sshi,” ujar Jaejoong tanpa melepas tatapannya dari Jihye
            Jihye mendongakkan kepalanya dan menatap Jaejoong. Tatapan Jaejoong begitu dalam, seolah berusaha menyampaikan seluruh perasaannya sekarang lewat tatapannya.
            “Gara-gara aku, image-mu jadi kurang baik di masyarakat. Padahal kau baru saja mendapat penghargaan pertama sejak kau debut 2 tahun lalu,” lanjut Jaejoong dengan suara lirih. Dia benar-benar merasa tidak enak hati dengan Jihye yang harus terlibat juga dalam masalahnya. “Mianhe, jeongmal mianhe,” imbuh Jaejoong.
            “Ani, gwaenchana, oppa,” sahut Jihye, sambil tersenyum pada Jaejoong. “Kalau ini yang bisa kulakukan untuk membantu oppa, maka akan kulakukan.”
            Jaejoong berusaha tersenyum sembari menatap Jihye, meski senyum di wajahnya terasa begitu pahit.
            “Oppa, hwaiting~!” kata Jihye sambil mengepalkan tangannya, senyum masih setia menghiasi wajahnya yang cantik. Jaejoong tertawa pelan melihat tingkah Jihye, lalu ikut mengepalkan tangannya ke udara.
            “Hwaiting~!” seru Jaejoong. Keduanya kemudian tertawa bersama.
            “Ah, kalau begitu, sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kutraktir makan malam, Jihye-sshi?” ujar Jaejoong kemudian.
            “Jinjjayo, oppa?” kata Jihye, kaget dengan tawaran Jaejoong.
            Mereka jarang sekali pergi bersama, kecuali saat melaksanakan ‘skenario’ Presdir Baek. Biasanya mereka akan pergi ke luar bersama hanya untuk berita skandal mereka, bukan untuk alasan pertemanan seperti sekarang.
            Jaejoong mengangguk pelan. “Apa malam ini kau ada waktu?” tanya Jaejoong.
            “Kurasa malam ini aku tidak ada jadwal,” jawab Jihye dengan riang. Sudah lama dia ingin pergi ke luar bersama Jaejoong, bukan demi skandal mereka, tapi sebagai teman yang menghabiskan waktu bersama.
            “Bagaimana kalau kuundang kau ke rumahku. Nanti akan kutunjukkan betapa enaknya masakanku.”

            “Bolehkah, oppa?”
            “Tentu saja. Nanti akan kujemput, bagaimana?” ujar Jaejoong lagi.
            “Baiklah. Jeongmal gomawo, oppa,” sahut Jihye sembari tersenyum lebar.
            Jaejoong balas tersenyum ke arah Jihye. Tidak ada salahnya juga menghabiskan waktu bersama Wang Jihye, daripada dia sendirian di rumah yang sepi. Setidaknya, mungkin ini bisa membuatnya sedikit melupakan Jung Yunho.
*          *          *
            Seorang namja bermarga Jung bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Berkali-kali dia berusaha mencari posisi yang nyaman untuk tidur, namun tampaknya namja bernama lengkap Jung Yunho ini tak kunjung terlelap. Pikirannya terus melayang pada Kim Jaejoong dan juga skandal yang tengah menimpa kekasihnya itu, membuat kedua matanya masih tetap terjaga.
            “Aish~” desis Yunho kesal, sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Mata bak musangnya menatap langit-langit kamarnya sementara bayangan Kim Jaejoong terus berkelebat dalam pikirannya.
            Kedua bola matanya kemudian menatap jam dinding. Meski kamarnya gelap tanpa penerangan lampu, namun sinar bulan yang masuk lewat jendela kamarnya yang cukup lebar, cukup bagi Yunho untuk melihat sekeliling kamarnya dalam keremangan. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi Yunho, dia tidak pernah menutup jendelanya dengan korden pada waktu malam.
            ‘Hampir jam 11,’ batin Yunho. Namja ini kemudian terdiam beberapa saat, tampak sedang memikirkan sesuatu.
            Selang semenit kemudian, Yunho segera bangkit dari tempat tidur. Tangannya dengan cepat meraih meraih kaus putih dan celana hitam panjang yang tersampir di kursi dekat meja kerjanya, lalu mengenakannnya dengan cepat. Lalu, disambarnya jaket yang tergantung di dekat pintu. Tak lupa, diambilnya kunci mobil dan ponsel yang tergeletak di meja kerjanya.
            Yunho melangkah keluar dari kamarnya sembari mengenakan jaketnya. Ponselnya sudah dia masukkan ke saku celananya dan kunci mobil masih tergengggam erat di kepalan tangan kanannya.
            ‘Aku harus memastikannya sendiri,’ batin Yunho sambil mempercepat langkahnya keluar dari apartemen dan menuju ke mobilnya.
*          *          *
            Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari sebuah rumah yang dari luar tampak cukup mewah. Yunho, yang mengemudikan mobil itu, melepas sabuk pengamannya setelah sebelumnya mematikan mesin mobil, sambil mengamati rumah itu lekat-lekat. Tangannya merogoh sakunya dan mengambil ponsel.
            Beberapa kali irisnya menatap ponsel dalam genggamannya dan rumah yang sedang dia amati bergantian. Yunho menghela napas pelan, kemudian jemarinya mulai bergerak lincah di atas ponselnya. Ditempelkannya ponsel yang sudah dia pakai 2 tahun belakangan ini ke telinga kanannya, sementara jemari tangan kirinya bergerak mengetuk-ngetuk stir mobil.
Tut… tut…
Yunho bersabar, menunggu panggilannya diangkat.
Tut… tut…
            30 detik berlalu, tapi panggilannya tak juga diangkat. Matanya mulai menatap gelisah ke arah rumah itu.
            Yunho lantas berdecak kesal ketika yang menjawab panggilannya malah operator telepon. Tapi Yunho tak menyerah sampai disini. Dia mencoba menghubungi nomor yang sama, yaitu nomor kekasihnya. Tentu saja, rumah yang sedari tadi tak lepas dari tatapan Yunho tak lain adalah rumah milik penyanyi Kim Jaejoong.
            Baru setelah 3 kali panggilannya hanya dijawab oleh operator telepon, Yunho menyerah dan meletakkan ponselnya dengan kesal ke dashboard mobil. Jemari tangan kirinya masih setia mengetuk-ngetuk stir mobil, sementara tangan kanannya menopang dagunya.
            ‘Benar, aku harus memastikannya sendiri,’ kata Yunho dalam hati, berusaha meyakinkan keputusan yang diambilnya.
            Bola matanya bergerak mengamati sekeliling rumah Jaejoong. Beberapa kali Yunho melirik kaca spion, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan di dekat rumah Jaejoong. Setelah dirasa tidak ada siapa pun, termasuk wartawan, dalam radius 100 m dari rumah Jaejoong, Yunho merapatkan jaketnya dan mengambil ponselnya.
            Yunho membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Angin malam yang cukup kencang membuat Yunho mengatupkan rahangnya kuat-kuat, berusaha menahan dinginnya malam di awal musim gugur. Kepala Yunho berputar sekali, memastikan keadaan memang benar-benar sepi dan tidak ada siapa pun kecuali dirinya.
            Yunho menghela napas pelan, kemudian mulai berjalan meninggalkan mobilnya dan menuju rumah Jaejoong. Sebelum melewati pagar rumah pun, Yunho menyempatkan diri untuk menengok ke sekitar, sekadar memastikan keadaan. Kaki jenjangnya berhenti melangkah ketika dia sampai tepat di depan pintu rumah Jaejoong.
            Awalnya dia ingin langsung menekan beberapa tombol yang merupakan kombinasi kode pengaman rumah Jaejoong dan segera masuk ke dalam menemui kekasihnya, tapi niat itu dia urungkan. Tangannya ganti bergerak untuk menekan tombol bel yang ada di samping pintu.
‘Ting tong!’
            Suara bel terdengar menggema di dalam rumah. Yunho menunggu beberapa saat sambil menggosokkan kedua tangannya yang mulai kedinginan.
‘Ting tong!’
            Yunho menekan bel sekali lagi setelah 5 menit berlalu tanpa ada respon dari si pemilik rumah. Setelah itu, Yunho kembali menekan bel beberapa kali. Namun hasilnya tetap nihil.
            Bisa saja Yunho berasumsi kalau Jaejoong sudah terlelap dan mengabaikan tamu di tengah malam seperti ini, atau berasumsi bahwa Jaejoong belum pulang ke rumah dan masih terjebak dengan pekerjaan keartisannya. Tapi namja bermarga Jung ini mengabaikan semua asumsi atau kemungkinan itu. Perasaannya yakin, Jaejoong ada di dalam rumah dan dia belum terlelap tidur. Lagipula, Lamborghini milik Jaejoong terparkir di halaman, jadi asumsi kedua bisa diabaikan.
            Yunho tak lagi mencoba memencet bel, namun mulai mengetuk pintu.
            “Kim Jaejoong,” panggil Yunho dari luar.
            Lagi-lagi 5 menit berlalu tanpa respon dari Jaejoong. Yunho berdecak pelan, kemudian mengepalkan tangannya dan ganti menggedor-gedor pintu rumah Jaejoong.
            “Jae!” panggil Yunho, setengah berteriak.
            Tangannya terus menggedor rumah Jaejoong. Dia tak peduli misalnya orang-orang sekitar mulai terganggu karena kegaduhannya. Dia harus bertemu Jaejoong sekarang.
            “Jae, ini aku!” seru Yunho.
            Beberapa menit berselang, Yunho mulai berhenti menggedor pintu rumah Jaejoong. Kepalanya menunduk dalam, sementara tangan kanannya masih bersandar pada pintu rumah.
            “Jae, kumohon, bukalah pintunya. Aku tahu kau ada di dalam. Aku harus bicara denganmu,” ujar Yunho, kali ini nada suaranya berubah lirih.
            Yunho menegakkan kepalanya dan menatap sendu ke arah pintu. Tangan kanannya yang semula bersandar pada pintu kini terjatuh begitu saja ke samping tubuhnya. Beberapa kali Yunho menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak sekarang.
            Hampir 10 menit dia hanya berdiri diam di depan pintu rumah Jaejoong. Kepalanya tertunduk dalam, matanya menekuri lantai. Sesekali dia melirik ke sekitar, mengecek keadaan tetap sunyi tanpa ada gerak-gerik mencurigakan. Yunho menghela napas lagi sembari mengangkat kepalanya. Kakinya mundur selangkah demi selangkah secara perlahan, sementara matanya masih menatap lekat ke arah pintu, berharap ada sedikit harapan.
            Sampai di pagar, Yunho menerawang langit malam tanpa bintang dengan tatapan sendu sekilas, kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju mobilnya. Tangannya merogoh saku celana dan mengambil kunci mobil. Jemarinya lekas bergerak meraih gagang pintu dan membukanya.
            ‘Aku akan menunggu, Jae. Aku akan terus menunggu, karena aku percaya kau akan kembali,’ batin Yunho tepat sebelum masuk ke dalam mobilnya sembari kedua bola matanya menatap lurus ke rumah Jaejoong.
*          *          *
            “Bagaimana pasta buatanku? Enak bukan?” tanya Jaejoong sembari sibuk mencuci piring. Dia melirik sekilas pada yeoja yang tengah berkeliling di ruang tengah.
            “Eum, lezat sekali, oppa, tidak kalah dengan restoran Italia,” jawab yeoja bernama lengkap Wang Jihye itu. Kakinya yang ramping setia mengelilingi ruang tengah apartemen Jaejoong, sembari sibuk memandangi deretan foto yang dipajang di sana.
            Jaejoong tersenyum bangga, kemudian mengeringkan tangannya.
‘Ting tong!’
            Suara bel terdengar menggema di dalam rumah Jaejoong. Jaejoong yang semula sedang mengambil 2 gelas tinggi, meletakkan gelas tersebut di meja makan dan berjalan ke arah pintu depan.
            “Siapa yang datang malam-malam begini?” ujar Jaejoong dengan nada rendah. Iris hitamnya melirik sekilas jam dinding yang ada di ruang tengah.
‘Ting tong!’
            Orang yang ada di depan pintu sepertinya sangat tidak sabar, sehingga memencet bel lagi. Jaejoong menggerutu pelan dan mempercepat langkahnya.
            ‘Awas saja kalau itu wartawan, akan kutendang dia dari sini,’ batin Jaejoong sembari mendekat ke arah pintu.
            Matanya kemudian mengintip dari balik pintu melalui lubang pintu, dia berniat untuk memastikan dulu siapa yang bertamu di hampir tengah malam ini. Seketika napas Jaejoong tercekat begitu otaknya dengan cepat mengenali namja yang berdiri di depan pintu.
            “Yunho,” bisik Jaejoong begitu melihat namja bertubuh tinggi itu.
            Kaki Jaejoong terasa lemas dan dia mundur beberapa langkah dari pintu. Tangannya segera memegang dinding, menahan tubuhnya agar tidak ambruk. Jantungnya pun kini mulai berdetak lebih cepat.
            Beberapa kali Jaejoong menghirup oksigen dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya yang terasa kosong. Perlahan Jaejoong berbalik dan berjalan kembali menuju dapur. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Otaknya serasa kosong.
            “Siapa yang datang, oppa?” tanya Jihye yang melihat Jaejoong berjalan menuju dapur.
            Namun Jaejoong yang masih belum bisa berpikir jernih kembali tidak mendengar kata-kata Jihye. Dia berlalu begitu saja dan mengabaikan Jihye yang menatapnya bingung.
            Tak berapa lama kemudian, Jaejoong berjalan dari dapur menuju ruang tengah sembari membawa 2 gelas tinggi berserta sebotol wine. Jaejoong menatap Jihye yang tampak sibuk mengamati apartemennya sekilas, lalu meletakkan gelas itu di meja kaca yang ada di tengah ruangan. Tangannya kemudian dengan cekatan membuka tutup botol wine itu, dan menuangkannya masing-masing ke dalam 2 gelas itu.
            “Kau suka membaca juga, oppa?” tanya Jihye ketika matanya menangkap ada rak buku yang cukup tinggi di ruangan itu. Jemarinya menelusuri tiap judul buku yang tertata rapi di sana.
            “Y-ya, aku suka membaca kalau senggang,” jawab Jaejoong dengan nada sedikit terbata, kemudian duduk di sebuah sofa dan meraih salah satu gelas yang ada di meja.
            “Rumahmu cukup rapi untuk ukuran seorang namja yang tinggal disini, oppa,” ujar Jihye sambil duduk di sofa panjang yang ada di samping sofa yang diduduki Jaejoong.
            “Begitulah,” sahut Jaejoong singkat, kemudian menyodorkan gelas berisi wine-nya ke arah Jihye, “Ayo, bersulang.”
            Jihye mengambil gelasnya, lalu bersulang dengan Jaejoong. Yeoja berambut pendek ini menyesap wine-nya perlahan.
‘Tok tok tok!’
            Sebuah ketukan di pintu membuat Jihye mengernyit bingung. Bukankah tadi Jaejoong sudah menemui tamunya?
            “Kurasa ada seseorang yang mengetuk pintu, oppa,” ujar Jihye sambil meletakkan gelasnya. Kerutan di dahinya kian dalam saat melihat Jaejoong justru diam dengan kepala menunduk.
            “Oppa,” panggil Jihye lagi.
            “Ah, n-ne?” sahut Jaejoong gugup.
            “Siapa yang datang?” tanya Jihye, matanya menatap lekat ke arah Jaejoong.
            “Kim Jaejoong.” Seketika Jaejoong terkesiap kaget saat seseorang di depan rumahnya memanggil namanya. Jaejoong mulai menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa gugupnya yang mendadak muncul.
            ‘Apa yang harus kulakukan?’ batin Jaejoong, dengan setengah frustasi.
            Beberapa menit berselang, suara ketukan pintu itu berubah menjadi kasar. Sepertinya orang yang tadi memanggil Jaejoong mulai menggedor-gedor pintu.
            Jihye yang terkejut mendengar suara gaduh ini menatap Jaejoong bingung. Tangannya terulur untuk menyentuh bahu Jaejoong. Jaejoong yang merasakan seseorang memegang pundaknya terkesiap kaget. Kening Jihye kembali berkerut ketika dia melihat ekspresi Jaejoong. Jaejoong tampak sangat kalut dan bingung, dia seperti kehilangan arah.
            “Oppa, gwaenchanayo?” tanya Jihye yang khawatir melihat Jaejoong. Sementara Jaejoong berusaha mengendalikan dirinya dan memaksakan seulas senyum.
            “N-ne,” jawabnya sedikit terbata, “Aku akan melihat keluar dulu,” lanjutnya sembari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
            Jaejoong berhenti beberapa langkah dari pintu. Tangannya mulai bergetar, dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Jaejoong bingung harus bagaimana. Dia juga bingung kenapa tubuhnya bereaksi sampai seperti ini saat melihat Yunho. Di satu sisi, dia ingin bertemu kekasihnya itu. Tapi di sisi lain hatinya melarangnya untuk menemui Yunho.
            “Jae!” suara bass milik Yunho kembali memenuhi telinganya. Jaejoong mengepalkan tangannya kuat, membuat buku-buku jarinya memutih.
            “Jae, ini aku!” seru Yunho lagi. Jaejoong mengatupkan rahangnya kuat-kuat, berusaha mengendalikan emosinya.
            Memikirkan Yunho sedang berdiri di balik pintu itu membuat rasa rindu yang Jaejoong pendam beberapa hari ini mulai menguap ke permukaan. Amarah dan rasa muaknya terhadap skandal ini bercampur dengan rasa rindunya pada Yunho yang sudah sampai pada batasnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Masa bodoh dengan skandal itu.
            Dengan cepat kaki Jaejoong melangkah menuju pintu. Namun mendadak gerakan tangannya yang terulur hendak membuka pintu terhenti ketika wajah Presdir Baek melintas di benaknya. Perkataan Presdir Baek yang mengatakan bahwa Jaejoong tidak boleh menemui siapa pun di luar pekerjaannya terngiang kembali di telinganya. Seketika tangan Jaejoong terjatuh dengan lemas.
            “Jae, kumohon, bukalah pintunya. Aku tahu kau ada di dalam. Aku harus bicara denganmu.” Suara Yunho yang mulai melirih membuat Jaejoong terpaku. Meski dia tidak bisa melihat wajah Yunho, tapi dari suaranya dia bisa menangkap kepedihan yang dalam.
            Jaejoong membalikkan tubuhnya. Punggung serta kepalanya dia sandarkan ke pintu. Matanya terpejam erat, mencoba mengendalikan semua emosinya yang meluap saat ini.
            Jaejoong terdiam di sana cukup lama, sampai akhirnya dia menyadari sebuah suara langkah kaki yang kian menjauh, dan tak lama setelah itu, tergantikan oleh suara deru mobil yang kian makin lama makin sayup-sayup terdengar. Jaejoong menghela napas berat. Kelopak matanya terbuka, dia mulai menegakkan tubuhnya lagi. Jaejoong menolehkan kepala ke belakang, menatap pintu rumahnya dengan tatapan sendu. Jaejoong tahu benar kalau dia sudah kehilangan kesempatan yang tak mungkin datang dua kali.
            “Oppa,” panggil Jihye. Jaejoong segera mengalihakn pandangannya dan menatap Jihye yang tengah berdiri di depannya. Jihye tampak tersenyum samar.
            “Ini sudah larut malam, sebaiknya aku pamit pulang,” ujar Jihye, kemudian membungkukkan tubuhnya. “Gomawo atas makan malamnya, oppa,” lanjutnya sembari tersenyum ke arah Jaejoong.
            Jihye tahu, seseorang yang tadi datang bukanlah orang asing yang tidak Jaejoong kenal, melainkan seseorang yang sangat ingin Jaejoong temui. Jihye bisa menebak dari ekspresi Jaejoong sekarang.
            Jaejoong balas tersenyum pada Jihye. “Kuantarkan pulang, Jihye-sshi,” katanya sambil bergegas masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobilnya.
            “Aniya, tidak usah repot-repot, oppa.”
            “Tidak, ini sudah larut. Sebaiknya aku mengantarmu pulang,” tandas Jaejoong sambil melirik Jihye sekilas.
            ‘Semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja,’ kata Jaejoong berkali-kali dalam hati.
*          *          *

-to be continued-

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!