14 Januari 2014

SKANDAL - Chapter 8

SKANDAL
Chapter 8

-xxx-

Sepasang ibu dan anak ini masih duduk berdampingan di sofa. Meski malam semakin larut, tapi sepertinya keduanya masih enggan untuk mengakhiri momen keluarga yang memang lama tidak mereka lakukan ini, walaupun keduanya sekarang hanya terdiam. Menciptakan keheningan malam yang diterangi cahaya keperakan rembulan.
            Jaejoong duduk di samping ummanya. Matanya menatap lurus ke depan, sementara berbagai pikiran masih berkelebatan di benaknya. Sesekali dia menyandarkan dagunya ke lutut, sesekali yang lain dia meluruskan kakinya dan menyandarkan tengkuknya ke sofa, membuatnya menatap langit-langit rumah.
            Sementara Nyonya Kim tidak banyak bergerak dari posisi duduknya. Matanya yang teduh menatap ke depan, sesekali saja melirik anaknya yang duduk di sebelahnya. Meskipun mungkin ini terlihat aneh, tapi dia menyukai momen ini. Meski tak ada kata yang keluar, tapi keheningan ini sanggup membawa perasaan hangat dan nyaman.
            Jaejoong menarik napas dalam, sebelum kemudian menengokkan kepalanya dan menatap Nyonya Kim.
            “Umma,” panggilnya, setelah hanya ada diam di antara mereka selama beberapa menit.
            “Ya?”
            “Soal skandal itu…” Jaejoong belum melanjutkan kalimatnya, dia menunggu reaksi yang akan dikeluarkan Nyonya Kim.
            Nyonya Kim seolah tersadar, mengerjap beberapa kali, kemudian menoleh dan menatap anaknya. Tidak ada respon lain di wajahnya selain pandangan mata penuh tanya yang ditujukan ke arah Jaejoong.
            “Umma sudah tahu,” sahut Nyonya Kim kemudian, membuat Jaejoong terkejut.
            “Eh? Maksud umma…?”
            Nyonya Kim menggeser duduknya agak menyerong, menghadap Jaejoong, lalu menatap dalam ke iris mata Jaejoong sambil berkata, “Itu tidak benar, ‘kan?”
            Jaejoong terkesiap kaget. Tanpa sadar dia menahan napasnya untuk beberapa detik. Suara Nyonya Kim terdengar padat dan tegas, seolah sangat yakin dengan kata-katanya.
            Jaejoong tidak mengerti. Dia tidak pernah membicarakan tentang skandal dengan Wang Jihye ini kepada ummanya. Lalu apa yang bisa membuat Nyonya Kim seyakin itu, kalau skandalnya ini hanya sandiwara belaka?
            “Eum… i-itu…” Jaejoong bingung harus menjawab apa.
            Jaejoong tahu benar kalau skandal itu memang tidak benar. Tapi entah kenapa dia tidak bisa dengan mudah menyangkalnya. Dia ingin memberitahu kebenaran yang sesungguhnya pada ummanya, tetapi entah mengapa Jaejoong sendiri bingung bagaimana harus mengatakannya dan memulainya dari mana.
            Nyonya Kim hanya tersenyum samar melihat anaknya yang tampak bingung dan tidak melanjutkan kalimatnya. “Umma sudah tahu tanpa kau perlu mengatakannya pada umma, Joongie-ah,” katanya sambil menepuk-nepuk kepala Jaejoong pelan.
            Jaejoong hanya menatap dengan pandangan bingung ke arah Nyonya Kim.
            “Hm… bagaimana mengatakannya ya?” gumam Nyonya Kim sembari menggaruk-garuk dagunya, matanya menatap ke atas seolah mencari sesuatu di langit-langit apartemen, “Ah iya benar! Feeling seorang ibu. Ya, begitu,” tandas Nyonya Kim begitu menemukan kata-kata yang tepat.
            “Eh?” Sementara Jaejoong masih belum mengerti juga.
            “Umma mengenal anak umma dengan baik, maka dari itulah umma bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada anak umma,” kata Nyonya Kim, telapak tangannya menepuk bahu Jaejoong pelan.
            “Begitu ya…” gumam Jaejoong, kepalanya sedikit tertunduk dan matanya menekuri lantai, “Apa orang lain juga bisa mengerti seperti umma~”
            Nyonya Kim menatap anaknya yang terlihat termenung. Wanita ini tahu benar apa yang sekarang sedang dipikirkan Jaejoong. Lagi-lagi feeling seorang ibu yang memberitahunya.
            Nyonya Kim menghela napas pelan sembari membenarkan posisi duduknya. Punggungnya disandarkan ke sofa dan matanya menatap ke depan.
            Setelah beberapa menit terdiam, Nyonya Kim berkata, “Beberapa waktu lalu Yunho datang ke rumah.”
            Jaejoong seketika mengangkat kepalanya dan menatap Nyonya Kim dengan pandangan antara terkejut dan penuh ingin tahu. “Yunho… ke rumah?” tanyanya ragu, memastikan apa yang baru saja didengarnya.
            Nyonya Kim memandang Jaejoong sekilas sebelum kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya, Yunho ke rumah beberapa waktu lalu. Sepertinya tidak lama setelah kasus skandalmu itu muncul.”
            Jaejoong termenung. Yunho pergi ke rumahnya? Untuk apa? Apa ini menyangkut dirinya?
            “Waktu itu, pagi-pagi sudah ada yang mengetuk pintu. Umma pikir siapa yang sudah bertamu pagi-pagi begitu. Setelah dibukakan pintunya, ternyata Yunho yang datang.”
            “Lalu… Yunho ada perlu apa datang ke rumah, umma?” tanya Jaejoong.
            “Dia bilang hanya ingin datang berkunjung dan menemui umma. Katanya di sudah lama tidak bertemu, jadinya memutuskan untuk kemari.”
            Jaejoong tampak berpikir sejenak, “Memangnya… Yunho tidak mengajar di sekolah?”
            “Iya, umma juga berpikir begitu. Waktu umma tanya, Yunho bilang pagi itu dia tidak ada kelas mengajar, hanya ada 2 kelas yang diajar, itu pun saat siang. Maka dari itu dia pergi ke rumah pagi-pagi mumpung dia sedang senggang. Begitu katanya,” jawab Nyonya Kim sambil mengingat-ingat pertemuannya dengan Yunho waktu itu.
            Jaejoong kembali termenung dan larut dalam lamunannya. Yunho ingin menemui ummanya? Ada keperluan apa dia dengan ummanya? Berbagai pertanyaan terus berkelebat dalam benak Jaejoong.
            Jaejoong yang hanya diam membuat Nyonya Kim mengalihkan pandangannya ke arah anaknya. Sepasang matanya menangkap sosok Jaejoong yang terlihat tengah melamun dengan dahi berkerut. Nyonya Kim berdeham pelan sebelum kemudian melanjutkan pembicaraan.
            “Jae,” panggil Nyonya Kim, mencoba menarik perhatian anaknya.
            Jaejoong menoleh dan berkata, “Ya, umma?”
            “Kamu pasti bertanya-tanya apa yang dibicarakan Yunho dengan umma, ‘kan?”
            Jaejoong menelan ludahnya gugup. ‘Kenapa feeling seorang ibu bisa sekuat ini?’ batinnya.
            “I-iya, umma,” sahut Jaejoong. “Ta-tapi kalau itu privasi, umma tidak perlu memberitahukannya padaku. Tidak apa kok,” imbuh Jaejoong buru-buru. Rasanya tidak sopan juga mengurusi urusan orang lain sekalipun orang lain itu adalah orang terdekatnya.
            Nyonya Kim tersenyum singkat, sebelum kemudian mengelus puncak kepala Jaejoong. Sementara Jaejoong hanya menatap bingung.
            “Yunho datang untuk membicarakan soal skandalmu itu,” kata Nyonya Kim.
            Napas Jaejoong tercekat mendengarnya. Skandalnya? Apa yang dikatakan Yunho pada umma mengenai skandalnya? Atau Yunho justru bermaksud untuk… memutuskan hubungannya karena skandal itu?
            Mata Jaejoong sedikit membelalak memikirkan kemungkinan terakhir yang melintas di benaknya. Jantungnya berdegup lebih cepat saat membayangkan Yunho benar-benar mengatakan hal itu pada umma. Tidak! Jaejoong tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi apa dayanya?
            “Ketika itu, pemberitaan tentangmu sedang hangat-hangatnya di televisi. Umma akui, waktu itu umma sempat bingung bercampur khawatir memikirkanmu. Apalagi kamu tidak memberitahu apa pun, juga tidak menghubungi umma. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin dipikirkan dalam-dalam, umma bisa sedikit banyak memperkirakan dan mengerti keadaanmu, jadi umma tak terlalu ambil pusing dan khawatir berlebihan.”
            Jaejoong masih diam dan menyimak cerita Nyonya Kim sambil mempertajam pendengaran agar tidak ada bagian yang terlewatkan.
            “Nah, saat umma sedang bingung itu, Yunho datang. Dan umma kaget juga mendengar kata-katanya waktu itu,” ucap Nyonya Kim. Kata-kata Yunho waktu itu sepintas terngiang dengan jelas di telinganya.
            “Apa?” Jaejoong refleks bertanya. Dia ingin tahu apa yang dikatakan oleh Yunho, meskipun mungkin tubuh dan jiwanya belum siap mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
            Nyonya Kim menatap Jaejoong sembari tersenyum, “Yunho bilang, umma tidak perlu khawatir soal pemberitaan itu. Katanya, itu semua bohong,” kata Nyonya Kim kalem.
            “Eh?!” Jaejoong terkejut mendengarnya.
            Benarkah begitu? Apa telinganya tidak salah dengar? Tapi… dari mana Yunho bisa menyimpulkan seperti itu? Jaejoong tidak pernah memberitahu soal skandal itu pada Yunho.
            “Iya Yunho bilang umma tidak perlu cemas. Katanya, kau baik-baik saja,” sahut Nyonya Kim, sembari tangannya menggenggam tangan Jaejoong, “Lalu umma tanya, apa Jaejoong sudah menghubungi Yunho, dan Yunho jawab belum.”
            “A-aku… tidak mengerti,” gumam Jaejoong. Apa maksud semua ini?
            “Umma juga tidak mengerti. ‘Kalau Jaejoong belum menghubungimu, lalu dari mana kamu bisa tahu dan seyakin itu?’ umma langsung bertanya seperti itu pada Yunho. Dan Yunho menjawab dengan nada tenang tapi juga penuh keyakinan.”
            “Aku percaya pada Jaejoong. Dia tidak bilang apa-apa padaku, bahkan pada umma. Jadi aku pikir itu semua rekayasa belaka. Kalau skandal itu benar, Jaejoong pasti mengatakan sesuatu, ‘kan? Mungkin keadaannya sedang rumit sekarang, jadi Jaejoong tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku percaya, Jaejoong tidak mungkin melakukan itu. Umma  juga percaya ‘kan?”
            Jaejoong tanpa sadar menahan napasnya mendengar Nyonya Kim mengatakan kata-kata Yunho waktu itu dengan persis sama. Jantungnya berdegup makin cepat, hingga Jaejoong bisa merasakan aliran darah dalam pembuluhnya begitu cepat, menciptakan butterflies-effect di perutnya. Perasaan senang, bercampur lega, kaget, dan bingung memenuhi hati Jaejoong. Dia tidak tahu harus bereaksi apa sekarang.
            “Yunho percaya padamu, Joongie-ah. Walaupun kau tidak mengatakan apa-apa, tapi dia tetap percaya padamu. Dia tahu, yang harus dia percaya adalah kata-kata yang langsung keluar dari mulutmu, bukan dari media massa.”
            Yunho… masih mempercayainya? Benarkah? Meskipun dia sudah menyakitinya?
            “Ta-tapi… umma, aku harus bagaimana?” suara Jaejoong kembali bergetar. Perasaannya lebih lega sekarang, beban semakin banyak terangkat dari kepalanya, tapi masih ada yang mengganggu pikirannya.
            Sekalipun Yunho masih percaya dan setia padanya, tapi masalah tidak selesai sampai di situ saja. Soal skandal itu, bagaimana Jaejoong harus mengatasinya?
            “Jadilah dirimu sendiri,” jawab Nyonya Kim mantap. Tangannya meremas telapak tangan kiri Jaejoong yang berada dalam genggamannya dengan kuat.
            “Kalau kau tidak bisa menemukan jalan keluarnya, ubahlah dirimu, ubah cara pandangmu. Bukan menjadi Kim Jaejoong yang seorang penyanyi terkenal, tapi jadilah Kim Jaejoong sebelum mengenal dunia keartisan. Jadilah Kim Jaejoong yang rakyat biasa, jadilah dirimu sendiri, Joongie. Bukankah lebih mudah menjadi diri sendiri daripada hidup menjadi orang lain?”
            Jaejoong terdiam. Matanya memandang ke dalam mata Nyonya Kim, seolah sedang mencari kebenaran di sana. Pandangan mata Nyonya Kim yang begitu yakin, membawa keyakinan itu merasuk perlahan ke dalam diri Jaejoong, membuat asanya menguap ke permukaan. Tubuhnya terasa lebih ringan. Dan sebuah senyum hangat yang menghiasi wajah Nyonya Kim, membuat perasaan Jaejoong lebih tenang.
            Jaejoong ikut tersenyum beberapa detik kemudian. Ya, dia telah menemukannya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tahu langkah apa yang akan dia ambil. Dan dia tahu benar, nantinya akan jadi seperti apa.
            “Terima kasih, umma,” kata Jaejoong.
            Tangan kanannya yang bebas, diletakkan di atas tangan Nyonya Kim yang tengah menggenggam tangan kirinya. Dipegangnya erat tangan ummanya, sambil tersenyum. Dn Nyonya Kim balas tersenyum ke arah anaknya, lalu meraih tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya.
            “Percaya. Dan jadilah dirimu sendiri, Joongie-ya.”
*          *          *
            Kim Jaejoong sedang berada di dalam mobilnya sekarang. Matanya dengan gelisah beberapa kali menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk stir mobil di hadapannya. Sesekali dia memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri. Sementara otaknya terus berputar, berpikir dan mempertimbangkan langkah besar yang akan diambilnya setelah ini.
            Cukup lama Jaejoong berdiam di dalam mobil, sebelum kemudian dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kuat. Kedua tangannya menggenggam stir mobil dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
            Ya, Jaejoong sudah mengambil keputusan. Dia akan melakukannya. Sekarang atau tidak sama sekali.
            Dieratkannya mantel berwarna coklat tua yang membalut tubuhnya, sebelum kemudian Jaejoong membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Suasana di sekitarnya sepi. Tentu saja, karena ini sudah hampir tengah malam. Langit malam yang menggantung di atasnya pun terlihat mendung. Tak ada bintang apalagi bulan yang terlihat. Angin malam yang berhembus kali ini pun terasa kuat.
            Jaejoong melangkahkan kakinya menuju salah satu apartemen yang ada di kawasan elit di Seoul ini. Langkahnya cepat dan pendek-pendek, namun mantap. Lankahnya cepat bukan karena menghindari sesuatu atau seseorang, melainkan karena Jaejoong memang ingin cepat-cepat menyelesaikan ini, maka dari ituah dia berjalan cepat.
            Dan lagi, Jaejoong sudah membuang jauh-jauh yang namanya menghindar dari wartawan dan fans. Terbukti dari penampilannya sekarang yang tanpa masker, kacamata hitam, atau pun topi. Jaejoong tidak peduli lagi dengan semua barang itu sekarang. Ketahuan oleh wartawan pun Jaejoong sudah tidak mau ambil pusing, dia memilih untuk auh saja. Sudah cukup bermain kucing-kucingannya, dia tidak akan lari lagi, begitu pikir Jaejoong.
            Kakinya berhenti ketika dirinya tiba di depan sebuah pintu. Jaejoong menghembuskan napas pelan, sebelum kemudian menekan bel yang ada di samping pintu. Sekali, dua kali, Jaejoong menekan bel lalu menunggu respon dari si pemilik apartemen yang ditujunya ini. Kakinya mengetuk-ngetuk, berusaha mengusir kegelisahannya.
            “Ya?” sebuah suara terdenar dari interphone yang ada di samping pintu.
            “Jihye-sshi, ini aku, Kim Jaejoong,” sahut Jaejoong cepat, begitu mengenali suara tersebut.
            “Jaejoong oppa?”
            “Ya.”
            Hening beberapa saat. Jaejoong sendiri bingung kenapa yeoja yang mengenalnya ini mendadak terdiam. Apa kedatangannya kemari bukan di waktu yang tepat?
            “Tunggu sebentar, oppa, akan kubukakan pintu,” sahut yeoja itu kemudian. Diam-daim Jaejoong menarik napas lega. Setidaknya kedatangannya kemari tidak ditolak begitu saja.
            Tak sampai 3 menit, pintu apartemen yang ada di hadapan Jaejoong mengayun terbuka. Tampak seorang yeoja berambut pendek yang mengenakan sebuah kaos putih dan celana pendek di atas lutut, tengah berdiri di sana. Jaejoong tersenyum kecil menatap yeoja bernama Wang Jihye, ‘rekan’ skandalnya itu.
            Wang Jihye tampak cukup terkejut dengan kedatangan Jaejoong yang tiba-tiba ke apartemennya, membuatnya hanya bisa tersenyum canggung ke arah Jaejoong. Tangannya bergerak menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Entah kenapa dia jadi merasa gugup. Sepertinya ada sesuatu yang mendesak sekarang.
            “Ada perlu apa, oppa? Tumben mendadak kemari,” kata Jihye dengan sedikit gugup.
            Jaejoong yang sebenarnya juga agak gugup, berusaha mengendalikan kegugupannya dengan menarik napas dalam, sebelum menjawab, “Itu… sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu, Jihye-sshi,” kata Jaejoong. Kedua tangannya yang berada di balik saku mantel tergenggam erat.
            Jihye tampak berpikir sejenak. Apa ini tentang skandal mereka?
            “Ah kalau begitu, ayo, silahkan masuk, oppa,” ujar Jihye sambil menyingkir sedikit dari pintu, memberikan ruang untuk Jaejoong masuk, “Kita bicarakan di dalam,” imbuh Jihye.
            Jaejoong mengangguk samar, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Jihye. Begitu Jaejoong masuk, Jihye segera menutup pintu dan berniat langsung bergegas masuk ke dalam. Namun langkah Jihye terhenti ketika dirinya mendapati Jaejoong hanya berdiri diam membelangkangi pintu yang berjarak kurang lebih 1 meter dari posisi Jaejoong sekarang. Jaejoong berdiri di sana, tidak melepas sepatu dan tidak masuk ke dalam. Dahi Jihye berkerut, bingung melihat Jaejoong terpaku di tempatnya.
            Jihye melangkah menghampiri Jaejoong dan berdiri di depan Jaejoong, “Kenapa berdiri di situ saja, oppa? Ayo masuk saja ke dalam, tidak usah sungkan,” ajak Jihye.
            Jihye merasa suasana di antara mereka menjadi canggung, apalagi dengan raut serius yang tersirat dari wajah Jaejoong. Apa mereka akan membicarakan sesuatu yang serius?
            “Tidak usah, Jihye-sshi. Aku juga hanya perlu waktu sebentar kok,” ujar Jaejoong. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis.
            “Ah begitu,” gumam Jihye. Kedua tangannya terlipat ke belakang dan meremas-remas gelisah. “Eum… lalu ini tentang apa, oppa?” tanyanya kemudian.
            Jaejoong tampak menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian berkata, “Jihye-sshi, kurasa sekarang saatnya kita mengakhiri sandiwara ini,” kata Jaejoong dengan nada rendah dan tegas yang membuat Jaejoong tampak benar-benar serius dengan ucapannya.
            “Eh? Ma-maksud, oppa?” tanya Jihye spontan. Yeoja yang bergelut di dunia akting ini tampak kaget mendengar penuturan Jaejoong yang tiba-tiba itu. Dia benar-benar tidak menyangka kalau inilah yang akan mereka bicarakan.
            Jaejoong berdeham sejenak, berusaha mengusir kering dari tenggorokannya, “Sebaiknya skandal ini sampai di sini saja. Kita tidak perlu melanjutkan sandiwara ini, kita tidak perlu berpura-pura kencan di depan publik, kita tidak perlu menghindar lagi dari kejaran wartawan. Kurasa semuanya sudah cukup sampai di sini saja.”
            Jihye mengerjapkan matanya beberapa kali, antara percaya dengan tidak dengan perkataan Jaejoong barusan. Kenapa semuanya terkesan tiba-tiba? Kenapa mendadak Jaejoong memutuskan untuk menghentikan skandal ini?
            “Aku tahu ini mendadak. Maafkan aku, Jihye-sshi, atas keputusan sepihak yang tiba-tiba ini. Tapi…” Jaejoong menggantungkan kalimatnya sejenak dan menatap Jihye lekat-lekat, berharap yeoja di hadapannya ini bisa mengerti apa yang dipikirkan sekaligus dirasakan Jaejoong, “aku sudah tidak bisa melanjutkannya. Aku sudah muak dan batasku hanya sampai di sini. Aku sudah terlalu banyak menyakiti orang lain, aku sudah banyak mengecewakan orang lain. Aku bahkan sudah sangat merepotkanmu, Jihye-sshi. Maafkan aku,” kata Jaejoong lalu membungkukkan badannya dalam.
            “Jangan begitu, oppa,” ujar Jihye cepat sambil mengangkat bahu Jaejoong agar namja itu berhenti membungkukkan badan kepadanya, “Aku tidak apa-apa, oppa, sungguh. Aku justru mengkhawatirkan Jaejoong oppa.”
            Jaejoong menatap Jihye dalam diam, menunggu Jihye melanjutkan kata-katanya.
“Sejak kasus skandal itu, Jaejoong oppa terlihat berbeda. Oppa terlihat lebih murung, tidak seperti sebelumnya yang selalu ceria dan bersemangat. Dan sepertinya oppa terlihat banyak pikiran. Aku tidak tahu oppa menyadarinya atau tidak, tapi belakangan oppa sering sekali menghela napas. Aku jadi khawatir dengan keadaan oppa. Kurasa oppa banyak menderita karena masalah ini,” kata Jihye pelan dan hati-hati. Dia tidak ingin Jaejoong sampai salah sangka karena pendapatnya ini.
            Jaejoong sedikit tertunduk, matanya menekuri lantai dan berbagai pikiran berkelebatan di benaknya. Benarkah selama ini dia terlihat se-menyedihkan itu? Jaejoong memang sering kali mendapati Junsu sedang menatapnya diam-diam. Tapi waktu itu Jaejoong tidak menyadari arti tatapan Junsu. Baru sekarang setelah mendengar kata-kata Jihye, Jaejoong tahu sebenarnya Junsu sedang menatapnya dengan pandangan khawatir.
            “Oppa,” panggil Jihye, melihat Jaejoong yang hanya diam. Matanya menatap Jaejoong dengan pandangan khawatir.
            Jaejoong segera mengangkat kepalanya. Matanya bertemu pandang dengan Jihye. Benar, sorot kekhawatiran itu terlihat jelas dari kedua mata Jihye. Jaejoong bisa merasakannya.
            Sembari tersenyum, Jaejoong berkata, “Gomawo, Jihye-sshi,” katanya lirih, “Terima kasih, karena sudah mengkhawatirkanku. Terima kasih pula untuk semua kerja keras dan kesediaanmu untuk membantuku. Terima kasih banyak. Maaf sudah banyak merepotkanmu.”
            Melihat senyum lembut di wajah Jaejoong, Jihye ikut tersenyum. Sorot mata Jaejoong kali ini berbeda, Jihye bisa merasakannya. Sorot mata itu lebih hidup, membuat Jihye menarik napas lega.
            Sepertinya Jaejoong memang sudah mengambil keputusan yang tepat. Pria itu terlihat yakin dengan langkah yang diambilnya ini. Maka dari itulah, Jihye pun merasa yakin kalau memang ini yang harus mereka lakukan,
            “Eum,” gumam Jihye sambil mengangguk cepat, “Terima kasih juga untuk kerja keras oppa selama ini. Maaf juga kalau aku tidak bisa membantu banyak,” ujar Jihye lalu menunduk dalam, membuat Jaejoong pun refleks membungkukkan badannya.
            Setelah keduanya menegakkan badan kembali, begitu kedua mata mereka bertumbukkan, tanpa disadari keduanya langsung tertawa lepas. Spontan saja, mereka sendiri tidak tahu kenapa tawa mereka bisa pecah seperti itu. Sepertinya mereka berdua telah melepaskan beban dari pundak, membuat mereka bisa tertawa lepas lagi, tanpa beban batin dan pikiran.
            Baru setelah tawa mereka mereda, Jaejoong mengulurkan tangannya unuk menjabat tangan Jihye. Meski sempat bingung, namun akhirnya Jihye menyambutnya. Keduanya saling berjabat tangan dan menggenggam erat satu sama lain. Tak lupa dengan senyum lebar di wajah Jaejoong serta Jihye.
            “Mari, kita akhiri sandiwara ini.”

*          *          *
-to be continued-


P.S
Komen yaa~~ :3

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!