• Always Keep The Faith!

    The five of us working together could be consider as fate. Five different people feeling as one, happiness multiplied by five, sorrow is just 1/5. This is called happiness. To me, TVXQ is just like a family, a home. No matter how far we’re separated, we’ll come back together one day. TVXQ is just such an important place for us. - U-know Yunho, Fujin kouron magazine 2009

  • Are you envied at us?

    This red ocean is belong to Cassiopeia and TVXQ, just for your information.

  • Humanity Strongest's Soldier

    Thanks to you, Rivaille, for looking so DAMN HOT although you're 160cm. xD /kicks/

2 Juni 2015

After Death

AFTER DEATH

Aku tidak pernah takut mati.
Kalau kiamat datang sekarang pun aku tidak khawatir.
Yang aku takutkan dan khawatirkan hanyalah... aku tidak bisa tinggal di dunia yang sama denganmu.
*          *          *
a Shingeki no Kyojin fanfiction
with RivaEre Relationship
After Death © Kristalicia Rizki
Disclaimer : I do not own the cast. The cast belong to Isayama Hajime-sensei. This fanfiction belongs to me. This is a non-profitable fanwork.
Rate : T
Warning : BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
Aku pikir arwah yang berdiri mematung memandangi mayat diri sendiri hanya ada di film-film. Namun ternyata hal itu bukan sekadar adegan fiktif khayalan sang penulis naskah. Aku, Eren Jaeger, berdiri di samping mayat diriku yang terbujur kaku dengan wajah pucat di atas ranjang rumah sakit.
            Tak ubahnya seorang manusia, aku bisa melihat, mendengar, mencium, dan merasakan dengan jelas segala hal yang ada di salah satu ruang ICU di rumah sakit ini. Aku melihat Mama yang berlutut di samping ranjang rumah sakit dengan tubuh bergetar hebat sembari menggoncang-goncang tubuh  manusiaku. Aku juga melihat Papa merangkul Mama dengan erat dalam dekapannya dengan rahang yang mengeras untuk menahan air mata agar tidak jatuh. Di sisi ranjang yang lain, aku melihat Mikasa Ackerman, sahabatku sejak kecil, mengucurkan air mata tanpa henti dan tidak mau bersusah payah berusaha untuk menyekanya.
            Aku mendengar suara parau Mama yang tak henti memanggil namaku dan memohon padaku agar jangan pergi. Aku mendengar suara Papa yang sama paraunya, berusaha menenangkan Mama sekaligus berusaha menguatkan diri sendiri. Sementara Mikasa, wanita berwajah oriental itu, menangis dalam diam dan hanya terdengar isakan sesekali yang bisa kuhitung jumlahnya dengan jari.
            Aku bisa mencium bau obat-obatan yang kuat khas rumah sakit. Aku bisa mencium dinginnya suhu pendingin ruangan dengan bulu-bulu halus di dalam lubang hidungku. Aku bahkan bisa mencium aroma kesesakan yang menghimpit dadaku, menciptakan rasa nyeri asing yang membuat telapak tangan kananku refleks meremas dada sebelah kiriku.
            Aku bisa merasakan kesedihan mencekam yang ada di ruang ICU itu. Aku bisa merasakan kehilangan besar yang membuat batinku terasa kosong. Juga bisa kurasakan tubuhku yang sekarang ini begitu ringan, begitu dingin tanpa hawa kehidupan, begitu transparan seperti udara hingga Mama, Papa dan Mikasa tidak bisa melihatku, dan begitu kesepian.
            Tanganku terulur untuk menyentuh pundak Mama, namun tangan ini menembus tubuh Mama begitu saja, menguatkan fakta bahwa eksistensiku di dunia ini tidak lagi ada. Aku hanyalah arwah yang berkeliaran di Bumi, menunggu malaikat atau iblis datang menjemputku—pergi ke surga atau neraka.
            Aku yakin aku masih punya air mata untuk menangis. Tetapi menangisi diri sendiri bukan hal yang ingin kulakukan sekarang—aku sudah terlalu sering mengasihani diriku sendiri dan sekarang saat aku sudah mati, apalagi yang perlu kukasihani?
            Aku berbalik dan berjalan tanpa suara keluar ruang ICU. Gagang pintu yang tidak bisa kupegang membuatku terhenti beberapa detik dan aku baru tersadar beberapa saat kemudian. Kujulurkan tanganku dan benar saja, dengan mudah aku menembus pintu berwarna putih itu. Koridor rumah sakit malam itu lengang, hanya terlihat beberapa perawat yang berlalu lalang. Aku berdiri terpaku di depan pintu ruang ICU, tidak tahu harus berbuat apa. Sudah mati begini memangnya apa yang bisa kulakukan?
            Aku baru saja terpikir untuk pergi ke gereja dan merenung di sana—sembari berdoa agar malaikat segera membawaku ke surga, ketika seorang pria berambut undercut berjalan menuju ke ruang ICU tempat tubuh manusiaku terbaring tanpa nyawa. Alisku bertaut ketika aku mengenali pria bertubuh lebih pendek dariku itu. Levi.
            Aku masih berdiri di tempatku ketika Levi sampai di depan pintu ruang ICU. Mata hijau kebiruanku menatapnya heran. Untuk apa dia kemari?
            Kepalanya yang sedari tadi tertunduk dalam kini terangkat, membuat kedua iris mata kami saling bertatapan. Ah aku lupa kalau dia tidak bisa melihatku. Ketika kami saling bertatapan—mungkin hanya aku yang menatapnya, aku bisa melihat kesedihan yang dalam terpancar dari sorot mata tajam itu. Alisku bertaut makin dalam seiring dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menggerayapi tubuh fanaku.
            Entah berapa lama waktu berjalan yang hanya kuhabiskan untuk memandangi Levi yang berdiri kaku di depan pintu ruang ICU. Pria ini hanya menatap kosong ke arah pintu, tanpa ada niatan untuk membukanya. Sementara itu, kedua bola mataku seolah terhisap ke dimensi matanya, membuatku tidak bisa berkedip. Atensiku tiba-tiba saja terpusat pada pria itu dan gelanyar perasaan aneh kembali menyerang jantungku ketika kulihat setetes air mata jatuh dari sudut matanya.
            “Eren...” bisiknya lirih.
            Seketika itu juga air mataku ikut jatuh. Ternyata benar, arwah masih bisa menangis.
.
.
.
Angin sepoi pagi ini tak juga sanggup membawaku terbang ke surga. Sebaliknya, aku bisa duduk bersandar di sebuah batang pohon dengan nyaman. Helai-helai rambutku berkibar seiring dengan hembusan angin yang mengenai tubuhku. Sinar mentari yang sesekali mengintip di balik rimbunnya dedaunan yang menggantung di atasku membuat mataku sesekali menyipit. Kulihat langit biru hari ini begitu cerah, seolah mengantarkan tubuh manusiaku ke tempat peristirahatan yang terakhir dengan... ceria?
            Kedua mataku terpejam, menikmati semilir angin yang berhembus lembut. Pemakaman pagi ini tetap sepi dan sunyi, meski keluarga dan teman-temanku datang beramai-ramai kemari dengan pakaian serba hitam. Sayup-sayup aku bisa mendengar suara Mama yang histeris memanggil-manggil namaku. Aku sudah lelah menyahut dan berkata “Aku ada di sini, Ma.”. Mama tak akan pernah mendengar suaraku lagi, sekeras apapun aku berteriak. Samar-samar kudengar juga suara isak tangis yang saling tumpang tindih dengan suara yang berusaha menenangkan. Armin Arlert dan Jean Kirstein berusaha menenangkan Mikasa meski mereka juga sama-sama berurai air mata. Sir Erwin merangkul dan menepuk-nepuk pundak Miss Hanji yang tidak berhenti berusaha mengusap air mata di pipinya. Aku sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan menangis sampai seperti itu ketika aku benar-benar meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
            Suara gemerisik dedaunan yang masuk ke dalam gendang telingaku seiring dengan suara derap langkah kaki yang mendekat perlahan membuat kedua kelopak mataku terbuka. Aku menoleh dan kudapati seorang pria pendek tengah berdiri tepat di sebelahku.
            Levi. Dia datang lagi.
            Aku memperhatikan pria itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, celana berbahan kain warna hitam, dan sepatu pantofel mengkilat warna hitam, terlihat begitu pas membalut tubuhnya yang tergolong kekar. Untuk beberapa detik aku terpesona melihatnya, kuakui itu. Akan tetapi segera aku tersadar dari lamunanku ketika kulihat wajahnya yang tampak kacau dan lelah. Bagian bawah matanya semakin menghitam, mengindikasikan bahwa pria itu kurang tidur selama beberapa hari belakangan. Sorot matanya begitu sayu, terpancar dari sepasang kristal hitam yang terlihat begitu kosong dan hampa.
            Aku bangkit berdiri, masih dengan tatapan yang tak lepas dari pria dengan tinggi 160cm itu. Levi tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri sekarang—di bawah bayang-bayang pohon besar tempatku bersandar tadi, meski aku tahu tujuannya datang kemari adalah untuk mengantarkanku dan melihatku untuk yang terakhir kali. Wajah Levi juga tampak pucat, membuatku mendadak jadi khawatir kalau-kalau pria ini tiba-tiba saja jatuh pingsan. Sungguh tidak ada semangat hidup yang terpancar darinya, membuatku nyaris merasa kalau yang ada di hadapanku ini adalah sebuah nyawa bergentayangan sama sepertiku.
            Lagi-lagi dadaku terasa sesak. Bukan karena suara tangis Mama di kejauhan yang tak kunjung henti, juga bukan karena sedu sedan teman-temanku. Melainkan karena suara parau nan lirih mirip bisikan yang meluncur keluar dari celah bibir Levi yang sama pucatnya dengan wajahnya. Suara yang sarat akan kesedihan dan kehilangan. Suara yang sama sekali tidak kusangka akan berasal dari seorang pria serampangan yang suka bicara seenak jidatnya. Suara yang terus melafalkan namaku, seolah itu mantra yang bisa mengembalikan nyawaku kembali ke dalam raga yang berbaring tenang di dalam peti di bawah tanah.
            “Eren... Eren...”
.
.
.
Aku duduk dengan santai di kursi penumpang tanpa perlu repot-repot memasang sabuk pengaman. Mobil Toyota Prius hitam yang kunaiki ini begitu tenang melintas di jalanan, tak terdengar suara mesin yang mencolok. Hanya ada suara AC yang sibuk menyirkulasikan udara di dalam mobil dengan udara bersuhu rendah. Sesekali aku melempar pandangan keluar jendela, meski fokusku lebih banyak tertuju pada Levi yang tengah menyetir dalam diam di sebelahku.
            Mataku benar-benar tidak bisa lepas darinya. Pria ini mendadak saja jadi medan magnet bagi tubuh fanaku ini. Aku bahkan tidak ingat bagaimana bisa berakhir di sini—duduk di dalam mobilnya dan mengikuti kemana dia pergi.
            Raut wajah Levi sama sekali tidak berubah sejak tadi kuperhatikan lekat-lekat. Pria ini memang terkenal expression-less, wajahnya begitu datar tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Senyumnya begitu irit, apalagi tawanya yang seolah-olah terlalu mahal untuk ditunjukkan. Kata-katanya yang to the point dan terkesan blak-blakan dengan nada datar dan rendah selalu jadi ciri khas bicaranya tanpa memandang siapa lawan bicaranya.
            Asisten dosen yang satu ini memang terkenal killer, membuat setiap mahasiswa yang mendapat jatah asistensi dengan dirinya akan mengalami mental breakdown seketika itu juga. Bahkan aku nyaris tidak lulus pada mata kuliah Reinforced Concrete gara-gara tidak kunjung menyelesaikan tugas yang diasistensikan oleh Levi. Untung saja ada Erwin Smith—suami dari bibiku, Hanji Smith, alumni sipil yang bekerja di bidang sipil juga. Sir Erwin dengan berbaik hati mau menjadi tempat konsultasiku yang ketika itu hampir gila karena tingkah dan kemauan Levi yang aneh nan menyusahkan itu.
            Lamunan tentang masa-masa kuliahku pudar ketika mobil hitam ini memasuki basement area. Belum sempat mencermati lingkungan di sekitarnya, mobil hitam mewah milik Levi sudah lebih dahulu terparkir dengan manis di dekat pintu lift. Aku mengerjapkan mata beberapa kali ketika Levi sudah menanggalkan seat belt-nya dan membuka pintu mobil. Aku langsung melompat keluar menembus pintu dan berlari kecil mengejar Levi yang berjalan menuju lift. Tak sampai 1 menit pintu lift di depan mereka terbuka. Kakiku segera melangkah masuk, mengikuti kemana pun Levi melangkah. Levi menekan tombol bernomor 25 dan berdiri diam di depan pintu. Aku berdiri di belakangnya dan memandangi lekat-lekat punggung kekar Levi.
.
.
            “Dari mana kau dapatkan rumus ini?”
            Aku diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk. Mataku lebih suka memandangi semut yang berjalan berputar-putar menabrak ujung sepatuku daripada menatap sepasang mata yang sarat intimidasi itu.
            “Kau ini arca atau manusia? Tidak bisa bicara? Hei, aku bertanya padamu, Jaeger.”
            Aku mendongak sedikit dan melirik sedikit ke arah manik kelabu yang menatapku tajam. Aku meneguk saliva dengan susah payah untuk membasahi tenggorokan yang mendadak terasa kering.
            “Etto...” Aku memeras otakku hingga sepertinya cairan otakku mengering begitu saja, tapi tak membuahkan sebuah jawaban yang bisa memuaskan keinginan si asisten mahasiswa berwajah sengak di hadapanku ini.
            “Kau menyalin pekerjaan seniormu kan?”
            “Tidak.” Tidak kusalin semua, hanya sebagian besar saja.
            “Kalau begitu rumus ini kau dapat dari mana?” cecarnya lagi.
            Tolong ingatkan aku di semester depan untuk banyak berdoa sebelum tugas beserta nama asisten mahasiswanya turun.
            “Rumus ekuivalensi pembebanannya memang seperti itu, senpai, supaya beban trapesium dan beban segitiganya dapat diubah menjadi beban merata.” Aku memuji diriku sendiri yang masih punya nyali untuk menjawab.
            Levi Ackerman, saudara jauh teman sepermainanku yaitu Mikasa Ackerman, sama sekali tidak melepaskanku dari pandangannya. Aku balas menatapnya dengan takut-takut, bersiap untuk disembur dengan berbagai cercaan dan penjelasan teoritis dengan bahasa setingkat dewa yang tidak mampu dimengerti oleh otak standarku ini.
            Satu detik, dua detik, sepuluh detik berlalu, dan hinaan tidak kunjung keluar dari bibir Levi. Ini bukan adegan romansa dimana kedua tokoh utamanya saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini adalah adegan berdarah antara hidup dan mati seorang mahasiswa teknik di tangan asistennya. Maka ketika aku berusaha menyelamatkan diri dari tebing ketidaklulusan dengan sebuah argumen yang sudah berada di ujung lidah, si pria pendek itu sudah terlebih dahulu menghentikan kata-kataku.
            “Belajarlah dulu. Baca buku karangan ikan di perpustakaan. Besok aku ada di sini setelah jam makan siang kalau kau mau asistensi lagi.”
            Kiamat mungkin sudah dekat. Baru kali ini kudengar seorang asisten killer memberikan grasi secara cuma-cuma. Apa aku tidak salah dengar? Levi bicara tanpa nada tinggi dan mengusirku secara halus. Padahal baru sepuluh menit lalu Reiner diusir dengan sebuah remasan kertas laporan berbentuk bola yang mengiringi langkahnya. Aku mengerjap beberapa kali, berusaha menjernihkan otakku yang bisa jadi konslet dan mulai menciptakan halusinasi.
            “Apa lagi yang kautunggu? Mau kutanyai lagi, hm?”
            Aku menggeleng cepat, “Terima kasih, Levi-senpai,” ujarku cepat sambil meraih laporanku di atas mejanya dan membungkuk sekilas, lalu segera mengambil seribu langkah keluar dari laboratorium.
            “Eren.”
            Langkahku yang keseratus terhenti ketika aku mendengar suara rendah itu memanggil nama kecilku. Apa aku perlu memeriksakan telinga ke dokter spesialis THT?
            Aku menoleh dan ternyata Levi sudah berdiri tak jauh di belakangku. Apalagi sekarang?
            “Tolong kembalikan payung ini ke pos satpam,” katanya sembari menyodorkan sebuah payung berwarna biru dongker ke arahku.
            Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum kemudian menerima uluran payung itu. Dan segera setelah aku menerimanya, Levi berbalik dan kembali duduk di balik mejanya. Kesadaranku yang masih tinggi membuatku dengan segera juga berbalik dan berjalan melintasi pintu geser.
            Refleks kuhela napas kuat-kuat setelah berdiri di luar laboratorium, seolah baru saja lolos dari eksekusi hukuman mati terpidana korupsi. Kuelus-elus dadaku, berusaha menenangkan debaran jantung yang sejak tadi memang tak kunjung berhenti.
            “Selamat... Selamat...” gumamku dengan penuh rasa syukur.
            Di depan pintu laboratorium yang tertutup itu aku sibuk bersyukur. Untuk kali ini aku benar-benar merasa kalau Tuhan memang masih sayang padaku. Sepertinya aku memang harus banyak berdoa supaya di asistensi berikutnya aku masih bisa kembali dengan bernyawa.
            “Kyaaa!!”
            Suara jeritan Christa dan Sasha membuatku tersadar dari lamunan. Kulihat kedua teman sekelasku itu berlari-lari menerjang hujan sambil mendekap erat-erat laporan dibalik jaket mereka. Di saat seperti ini memang laporan lebih penting dari tubuh sendiri. Daripada laporan yang basah kehujanan, lebih baik kepala dan badanmu yang basah kuyup.
            Aku berdecak kesal. Hujannya cukup lebat. Besar risiko terserang flu kalau aku nekat menerjang tetes-tetes besar air ini.
            “Eren! Kau bawa payung? Kenapa kau diam saja melihat kami kehujanan?” erang Sasha Braus kesal sembari menghampiriku dengan langkah menghentak-hentak.
            Aku cengo selama beberapa detik, sebelum kemudian tersadar dengan keberadaan sebuah payung di tangan kananku.
.
.
Punggung kekar itu berjalan melewati pintu lift yang terbuka. Lekas aku berjalan mengikuti di belakangnya. Mendadak aku merasa horor sendiri. Bukankah adegan ini—seseorang berjalan diikuti oleh arwah penasaran di belakangnya—banyak terdapat di film-film berhantu klasik khas Asia? Aku jadi membayangkan, bisa saja selama ini memang ada arwah yang mengikutiku, seperti aku yang saat ini mengikuti langkah kaki Levi menuju sebuah pintu berwarna coklat tua dengan papan nama Ackerman yang menggantung di sampingnya.
            Tangan Levi mengeluarkan kunci dari saku celananya, lalu memutar kunci pintu dan berjalan masuk. Aku ditinggal di luar. Untuk sekian detik aku berdiri terpaku di sana, hanya menatap daun pintu yang tertutup.
            Apa yang kulakukan? Untuk apa aku mengikutinya sampai kesini?
            Aku berbalik, hendak pergi dari tempat itu. Namun segera setelahnya aku tersadar, pergi pun aku tidak punya tempat tujuan. Maka aku memutar tubuh dan berjalan masuk menembus pintu apartemen itu.
            Aku melangkah ringan, melewati sebuah dapur kecil di sebelah kananku, menuju ke ruang tengah yang berisi rak buku tinggi hampir ke langit-langit dan akuarium berukuran sedang di pojok ruangan dekat balkon. Tidak ada televisi. Di antara dua buah sofa yang saling menghadap hanya ada meja persegi yang dihiasi pot bunga kecil di tengahnya. Di samping rak buku ada bufet kecil berisi bingkai-bingkai foto. Dinding ruangan juga dipenuhi bingaki-bingkai foto berbagai ukuran, ada juga beberapa lukisan bergaya ekspresionis yang terlihat mahal.
            Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Si empunya apartemen tidak terlihat dimana pun. Aku menggerakkan kakiku menuju sebuah pintu di samping bufet. Kulongokkan kepalaku menembus pintu. Remang-remang, hanya sinar bulan yang menyusup di sela-sela jendela yang tertutup korden. Aku mengerjap-ngerjap beberapa kali, membiasakan mata dengan kegelapan. Yang pertama kulihat dalam kegelapan itu adalah sebuah tempat tidur dengan seprai dan selimut putih. Lalu ada lemari pakaian dengan banyak pintu dan meja kerja di sudut ruangan. Ada rak buku lagi. Ada bufet kecil lagi. Ada lebih banyak potret lagi yang memenuhi dinding kamar. Sebagian hanya digantung pada tali yang saling bersilang di ruangan itu, sebagian lagi dipasang rapi dengan bingkai ukuran besar.
Meski terlihat penuh dengan berbagai perabotan dan hiasan namun sama sekali tidak ada kesan sesak dalam ruangan ini. Sebaliknya, ruang tidur berukuran 4x5 meter ini terlihat rapi dan teratur.
            Rasa penasaran membuatku mengabaikan apa yang disebut privasi. Aku masuk ke dalam dan berjalan mendekati rangkaian foto yang menggantung rendah di atas kepalaku. Aku memandangi lekat-lekat satu per satu hasil cetak kamera yang pasti berkualitas tinggi. Aku baru saja ingat, dulu Levi adalah ketua klub fotografi di kampus, yang digandrungi oleh mahasiswi seantero fakultas teknik tanpa terkecuali. Aku yakin mahasiswi kedokteran juga banyak yang menaruh hati padanya. Siapa yang tidak kenal Levi Ackerman? Tidak ada. Mereka hanya tidak mengenali sifat asli si pria berwajah datar itu—kejam, tega menggugurkan adik kelasnya tanpa pandang bulu.
            Aku berhenti di depan sebuah foto yang berada dibalik bingkai setinggi 2 meter. Dari keremangan ini aku tidak melihat dengan jelas foto apa itu, yang pasti ada banyak orang berjubah hitam menjuntai tengah melemparkan topi ke udara secara bersamaan. Sudut pandang foto itu diambil sedemikian rupa hingga nampak langit dengan arak-arak putih. Sungguh sebuah buah karya dari tangan profesional.
            Tetapi... aku merasa tidak asing dengan adegan itu. Dan tempat itu.
‘Klik!’
            Aku terkesiap dan memutar kepalaku dengan cepat. Levi baru saja membuka pintu dan aku langsung melesat ke samping lemari untuk bersembunyi. Levi berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sebuah sentakan pelan, sementara aku merutuki kebodohanku sendiri yang repot-repot bersembunyi padahal sudah jelas kalau aku ini tidak terlihat.
            Levi berjalan ke arah jendela kemudian membuka korden berwarna tortilla itu. Sinar bulan seketika masuk menerangi ruangan. Aku berdiri diam di sebelah tempat tidur, memandangi Levi yang mengambil duduk di atas karpet dengan punggung yang bersandar pada sisi tempat tidur. Kepalanya menengadah dan menumpu di atas kasur. Matanya terpejam erat. Kuputuskan untuk duduk di sebelahnya sambil berdoa agar Levi tidak merasakan hawa dingin menusuk yang membuatnya merinding.
            Tangan kanannya yang menggenggam sebuah kalung diletakkan di atas dahi, membuat bayang-bayang yang menutupi sebagian wajahnya. Cahaya keperakan dari satelit Bumi mengenai kalung itu, menciptakan pendar kilat yang membuatku tertarik untuk mengamatinya lebih dekat. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kunci warna keemasan. Aku mengerutkan dahi, sepertinya kalung itu pernah kulihat di suatu tempat. Tapi memoriku tidak bisa mengingatnya.
.
.
            Panas terik matahari sama sekali tidak menyurutkan senyuman lebarku. Butir-butir keringat yang menuruni pelipisku tidak kupedulikan. Tanganku masih sibuk menerima ucapan selamat dengan jabatan tangan erat.
            “Selamat atas kelulusanmu, Eren,” kata Hannes, teman Papa yang sudah kuanggap seperti ayah keduaku.
            “Terima kasih, Hannes,” sahutku dengan senyum lebar.
            “Siapa sangka bocah sok jagoan yang rasanya baru kemarin menangis karena terus-terusan diikuti oleh Mikasa ini sudah menyandang gelar sarjana.”
            “Jangan mengejekku,” erangku pura-pura kesal dan pasang wajah kecut. Hannes tertawa, aku pun tertawa setelahnya. Mikasa, yang berdiri di samping Mama, menyembunyikan tawa di balik syal merah yang melingkar di lehernya. Syal di hari sepanas ini, aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran Mikasa.
            “Hei Eren,” panggil seseorang dari kejauhan. Aku menoleh dan menemukan Jean Kirstein sedang melambaikan tangan ke arahku. Aku memasang wajah bertanya dan Jean menjawab, “Foto bersama,” serunya di antara lautan mahasiswa yang baru saja diberi gelar pendidikan di belakang nama mereka.
            Aku mengangguk, pamit kepada Mama, Papa, dan Hannes. Mikasa masih sibuk membenamkan wajah di balik syalnya, membuatku hanya melempar senyum sekilas ke arahnya.
            Padatnya manusia di sekeliling auditorium membuatku harus menyela di antara dua orang atau lebih yang sedang mengobrol ringan dan sesekali tak sengaja menabrak bahu mereka. Jean dan teman-temanku yang lain sedang berkumpul di bawah bayang-bayang pohon besar tepat di depan pintu samping, saling bercanda dan menukar tawa. Aku hampir sampai ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tanganku.
            “Eh...” gumamku kaget ketika tangan itu membawaku berusaha keluar dari kerumunan. Aku tidak tahu tangan siapa itu tapi yang pasti kelima jarinya begitu kuat mencengkeram pergelangan tangan kananku hingga aku tak bisa melepaskannya. Entah aku yang tidak bisa melepaskan diri atau tidak ingin melepaskan diri, aku tidak tahu pasti. Yang jelas, aku tidak merasa panik atau khawatir. Genggaman tangan ini terasa begitu dekat dan familiar.
            Ketika akhirnya aku berhasil mencapai pagar dan keluar dari kerumunan, tangan itu melepaskan cengkeramannya. Si empunya tangan itu berdiri tepat di depanku, memunggungiku, memperlihatkan kemeja putih yang menempel di pundaknya karena basah keringat. Tidak perlu waktu sampai semenit untuk bisa mengenali sosok itu.
            “Senpai,” kataku lirih, antara terkejut dan... senang?
            Levi berbalik dengan sebuah buket bunga matahari di tangannya. Dahiku berkerut.
            “Selamat. Akhirnya kau lulus juga, bocah, tidak kusangka.”
            Aku merengut kesal. “Aku memang tidak sepintar Levi-senpai, tapi otakku juga tidak bodoh-bodoh amat.” Aku sudah bosan diejek senior cebol ini selama dua tahun terakhir.
            “Bagus kalau begitu. Buktikan kalau kau memang tidak bodoh di tempat kerjamu nanti.”
            Aku tersenyum lebar lalu mengangguk-angguk dengan semangat. Entah apa penyebabnya tetapi tiba-tiba saja jantungku berdebar. Mungkin ini efek naik panggung wisuda tadi atau mungkin efek dehidrasi karena panas.
            Tanpa sepatah kata, Levi menyodorkan buket bunga itu kepadaku. Aku memandang beberapa tangkai bunga berwarna cerah ini selama beberapa detik sebelum kemudian menerimanya. “Terima kasih,” ucapku tulus sambil tersenyum tipis.
            Levi hanya mengangguk sebagai jawaban dan kemudian kami hanya saling diam selama beberapa detik yang terasa seperti seabad. Aku sibuk memandangi bunga dalam genggamanku dan Levi sepertinya sibuk membuang muka ke arah lain, melihat apa saja selain aku.
            “Eren!” Aku mendengar suara Armin yang berteriak di kejauhan. Aku menoleh dan mendapati kepala berambut pirang itu tengok kanan kiri, sibuk mencariku.
            “Pergilah,” kata Levi pelan sebelum aku sempat pamit.
            Gantian aku yang menjawab dengan anggukan. Aku tersenyum lagi ke arahnya sebelum kemudian berbalik hendak menemui Armin. Namun langkahku terhenti ketika Levi kembali memanggil namaku dengan nada rendah khas suaranya.
            “Eren.”
            “Hm?” Aku menoleh dan melemparkan pandangan bertanya.
            “Bersyukurlah karena kau tidak perlu sewa studio untuk berfoto bersama teman-temanmu dengan toga itu.”
            Dan aku baru sadar kalau sedari tadi sebuah kamera DSLR tersampir dengan tenang di pundak kirinya.
.
.
.
Aku menggeliat. Sepasang mataku terbuka dan langsung menyipit karena silau sinar matahari yang menembus langsung melalui jendela di depanku. Kuhalangi mataku dengan telapak tangan. Hasilnya nihil. Tentu saja, karena tubuhku transparan.
            Aku menoleh kanan kiri. Kosong. Dimana ini?
            Oh aku masih ingat, kemarin aku mengikuti Levi hingga ke apartemennya. Semalam aku duduk di sebelahnya. Sekarang langit di luar sudah terang. Berarti hari sudah berganti. Ternyata arwah masih bisa tidur juga, pikirku.
            Aku menggeliat, meregangkan tubuh dengan merentangkan tangan ke atas tinggi-tinggi. Mataku mencari sesosok pendek ke sekeliling ruangan. Sepi. Tidak ada siapa pun.
            Aku bangkit berdiri. Lagi-lagi aku tidak punya tempat tujuan. Mungkin ini sudah saatnya aku pergi ke gereja, berdoa sembari menunggu jemputan dari langit. Aku sudah bersiap akan melompat keluar dari jendela, ketika untuk yang terakhir kalinya aku menoleh ke arah potret setinggi 2 meter yang menarik perhatianku semalam.
            Alis tebalku bertaut. Sebuah lorong di sudut ruangan yang tingginya tak sampai setinggi badanku terletak di sudut ruangan, tak jauh dari foto itu, tersembunyi dan tersamarkan dengan sangat baik. Aku mengendurkan ancang-ancangku dan menatap ke kegelapan yang mengundang untuk didatangi itu. Kubalikkan badan dan berjalan perlahan ke arah lorong itu. Semenit aku berdiri terpaku di depannya. Kemarin malam aku sama sekali tidak menyadari keberadaan lorong kecil itu. Mungkin karena gelap.
            Mendadak ada aura mistis. Tetapi mengingat keberadaanku yang tak kalah mistisnya, aku memutuskan untuk masuk ke sana. Lorong itu kecil, tingginya hanya sekitar 150 cm dan lebarnya hanya cukup untuk dilewati satu orang. Panjangnya tak sampai 1 meter dan di ujungnya ada pintu kecil. Tak perlu repot untuk memikirkan apakah pintu itu terkunci atau tidak, aku berjalan menembusnya dengan mudah.
            Gelap. Aku mengerjap-ngerjap, berusaha membiasakan mata dengan minimnya cahaya. Pendar kemerahan yang memenuhi ruangan membuat kelopak mataku berkedip tak percaya. Aku memang tidak tahu banyak tentang fotografi, tetapi setidaknya aku suka menonton film. Dan aku tahu benar dimana kakiku berdiri sekarang.
            Sebuah kamar gelap. Luasnya kira-kira 3 meter dikali 4 meter dan sedikit lebih besar dari kamar tidurku. Langit-langitnya tak terlalu tinggi, kurasa hanya beda 1 meter dengan puncak kepalaku. AC yang menempel di dinding membuat udara dalam kamar gelap ini terasa dingin. Aku berjalan mengitari ruangan, menyentuh setiap alat-alat yang berada di setiap sisi dinding dengan telapak tangan tembus pandangku. Peralatan itu sungguh asing, entah untuk apa kegunaannya. Namun aku tidak bisa memungkiri kekagumanku. Levi benar-benar seorang fotografer profesional, aku semakin yakin dengan fakta itu.
            Langkahku terhenti di depan deretan foto-foto yang tergantung berjajar rapi di sebuah hanger setinggi tubuhku. Foto-foto itu mungkin baru selesai dicetak, entahlah aku juga tidak tahu. Kupandangi satu per satu potret itu dengan kening berkerut. Setiap momen yang diabadikan oleh lensa kamera itu tampak tidak asing bagiku. Yang ini memotret bangku penonton di stadion kampus ketika pertandingan basket antarfakultas diselenggarakan 3 tahun lalu. Aku bisa menemukan wajah berseri-seri milikku dengan mulut terbuka memberi semangat kepada Reiner Braun dan Marco Bott, si center dan si shooter. Rambut pirang Armin begitu mencolok di sebelahku dan syal merah Mikasa terasa mencolok di tempat seperti itu.
            Di samping foto itu ada foto sekumpulan mahasiswa yang sedang tertidur di koridor kampus dengan fasilitas seadanya, sudah layak kalau disebut gelandangan. Alasnya lantai yang dingin, tas dijadikan bantal, dan selimut hanya berupa jaket, itu pun tidak semuanya membawa jaket pada malam itu. Aku ada di sana. Di sudut dengan posisi duduk meringkuk bersandar pada dinding. Jaket kulit yang kupakai itu milik Jean yang kuambil diam-diam ketika dia sudah sibuk dengan dengkurannya. Kenangan itu masih terasa hangat dalam ingatan. Status masih mahasiswa baru yang polos dan bersemangat, yang dengan senang hati mau saja menginap di kampus demi sebuah antrian asistensi. Namanya saja mahasiswa baru, semangatnya masih berapi-api demi menyelesaikan tugas. Nantinya seiring berjalannya waktu, kau akan tahu saat dimana harus mengejar dan harus melepaskan. Semakin banyak semester yang terlewati, maka kelapangan dadamu akan semakin terasah. Benar-benar belajar untuk ikhlas.
            Di sebelahnya lagi, ada foto saat upacara penerimaan mahasiswa baru. Lagi-lagi tidak sulit mengenali kepalaku karena di sebelahku ada rambut pirang Armin yang mudah menarik perhatian dan wajah kuda Jean yang kata orang lain wajah tampan milik model. Mungkin maksudnya model iklan penawaran liburan seminggu bertema bermain matahari ke sebuah ranch di pedesaan.
            Menelusuri deretan foto-foto ini membuatku bernostalgia dengan memori-memori indah ketika aku masih hidup, masih menjadi manusia. Ada sedikit rasa nyeri di dada ketika mengingatnya. Mengingat aku tidak bisa lagi bertemu dan menghabiskan quality time bersama mereka. Mama, Papa, Hannes, dan teman-teman di kelompok 104. Sial, kenapa baru sekarang aku merasa begitu sendiri?
            Kakiku berhenti di foto paling ujung. Kupandangi foto itu lekat-lekat di tengah keremangan. Jantungku tiba-tiba saja berdebar aneh. Sekilas aku merasakan hangat di dadaku, yang lalu hilang karena udara dingin AC. Sosok pemuda dengan kemeja putih berbalutkan jas hitam dan dasi berwarna senada rapi di balik kerah tengah tertawa lepas. Foto itu diambil close up sehingga aku benar-benar bisa melihat guratan-guratan senyum di wajahnya. Latarnya sebuah pintu kaca buram yang setengah terbuka, dengan tulisan ruang sidang menempel di depannya. Antara percaya dan tidak, kuakui sosok pemuda dalam foto itu adalah aku. Mataku menyipit untuk melihat tanggal yang tertera di ujung kanan bawah. Tanggal 30 Maret. Itu tanggal ulang tahunku dan tanggal sidang tugas akhirku. Aku tidak mungkin lupa.
            Aku diam memperhatikan foto itu lama dengan perasaan yang bercampur aduk karena menyadari kesamaan dari sederet foto yang tergantung di depanku ini. Aku. Di setiap jepretan kamera ada aku. Bahkan di foto paling ujung ini hanya ada aku seorang.
            Tergelitik rasa penasaran yang aneh, aku berusaha meraih foto terakhir itu. Aku tidak bisa memegangnya, tentu saja. Lalu entah keinginan apa dan dari mana yang membuatku melongokkan kepala dan mengintip bagian belakang foto itu.
Selamat untuk sidangmu, bocah.
Tidak kusangka kau akan lulus secepat ini.
Padahal aku akan dengan senang hati memberikan asistensi kalau kau mau mengulang untuk tahun depan.
Padahal aku juga telah berjanji dengan diriku sendiri untuk memperbaiki sikapku di depanmu.
Tetapi aku sudah tidak punya kesempatan untuk menunjukkannya padamu.
Bonne chance, Eren Jaeger.
30 Maret 2014
.
.
            “Kurasa aku sudah gila.”
            Armin menoleh dan menatapku dengan alis bertaut dan wajah bingung. “Berarti sebutan ‘bocah nekat tukang cari masalah’ itu memang pantas kau sandang. Kau tahu, Eren, kadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu,” ujar Armin lalu melanjutkan menulis laporannya.
            Aku menghela napas kuat-kuat dan menjatuhkan daguku ke atas meja.
            “Kau ini kenapa sih?”
            Aku melirik dan menatap Armin. “Aku mau menanyakan satu hal yang serius, Armin,” sahutku lalu menegakkan tubuh dan memandang Armin lekat-lekat.
            “Hah?”
            Aku mengambil napas dalam-dalam dan mengumpulkan nyali sebanyak-banyaknya sebelum kemudian berkata dengan suara lirih, “Apa menurutmu aku terlihat gay?”
            Armin tersedak udara dan batuk-batuk. “Eren... kau serius?” tanyanya dengan ekspresi wajah syok.
            Aku menghela napas lagi dan kembali menjatuhkan dagu ke atas meja. “Benar, mungkin aku memang sudah gila. Otakku tidak waras lagi karena tugas-tugas ini,” ujarku setengah frustrasi.
            Armin diam saja. Siapa yang tidak terkejut mendengar pengakuan gay dari temannya sendiri. Aku sendiri terkejut karena bisa berpikir hingga ke situ.
            “Levi-senpai, benar kan?”
            Napasku tercekat ketika mendengar nama itu. Shit, mendengar namanya saja jantungku sudah berdegup tidak karuan. Aku memang sudah gila.
            “Eren,” panggil Armin.
            Aku tidak menyahut dan memilih untuk berusaha menormalkan detak jantung.  Kedua mataku terpejam sembari menarik napas dalam-dalam secara teratur.
            “Aku salut padamu, atas keberanian untuk pengakuan itu.”
            Aku membuka mata dan menatap Armin. “Aku sudah desperate, Armin, dan aku sudah gila karena benar-benar berpikir kalau ternyata aku membelok. Lebih baik kau bunuh aku saja, sebelum Papa atau Mikasa yang membunuhku,” kataku.
            “Jadi kau benar menyukai Levi-senpai?” Armin memastikan.
            Iris hijauku menatap lamat-lamat iris biru Armin selama beberapa detik. “Kurasa iya. Otakku benar-benar sudah rusak. Sial,” erangku.
            Armin meletakkan penanya dan memegang pundakku dengan kedua telapak tangannya. Armin balas memandangku lekat-lekat. Kupasang wajah memelas minta kasihan, kuharap otak cerdas Armin bisa memberikan jalan keluar paling solutif untukku.
            “Aku akan selalu mendukungmu, Eren, kau tidak perlu khawatir,” katanya mantap dengan mata yang tidak berkedip, “Apa kau tahu? Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kalian berdua dan kurasa Levi-senpai juga...”
.
.
Kata-kata Armin di perpustakaan siang itu terngiang di telingaku, membuat detak jantungku semakin tidak normal. Kukira arwah sudah tidak bisa merasakan apa-apa, nyatanya aku masih bisa merasakan kinerja jantungku yang seolah sedang memompa darah kuat-kuat ke seluruh bagian tubuhku. Mungkin sebenarnya aku masih hidup? Tidak. Kau mulai berdelusi, Eren.
            Secepat kilat aku membalikkan badan dan melayang cepat keluar dari kamar gelap ini. Aku sempat menengok sekilas ke arah foto paling ujung sebelum kemudian kilap berwarna keemasan memancar dari bagian bawah gagang pintu. Aku terpaku menatap kunci keemasan yang semalam kulihat di genggaman tangan Levi menancap di sana. Gelayut perasaan aneh kembali menghampiriku. Apa maksudnya?
            Aku melayang cepat menembus pintu sebelum delusi dalam otakku semakin liar. Aku masuk ke lorong kecil itu lagi dan sinar matahari langsung menyapaku begitu aku melewatinya. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera melompat keluar menembus jendela. Tubuhku melayang dengan ringan di udara dan terombang-ambing oleh sepoi angin yang berhembus. Kupejamkan kedua kelopak mataku dan kubiarkan tubuh tidak nyataku ini bergerak dibawa oleh tiupan angin musim gugur.
            Aku berharap semoga Tuhan cepat memanggilku ke surga, sebelum aku mengganti doaku dengan hal-hal mustahil yang tidak mungkin terwujud.
.
.
.
Angin sepoi memang sejuk, namun terlalu lemah untuk mengangkat arwahku ke nirwana. Yang aku butuhkan mungkin angin sekuat puting beliung jika ingin segera sampai di surga—atau neraka? Sekarang aku malah kembali ke tempat ini, tempat tersuram yang sering dijadikan tempat uji nyali oleh anak-anak tetangga di suatu malam pada musim panas.
            Menatap makam dengan nisan yang bertuliskan namamu sendiri kupikir hanya ada di film. Aku mengalaminya sekarang. Bukanlah suatu pengalaman yang patut untuk dibanggakan apalagi dipamerkan.
            Aku berdiri diam di sisi nisanku. Mata menatap lurus ke setiap huruf yang mengukir namaku di tempat peristirahatan terakhir. Kuhela napas. Kuelus nisanku. Baru aku tinggal sehari tetapi makamku sudah dipenuhi dedaunan kering yang gugur. Tumpukan bunga krisan masih ada di sana, beberapa sudah layu mengering, sisanya berguguran kelopak bunganya.
            Tiba-tiba aku merasa kasihan dengan diri sendiri. Setelah mati karena kecelakaan, sekarang justru jadi arwah gentayangan yang tak jelas nasibnya. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan kehidupan setelah kematian. Kukira hanya akan ada kehampaan atau surga dan neraka. Ternyata kemungkinan jadi roh penasaran yang muncul di kamera seseorang benar-benar ada. Aku bukan seorang religius, tapi bukan juga yang percaya dengan hal-hal berbau mistis macam itu.
            “Eren.”
            Aku terkesiap. Mataku membuka lebar, terkejut. Sebuah suara rendah yang tenang dan begitu akrab di pendengaranku, terdengar sangat dekat di telinga. Aku memutar tubuhku dan seketika itu juga badanku membeku kaku.
            Levi berdiri di sana, 2 meter di depanku. Matanya sendu, kantung matanya semakin menghitam, wajahnya tampak kacau. Rambut undercut hitam itu acak-acakan karena hembusan angin yang membawa aroma musim dingin. Mata tajam penuh intimasi itu menatap lurus ke bola mataku, memerangkapku ke dalam dimensinya yang begitu dalam dan gelap.
            “Levi...” Entah nyali dari mana, tiba-tiba saja aku memanggil nama kecilnya tanpa embel-embel senpai.
            Levi bergeming. Dadaku terasa sesak ketika melihat matanya sembab. Kami saling bertatapan tanpa berkedip. Apa Levi bisa melihatku?
            Baru saja aku akan memanggil namanya lagi, Levi berjalan mendekat ke arahku. Tubuhku bergetar. Tanganku mendadak tremor. Satu meter. Setengah meter, dan Levi berjalan menembusku. Tubuhku membias. Masih setengah terkejut, aku menengok ke belakang dan mendapati Levi berdiri di samping nisanku.
            Kurutuki delusi berlebihan yang hampir membuatku mati kedua kalinya karena serangan jantung. Benar, aku arwah penasaran dan Levi manusia. Kami adalah dua makhluk berbeda dunia yang berada di dalam dimensi berbeda. Konyol rasanya berharap Levi bisa melihatku yang transparan ini.
            Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, menahan air mata di pelupuk mata. Arwah sepertiku masih bisa menangis dan masih bisa berdebar, apa aku benar sudah mati?
            Sepertinya langit sedang menghukumku, membuatku bergentayangan tanpa punya tempat di dunia manusia ini. Ah, mungkin aku memang harus pergi ke gereja dan bertobat supaya malaikat segera menjemputku.
            Aku menoleh dan menatap Levi untuk yang terakhir kali sebelum beranjak dari situ. Bahu itu, punggung itu, potongan rambut itu, aku berusaha merekam tiap detail potret tubuh Levi dalam ingatan. Setelah ini aku tidak akan bisa bertemu apalagi melihatnya lagi, maka dari itu aku berharap semoga ingatan ini tidak ikut hilang bersama dengan hilangnya nama Eren Jaeger dari ingatan orang-orang.
            “Selamat tinggal...” Suaraku berbisik dan bergetar, menyatu bersama angin yang berhembus membuat gemerisik riuh dedaunan, “Levi.”
            Detik itu juga tubuh Levi berbalik. Mata tajam itu kembali memandangku lekat-lekat. Jantung fanaku ini mulai abnormal, berdebar keras seolah akan mematahkan tulang rusukku yang juga fana. Ini mungkin delusiku lagi, mana bisa Levi melihatku...
            “Eren?”
            Napas tercekat. Arwah ternyata masih butuh oksigen dan paru-paruku nyeri karena tidak ada udara yang bisa kuhirup. Levi memanggil namaku lagi. Sambil menatapku juga. Apa di sini surga?
            “Eren...” Tangan Levi terulur seolah hendak menyentuhku. Aku membeku di tempat, tidak bergerak.
            “Eren...” Levi memanggilku lagi, kali ini dengan mata yang memancarkan beribu ekspresi.
            Aku menahan napas, berusaha untuk meyakinkan diri bahwa ini bukanlah surga. “Levi,” bisikku lirih yang bahkan aku tidak yakin Levi bisa mendengarnya.
            Sebuah senyum tipis terukir di wajah tampan itu, membuat perasaan lega dan senang membawaku ke awang-awang. Kalau benar ini surga, maka dengan senang hati aku akan tinggal di tempat ini.
            “Levi,” panggilku lagi. Air mata sialan ini tidak bisa kubendung lagi dan seketika pipiku basah karena tangis. Bibirku bergetar, padahal banyak kata yang ingin kuucapkan.
            Tangan Levi masih menggantung di udara. Kuraih tangan itu dengan kedua tangan fanaku. Kugenggam erat dan kuletakkan telapak tangan dingin itu di pipi kiriku. Kedua mataku terpejam ketika merasakan hangat melingkupi separuh wajahku.
            “Eren... Eren...”
            Aku diam, sibuk meresapi kehangatan tangan Levi. Kelopak mataku terbuka beberapa detik kemudian dan kulihat Levi tengah menatapku dengan teduh. Baru saja aku akan menghambur ke dalam pelukannya, ketika kulihat ekspresi wajah Levi berubah.
            Matanya menatap horor ke arahku. Aku takut. Apa Levi takut padaku yang sesosok arwah ini?
            “Jangan pergi, Eren,” pintanya, nadanya penuh pilu.
            Mulutku terbuka dan siap untuk melontarkan seribu satu kata ketika sudut mataku melihat kedua telapak tanganku yang mulai menghilang terbawa angin musim gugur. Perlahan namun pasti, tubuh fanaku mulai pudar, bak embun pagi yang terkena sinar matahari.
            Aku menatap Levi masih dengan berurai air mata. Sementara Levi mengulurkan tangannya lagi, berusaha menggenggam tanganku. Mungkin ini saatnya aku pergi untuk selamanya dari dunia ini.
            “Tidak... Jangan pergi, Eren,” kata Levi dengan nada memohon yang setengah frustrasi.
            Aku menggelengkan kepala. Apa dayaku. Tempatku bukan lagi di atas tanah meski aku masih ingin tinggal di dunia ini. Aku harus pergi.
            “Jangan tinggalkan aku, Eren.”
            Seluruh tanganku sudah menghilang. Ujung kakiku pun mulai menghilang. Waktuku tidak banyak.
            “Aku harus pergi, Levi,” kataku, mati-matian menahan suara agar tidak bergetar, “Terima kasih... untuk semuanya.”
            Bagian tubuh dari pinggang ke bawah sudah tersapu angin. Sebentar, kumohon tahanlah dulu sebentar.
            “Ich liebe dich sein, Levi. Ich werde fĂ¼r dich da sein.”
            “Je t'aime pour toujours et Ă  jamais, Eren Jaeger.”
            Aku bersyukur karena hal terakhir yang aku lihat sebelum menghilang dari dunia ini ada senyumannya.
.
.
.
- TAMAT -
Artikel terkait :
Kosakata :
Bonne chance : Semoga sukses.
Ich liebe dich sein : Aku mencintaimu selamanya.
Ich werde fĂ¼r dich da sein : Aku akan selalu ada untukmu.
Je t'aime pour toujours et Ă  jamais : Aku mencintaimu selalu dan selamanya.

A/N
Selamat sore. Selamat Hari Raya Waisak bagi yang merayakan.
Saya kembali datang dengan fanfiksi RiRen. Belakangan lagi mellow dan emo, maka jadinya fiksi yang angsty seperti ini.
Aku buat ini dalam rangka meramaikan #NulisRandom2015 hehehe. Kelewat sehari sih, habis kemarin malam saya ketiduran jadi lupa mau posting fik ini.
Terima kasih untuk yang sudah berkenan mampir dan membaca. Ditunggu komentar, kritik dan sarannya. Arigachu~~ /peluk dan cium/

2 Juni 2015
14.36 WIB
Tembalang, Semarang

12 April 2015

Glabella

GLABELLA

*          *          *

a Shingeki no Kyojin fanfiction
with RivaEre Relationship
Glabella © Kristalicia Rizki
Disclaimer : I do not own the cast. The cast belong to Isayama Hajime-sensei. This fanfiction belongs to me. This is a non-profitable fanwork.
Rate : T
Warning : Yaoi, BL, OOC, Typo(s).

*          *          *

Bangun pagi adalah kebiasaan hidup yang sudah mendarah daging pada seorang Levi Ackerman. Mau sebanyak apapun aktivitas yang dia lakukan di siang hari sebelumnya, atau semelelahkan apapun rutinitas yang dia lakukan di malam hari sebelumnya, sepasang kelopak mata itu akan secara otomatis terbuka seiring dengan sinar-sinar matahari pagi yang mengintip dari balik tirai kamarnya.
            Levi mengerjap-ngerjapkan matanya sembari meregangkan kedua tangannya ke atas, lalu melirik sekilas ke arah jam weker yang ada di bufet sebelah tempat tidurnya. ‘Sudah jam 6 pagi,’ batin Levi sambil menguap sebentar. Tubuh atletis itu bergerak keluar dari selimut. Namun baru saja sebelah kakinya akan menapak di karpet halus berwarna burly wood, sepasang matanya memberikan perintah lain ke otaknya yang membuatnya mengurungkan niat dan kembali berbaring di tempat tidurnya.
            Sesosok pria berambut eboni yang tengah terlelap dengan damai di sebelahnya menjadi pemandangan pagi hari yang bahkan lebih indah daripada melihat sunrise di puncak gunung. Levi berbaring menyamping dengan kepala yang disangga oleh tangan kirinya. Kedua bola matanya tak lepas memandangi wajah si pria eboni yang sudah 2 tahun ini menjadi kekasihnya, Eren Jaeger.
            Levi sama sekali tidak pernah mengira dirinya akan lebih dari sekadar bersedia untuk berbagi ruang di tempat tidurnya dengan orang lain. Levi tidak pernah menyangka bahwa dia akan sebegitu nyamannya tidur dengan orang lain, mengingat selama ini dia bahkan tidak pernah membiarkan kedua adiknya—Farlan dan Isabel—tidur bersama dengannya.
            Dan ketika melihat wajah polos Eren yang sedang tertidur, Levi sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh kekasihnya. Telapak tangan kanannya yang bebas terulur dan mengelus surai Eren dengan lembut, menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi dahinya. Jemarinya kemudian bergerak mengusap dahi Eren sepelan mungkin, berusaha tidak membangunkan pria eboni itu dari tidur lelapnya. Kemudian ibu jari Levi bergerak turun, mengusap-usap lembut alis tebal Eren yang berada tepat di atas sepasang mata jade yang sedang tertutup.
            Levi begitu menikmati kebiasaannya ini—mengusap-usap alis tebal Eren dengan ibu jarinya—dan Eren juga tidak pernah protes dengan hobi si raven itu. Eren bahkan menyukainya ketika Levi menyentuhnya dengan sayang seperti itu. Dan karena begitu sensitif terhadap sentuhan Levi seringan apapun, tubuh Eren bergerak menggeliat pelan sementara Levi masih membiarkan jarinya mengusap-usap alis Eren.
            Tidak sampai satu menit, kedua iris jade itu terbuka dan mengerjap-ngerjap pelan, membuat Levi tidak tahan untuk tidak mencium dahi Eren.
            “Selamat pagi,” ujar Eren dengan suara serak khas orang bangun tidur, lalu tersenyum tipis sembari mengucek-ucek kedua matanya dengan punggung tangan.
            “Hm, pagi,” sahut Levi singkat. Ibu jarinya kembali bergerak mengusap alis Eren, yang kemudian membuat Eren terkikik geli.
            “Alisku bisa rontok kalau terus kau usap seperti itu, Levi,” kata Eren. Namun bertolak belakang dengan kata-katanya, kedua mata Eren terpejam menikmati sentuhan ringan dari Levi.
            “Kau bisa sulam alis kalau mau,” jawab Levi cuek tetapi berhasil membuat Eren kembali tertawa geli.
            Sepasang bola mata hijau itu kembali terbuka. “Sebegitu sukanya dengan alisku,” gumam Eren sembari memandang Levi lekat-lekat.
            Di mata Levi, Eren yang menatapnya tanpa berkedip seperti itu justru terlihat mengundangnya untuk mencium sepasang iris yang membuatnya menjadi menyukai warna hijau.
            “Tidak boleh?”
            Eren menggeleng cepat. “Kau harus menyukaiku dulu kalau mau suka dengan alisku,” canda Eren, lalu terkekeh pelan.
            Levi mendekatkan wajahnya dan mencium celah di antara kedua alis tebal Eren. Levi menciumnya dalam, membiarkan ungkapan perasaannya mengalir ke pusat saraf Eren. Dan Eren, si pria eboni itu memejamkan kelopak matanya, meresapi kecupan sayang dari Levi.
            “Sudah cukup?” tanya Levi setelah melepaskan bibirnya dari wajah Eren dan menempelkan kedua dahi mereka.
            Eren menggeleng, bibirnya mengulaskan sebuah senyum simpul.
            Levi mencium lagi celah di antara kedua alis Eren. Lebih singkat dari sebelumnya namun sama dalamnya.
            “Sudah?”
            Eren menggeleng lagi, kali ini dengan sebuah senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
            Levi mengecup lagi celah di antara kedua alis Eren. “Kau ini bodoh atau apa, bocah?” tanyanya lagi setelah menghadiahkan sebuah sentilan pelan di kening Eren yang membuat si pria eboni itu mengerang kesal.
            Bibir Eren mengerucut, pura-pura kesal. Berbanding terbalik dengan hatinya yang kalau diibaratkan seperti dalam manga atau anime, dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna merah muda. Eren tahu benar Levi bukan tipe pria romantis yang akan bilang “Aku cinta padamu” sembari menyodorkan sebuket bunga mawar merah. Levi Ackerman, pria raven yang bertubuh lebih pendek darinya ini adalah pria yang menomor satukan tindakan daripada perkataan. Dan Eren paham benar, kecupan singkat di dahinya tadi sudah lebih dari cukup dari sekadar kata cinta.
            “Levi...”
            “Hm?”
            “Terima kasih.”
            Dan Levi kembali mengecup celah di antara kedua alis tebal Eren.
.
.
.
- TAMAT -
Artikel terkait:
http://en.wikipedia.org/wiki/Glabella --> Glabella adalah ruang di antara alis mata.

A/N
Selamat malam. :)
Drabble yang ga tahan untuk ga saya ketik setelah tahu kalau celah di antara kedua alis mata disebut Glabella. Waktu tahu, saya langsung teringat sama alis tebalnya Eren dan jadilah drabble ini, muahahahahaha. :D
Barusan selesai nonton Kuinaki Sentaku dan saya nyesek waktu lihat Farlan dan Isabel mati. T_____T si Heichou bermuka songong itu harusnya bilang aja, “Aku ga mau kalian terluka, makanya kalian ga usah ikut ekspedisi di luar.” Kan kalau ngomong sekalian jelas gitu enak. >///////<
Pokoknya, jangan lupa tinggalkan komentar, kritik dan sarannya yaa. Arigachu. :)
12 April 2015
23.27 WIB
Tembalang, Semarang


3 April 2015

Hujan

HUJAN

"Apa ini?" tanyaku dengan dahi berkerut, menatap sebuah kertas putih tebal terlipat dua yang dibungkus rapi dalam sebuah plastik bening.
"Undangan," jawab pria bermata doe di depanku dengan sebuah senyum manis yang memperlihatkan deretan giginya yang tertata dengan baik.
Aku belum pernah mendapatkan firasat buruk sebelumnya. Ini yang pertama kali bagiku. Dan sebagai pengalaman pertama, keringat dingin dan debaran jantung yang cepat kurasa sudah cukup berlebihan untuk sebuah respon tubuh terhadap sesuatu yang masih diselubungi kabut misterius.
Kuulurkan tanganku mengambil undangan yang diletakkan persis di depan cangkir kopi hitamku. Aku membaca tiap huruf yang tertera di lembar muka. Ada namaku tertulis di pojok kanan bawah. Di pojok kiri atas ada gambar siluet sepasang pengantin. Di tepiannya dihiasi oleh untiran bunga-bunga warna merah muda, putih, dan merah. Tepat di bagian tengah lembar itu, ada inisial dua huruf J.
Aku melirik sekilas ke arah pria bermata doe itu, Kim Jaejoong, yang tengah memainkan jemarinya di atas ponsel layar sentuh berwarna putih tulang miliknya. Suara plastik yang teremas mengisi keheningan di antara kami. Aku mengeluarkan undangan itu dari plastik pembungkusnya dan menatap sekali lagi pada inisial di lembar awal.
Jaejoong bisa disingkat JJ. Tapi kurasa bukan itu maksudnya. Otakku masih cukup pintar untuk tidak mencoba menipu diri sendiri dengan menganggap JJ itu adalah inisial dari Jaejoong.
Aku membuka lipatan kertas tebal itu. Menahan diri untuk tidak terburu-buru mencari nama si tokoh utama di acara pernikahan ini, aku membaca kata demi kata urut dari bagian paling kiri atas.
Aku bohong kalau berkata aku baik-baik saja. Baru paragraf pembuka yang kubaca saja, dadaku sudah terasa nyeri. Aku munafik kalau bilang aku tidak takut. Andai saja aku bukan pecundang, mungkin aku sudah mengatakan dengan lantang isi hatiku pada Jaejoong detik ini juga.
Pasukan oksigen ke paru-paruku agak tersendat ketika akhirnya aku menemukan nama Jaejoong di sana. Dan sebuah nama wanita yang kukenal terpatri tepat di bawah nama Kim Jaejoong membuatku jantungku serasa diremas-remas dengan kuat, sakit hingga ke ulu hati. Saat itu juga aku jadi ragu untuk bersyukur karena aku bukan terlahir sebagai seorang yang buta aksara. Aku bisa membaca dengan jelas dan mencerna dengan baik arti dari serangkaian kata dalam suatu kalimat, tapi untuk yang satu ini aku sangat berharap mendadak jadi idiot yang tidak mengerti apa-apa.
Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri bila momen ini datang dalam hidupku. Sungguh! Aku benar-benar sudah berusaha memantapkan diri untuk setiap kemungkinan terburuk yang terjadi. Yang sama sekali tak kupahami adalah mengapa hati ini tetap terasa sakit? Mengapa dada ini tetap terasa sesak? Bahkan mataku mulai memanas. Sepanjang hidp aku selalu berusaha berpikir serasional mungkin dan mengedepankan logika. Akan tetapi memang benar kata orang banyak, kalau sudah menyangkut soal perasaan dan cinta, kata rasional dan logika sudah dihapus otomatis dari daftar kosakata dalam otakmu.
"Kau harus datang, Yun," Jaejoong berujar ringan, membuatku mengalihkan pandangan dari undangan yang sudah kusut di bagian yang kucengkeram dan menatapnya lekat-lekat.
Aku berdeham pelan dan menelan ludah, berusaha menjernihkan tenggorokan yang mendadak terasa kering kerontang. "Mendadak sekali. Apa ini kejutan untukku?" Aku berusaha membuang jauh-jauh nada sarkatis dari kalimatku barusan.
Jaejoong tertawa. Tawa khasnya yang selalu berhasil mengundang sebuah senyum di wajahku. Namun untuk kali ini, aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Wajahku terasa kaku dan bibirku terasa kering. Mulutku bahkan terasa pahit.
"Anggap saja begitu, Yun," sahut Jaejoong, masih dengan sisa-sisa tawanya.
Akhirnya kupaksakan sebuah senyum tipis. Aku menghindari kontak mata dengan Jaejoong dan kembali menatap undangan pernikahan dalam gengaman tanganku. Aku membaca alamat gerejanya. Kuingat-ingat dahulu hari ini tanggal berapa sembari membaca tanggal yang tertera di situ.
Tunggu! Sekarang tanggal 31 Maret dan di undangan itu tertera tanggal 1 April. Tanggal 1 April sama dengan April Mop. Apa mungkin...
* * *
a YUNJAE fanfiction
Hujan © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : T
Warning : YAOI, BL, OOC, Possibility of typo(s), Sad ending.
* * *
Aku berharap aku bisa membohongi diriku sendiri dengan menganggap undangan pernikahan dari Jaejoong ini adalah lelucon untuk April Mop besok. Aku membayangkan, besok ketika semua orang yang diundang oleh Jaejoong sudah duduk rapi memenuhi deretan kursi di dalam gereja, sang tokoh utama yaitu Kim Jaejoong akan datang memasuki altar sambil berkata "April Mop! Kalian tertipu," lalu tertawa keras. Aku membayangkan betapa melegakannya hal itu kalau benar pernikahan ini hanya lelucon belaka. Betapa saat itu mungkin aku tidak akan bersungut-sungut karena telah ditipu di hari tipuan, melainkan ikut tertawa keras. Bisa saja aku malahan akan menangis terharu saking senangnya.
Tetapi lagi-lagi pikiranku masih rasional. Otakku masih bisa berpikir jernih bahwa sebuah pernikahan adalah hal sakral yang sama sekali tidak pantas dijadikan lelucon. Aku jadi ingin membenturkan kepala ke tembok untuk menghilangkan delusi yang menyedihkan barusan.
"Oh iya aku baru ingat harus menjemput noona dulu," kata Jaejoong sambil memasukkan ponsel ke balik saku jasnya dan mengeluarkan dompet, "Aku duluan ya, Yun."
"Aku juga sudah selesai," tandasku cepat sambil melipat kembali kertas undangan itu dan memasukkannya kembali ke dalam plastik.
Sepasang mata Jaejoong mengerjap beberapa kali sebelum kemudian dengan sorotan mata hangat yang selalu kusuka dia berkata, "Baiklah. Hari ini aku yang traktir ya."
Beberapa lembar uang diletakkan Jaejoong di atas meja segera setelah dia memundurkan kursinya dan bangkit berdiri. Mataku tak lepas memandang Jaejoong, sepasang kakiku melangkah di balik punggung Jaejoong yang berjalan keluar dari coffee shop langganan kami.
Langit siang itu gelap, matahari sama sekali tidak terlihat dan awan putih berubah menjadi awan hitam. Angin dingin yang berhembus membawa aroma hujan yang begitu kuat, lembab dan dingin. Tepat setelah aku dan Jaejoong keluar, tetes-tetes air dari langit mulai jatuh membasahi bumi.
"Hee... kenapa tiba-tiba turun hujan?" keluh Jaejoong. Aku yang berdiri di samping Jaejoong hanya diam dan memandang sendu ke arah langit mendung yang menggantung di atas kami.
"Aish... aku kan tidak bawa payung," keluh Jaejoong lagi, membuatku menoleh dan memandang wajahnya yang tampak gusar memandangi jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
Entah inisiatif ini datang dari mana, tiba-tiba saja tanganku sudah bergerak melepas mantel abu-abu yang melekat di tubuhku dan memayungkannya ke atas kepalaku dan Jaejoong. Jaejoong segera menengok ke arahku dan menatap heran campur bingung.
"Dimana kau parkir mobil?" tanyaku di tengah suara hujan yang kian deras.
Aku mengikuti arah telunjuk Jaejoong. Jaejoong menunjuk mobilnya yang ada di seberang jalan, di depan sebuah toko roti yang berjarak sekitar 50 meter dari posisi kami sekarang.
"Ayo," ujarku dan bersiap untuk lari menerjang hujan.
"Eh?"
"Cepat, sebelum hujannya makin deras," imbuhku.
Tetapi Jaejoong hanya berdiri diam sambil menatap ragu ke arahku. Sepasang doe eyes itu malah menatap khawatir ke arahku. Oh, tidak bisakah kau berhenti membuatku lemah jantung seperti ini, Jaejoong?
Aku merapatkan diriku ke Jaejoong dan dengan lengan atas tangan kiriku aku mendorong pundak Jaejoong agar segera mengikutiku menerobos hujan. Aku menaungkan sebagian besar mantelku ke atas kepala Jaejoong, melindungi pria ini dari tetes besar hujan yang menyakitkan.
"Terima kasih, Yunho," kata Jaejoong saat kami sudah berdiri di samping pintu mobilnya.
"Cepatlah masuk, nanti kau kedinginan," ujarku dengan agak mengigil. Bagian kanan tubuhku hampir basah kuyup dan angin kencang yang bertiup membuatku hampir bersin-bersin.
Jaejoong mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan masuk ke dalam mobil. Jendela di samping Jaejoong turun perlahan saat aku hendak berlari pergi ke tempat beratap. "Masuklah Yun, aku akan mengantarmu sampai ke mobil," katanya.
"Tidak usah repot-repot Jae, aku parkir dekat sini kok. Bukankah kau harus menjemput noona? Kaa, pergilah. Sampaikan salamku untuk noona ya."
Aku tersenyum ke arah Jaejoong. Dia hendak memaksaku masuk ke dalam mobilnya namun kata-katanya terhenti di pangkal tenggorokan karena kakiku yang sudah melangkah pergi lebih dulu.
"Besok kau harus datang, Yun!" seru Jaejoong di belakangku. Aku menghentikan lariku seketika dan berdiri diam beberapa detik. Ah, lagi-lagi dadaku terasa sesak sampai untuk bernapas saja sulit. Energiku juga tiba-tiba saja menguap, atau mungkin meresap ke dalam tanah tempatku berpijak bersama dengan air hujan. Aku mungkin akan ambruk begitu saja jika kaki-kakiku yang bergetar ini tidak kupaksa untuk tegar berdiri.
Aku membalikkan tubuhku dan kulihat Jaejoong yang melongokkan kepalanya dari balik jendela mobil. Dasar bodoh, kepalanya kan bisa pusing kalau begitu.
Aku hanya berdiri terpaku di tempat. Aku tidak ingin menjanjikan padanya kalau besok aku akan datang ke upacara pernikahannya, tapi Jaejoong yang menanti jawabanku sambil membiarkan helai-helai rambut pirangnya basah karena hujan membuatku mau tak mau menganggukkan kepala. Dari kejauhan ini aku masih bisa melihatnya tersenyum lembut, senyum yang selalu membuatku merasa tenang.
Dengan susah payah kuulaskan sebuah senyum, berharap Jaejoong bisa melihatnya meski hanya segaris tipis bibirku melengkung. Setelah itu Jaejoong melambai dan kepalanya menghilang di balik mobilnya. Sedetik kemudian roda-roda mobil Jaejoong berputar, dan pergi melintasi hujan yang makin deras hingga membuat jarak pandang memendek.
Aku masih berdiri diam di tempatku. Keinginan untuk berteduh sudah hilang entah kemana dan aku terus menatap lekat mobil Jaejoong hingga benar-benar tidak terlihat. Seketika itu juga jiwaku terasa kosong. Hampa. Gelap. Sunyi. Dan sendiri.
Kepalaku menengadah, menatap pada langit yang terus menitikkan air ke bumi. Hujan terus turun dengan derasnya, yang sukses membuat sekujur tubuhku basah dan kedinginan. Aku bersyukur siang ini hujan. Karena hujan, aku tidak perlu bersusah payah menyembunyikan air mataku.
* * *
Rain.
Even heaven knows that I miss you already.
* * *
- TAMAT -


P.S

Minggu ini adalah minggu ter-emo saya. >////<
Mulai dari Jaejoong's enlistment, libur Paskah yang dipakai buat ngerjain tugas juga, teary Yunho dan Changmin di konser Tohoshinki di Tokyo Dome kemarin, sampai tadi SM resmi bilang kalau Yunho entry military tahun ini. :"(
Kokoro saya ini ga kuat, maka jadilah fic ini buat pelampiasan saya, huahahahahahaha.

Inspirasinya dari hujan yang katanya turun pas tanggal 31 Maret kemarin dan dari tweet seorang Cassiopeia di timeline saya yang kurang lebih berbunyi, "Heaven is letting Jaejoong know that we miss him already."

Saya seriusan kangen sama Jaejoong. Dan ga kebayang nanti kalau Yunho masuk wamil... T______T Tapi saya bangga sama mereka. :") Jaejoong, kamu harus sehat-sehat ya di sana. Sampai ketemu di Desember 2016. :")
Meski ga bisa nganterin mereka, I wish I could attend their comeback. :") Semoga saya bisa hadir di konser comeback mereka, entah konser di Jepang atau di Korea, amiiiin. :)

Entah gimana, belakangan saya suka bikin broken pairing gara-gara undangan pernikahan. Kemarin Riren, sekarang Yunjae, hahahahahahahahaha. xD mohon maafkan kenistaan saya ini.

Terakhir, mohon komentar, kritik, dan sarannya. Arigachu~~ ^^

8 Maret 2015

Makan Malam Terakhir

MAKAN MALAM TERAKHIR

*          *          *

a Shingeki no Kyojin fanfiction
with RivaEre Relationship
Makan Malam Terakhir © KurosawaReika
Disclaimer : I do not own the cast. The cast belong to Isayama Hajime-sensei. This fanfiction belongs to me. This is a non-profitable fanwork.
Rate : T
Warning : BL, OOC, Typo(s), Broken!Riren. Feel free untuk menimpuk saya setelah baca fic ini, haha.

*          *          *

Klik!
            Suara pintu kunci yang diputar membuat seorang pria raven menolehkan kepalanya ke belakang sekilas, mengalihkan perhatiannya sejenak dari potongan daging sapi dan anggur yang ada di hadapannya. Daun pintu yang terbuka perlahan menampakkan sesosok pria beriris hijau zamrud dan berambut eboni yang terbalut mantel berwarna selaras dengan rambutnya dan syal abu-abu yang melingkar di leher, tengah sibuk membersihkan sisa-sisa salju dari atas kepalanya. Sementara pria beriris hijau itu melangkah masuk ke dalam apartemen, sang pria raven sudah kembali sibuk dengan bahan-bahan makanannya.
            Si pria eboni melepaskan sepatunya dan meletakkan mantelnya di gantungan, lalu berjalan masuk dengan tatapan yang tak lepas dari pria raven yang tengah memunggunginya. Tasnya diletakkan di atas meja kaca berbentuk persegi yang ada di depan televisi di ruang tengah. Kakinya berhenti melangkah dan si pria eboni ini kini berdiri di depan counter dapur.
            Merasa ada sepasang mata yang memperhatikannya, si pria raven  menengok ke belakang dan kedua bola matanya bertemu dengan sepasang bola mata hijau.
            “Kalau sudah pulang ucapakan salam, bocah.”
            Si pria eboni tersenyum tipis, “Aku pulang.”
            Levi Ackerman, si pria raven itu mendengus pelan dan kembali sibuk dengan peralatan dapurnya. Hanya dengan sebuah celemek hitam pendek yang melingkar di pinggang, sudah cukup untuk membuat pria bertubuh kekar namun pendek itu terlihat sangat...
            “Aku tahu aku tampan, tapi punggungku bisa berlubang kalau terus kaupandangi seperti itu, Jaeger.”
            Si pria eboni itu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dari sebelumnya. “Kata siapa kau tampan?” ujarnya lalu berjalan mengitari counter dan berdiri di samping Levi.
            “Jadi apa? Mempesona?”
            Eren Jaeger, si pria eboni itu, tidak meneruskan candaan mereka karena perhatiannya kini tersita pada makan malam yang tengah dimasak oleh sang koki handal. “Beef bourguignon?” tanyanya dengan nada penuh minat.
            Levi melirik sekilas dan tersenyum kecil, meski senyum itu tak berpengaruh banyak pada ekspresi wajahnya yang kata orang-orang sedatar tembok China. “Ada komplain?”
            Eren menggeleng cepat, “Katamu makan malam hari ini foie gras?”
            “Tadi aku tidak menemukan hati angsa yang bagus, jadi kubeli saja daging sapi ini,” jawab Levi sambil lagi-lagi melirik sekilas ke arah Eren.
            “Hm...”
            “Daripada kau terus berdiri di situ dan merusak konsentrasiku, lebih baik kau duduk manis saja di balik meja makan, bocah.” Levi serius dengan kata-katanya tanpa ada maksud terselubung. Eren yang berdiri di sampingnya sambil terus memandanginya bisa membuatnya lupa untuk meneruskan acara memasaknya dan memilih makan malam dengan hidangan yang lebih lezat dari beef bourguignon.
            Eren tertawa kecil lalu berbalik, “Iya iya, galak sekali sih.”
            “Jangan lupa cuci tangan dulu sebelum menyentuh apapun.”
            Eren berhenti melangkah ke ruang tengah dan kembali memandang punggung Levi yang berbalutkan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. “Kalau aku mau menyentuhmu berarti aku harus cuci tangan dulu?” canda Eren dengan senyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
            Levi berbalik dengan seringai yang lagi-lagi tak berpengaruh banyak pada ekspresi wajahnya, “Aku akan memberi pengecualian kalau kau mau melakukannya sekarang, bocah.”
            Eren tertawa lagi lebih keras dari sebelumnya dan kemudian memilih untuk segera beranjak ke kamar mandi sebelum Levi benar-benar menanggapi serius candaannya itu. Tangan Eren yang sudah berada di gagang pintu kamar mandi terhenti pergerakannya dan sepasang mata hijau itu menoleh, kembali menatap Levi. Cengkraman Eren pada gagang pintu itu menguat, seolah dengan melakukan hal itu bisa menguatkan hatinya juga.

.
.

            “Kau bertemu dengan si kuda lagi hari ini?”
            Eren menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuapkan sesuap tomat dan kubis dari piring saladnya. “Namanya Jean Kirstein, Levi,” protes Eren yang hanya ditanggapi dengan sebuah kedikan bahu oleh Levi. “Dan dia itu rekan kerjaku. Jawabannya pasti kau tahu sendiri,” jawab Eren cuek dan kembali mengisi mulutnya dengan salad.
            “Aku akan menyuruh Hanji memindahkan si kuda itu ke divisi lain. Aku tidak suka wajahnya, terlihat mesum.”
            “Levi,” erang Eren. Sebuah tatapan dingin dilemparkan Levi ke sepasang iris hijau itu, membuat Eren memilih untuk diam saja. Dalam hati Eren berdoa agar bosnya, Miss Hanji bisa memaklumi kemauan aneh bin ajaib seorang Levi Ackerman ini. Mereka berdua sudah lama bersahabat, pasti Miss Hanji mengerti benar tingkah pola dan sifat Levi.
            Dan sebelum Levi membahas hal ini lebih lanjut, Eren buru-buru menambahkan, “Dapat foto bagus hari ini?”
            Levi mengedikkan bahu sembari mulai menyantap hasil masakannya. “Seharian ini cuaca berawan, sama sekali tidak mendukung.”
            Eren hanya menggumam dan kepalanya mengangguk-angguk. Piring saladnya sudah kosong dan sepiring beef bourguignon di sebelahnya sudah memanggil-manggil untuk juga segera disantap. Namun kedua tangan Eren tak bergerak dari tempatnya. Sepasang kristal hijaunya pun hanya menatap lurus ke arah piring yang kosong. Benaknya mengawang-awang di udara. Jelas Eren sedang melamun.
            Melihat piring milik Eren yang berisi daging sapi yang dimasak dalam anggur merah itu dianggurkan seolah eksistensinya tidak ada itu, membuat Levi menghentikan gerakan garpu dan pisaunya dan menatap Eren lekat. Si eboni yang begitu larut dalam angan-angan hingga tidak sadar sedang dipandangi oleh si raven, mengundang kerutan dalam di dahi si raven.
            “Eren...” panggil Levi.
            Eren tidak bereaksi.
            “Eren...” panggil Levi lagi.
            Eren masih melamun.
            “Hei, bocah.” Kesabaran Levi itu selalu diibaratkan oleh Hanji seperti setipis isi pensil mekanik.
            Eren tersentak dari lamunannya. Matanya terkaget menatap iris hitam Levi yang memandangnya lekat-lekat. “A-ah... Kau bilang apa tadi, Levi?”
            “Ada apa?” tanya Levi, tidak mau repot menjawab pertanyaan yang dilontarkan Eren.
            Eren kembali terdiam dan kepalanya tertunduk, menghindari kontak mata dengan kristal hitam Levi.
            Levi sungguh tidak sabar melihat tingkah aneh Eren. Dia butuh penjelasan, segera. Maka dari itu, Levi meletakkan garpu dan pisau makannya lalu menatap Eren lebih lekat lagi. Kali ini ditambah dengan sorot mata yang menuntut penjelasan.
            “Kau habis berciuman dengan si kuda itu?” tuduh Levi tanpa ragu. Ah pria yang satu ini, selain tidak suka berbasa-basi, kata-katanya juga frontal sekali.
            Eren mengangkat kepalanya dan refleks menggeleng cepat. “Sejak kapan aku mau mencium kuda,” kilahnya sambil mengerucutkan bibir.
            “Lalu apa? Kau dipecat oleh waria itu?”
            “Memangnya aku salah apa sampai Miss Hanji memecatku?”
            “Lalu apa, bocah?! Katakan padaku isi kepalamu sekarang.”
            Mulut Eren bungkam lagi dan kesabaran Levi kali ini benar-benar sudah pada batasnya.
            “Katakan padaku sekarang atau aku akan memaksa. Kau tahu seperti apa kalau aku sudah memaksamu, Jaeger.”
            Tangan Eren yang tersembunyi di balik meja makan meremas celana jins di bagian lututnya. Bibir bawahnya digigit dan sesekali bola matanya menghindar dari tatapan Levi. Eren gugup. Hatinya sama sekali belum siap. Namun Levi yang duduk di hadapannya tidak bisa membuatnya mengelak lagi. Benar kata Levi, Eren harus mengatakannya sekarang. Sekarang atau tidak sama sekali.
            Sebuah helaan napas pelan dari Eren membuat Levi bersiap melontarkan kata-kata desakannya. Akan tetapi kata-kata Levi tercekat di pangkal lidahnya ketika dilihatnya Eren menyodorkan sebuah undangan pernikahan padanya.
            Iris hitam itu menatap heran undangan pernikahan di hadapannya dan Eren bergantian. “Apa ini?” tanyanya pada Eren yang hanya menundukkan kepala dalam-dalam.
            Tidak mendapat jawaban membuat Levi mau tak mau mengambil undangan itu dari tangan Eren. Ditatapnya Eren sekali lagi sebelum membuka undangan tersebut.
            Sepasang mata Levi terbelalak membaca nama yang tercantum dalam undangan tersebut. Dan meskipun wajahnya terkenal sedatar tembok China, akan ada pengecualian untuk kali ini. Eren, yang sudah mengangkat wajahnya dan menatap detik demi detik perubahan ekspresi Levi, bisa melihat dengan jelas keterkejutan dari wajah si raven itu.
            Rahang Levi mengeras, begitu pula dengan cengkraman tangannya pada undangan di tangannya itu, membuat kertas berwarna putih tulang itu berkerut di kedua sisinya. Dilemparkannya tatapan tajam ke arah Eren yang sedang balas menatapnya dengan mata yang... berkaca-kaca?
            Sekian menit berlalu tanpa ada satu pun dari kedua pria ini yang bicara. Mereka hanya saling bertukar pandang dalam keheningan malam di musim dingin itu. Levi sendiri benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Kepalanya berdenyut sakit, begitu pula di ulu hatinya. Levi benci mengakui kelemahannya, tapi untuk kali ini si pria raven tersebut tampak ingin mengerang sekeras-kerasnya. Ah... apakah ini yang namanya patah hati?
            “Maaf...” Suara lirih Eren memecah keheningan, “Maafkan aku, Levi.”
            Rasanya Levi ingin bangkit berdiri dari kursinya dan mencengkram kerah baju Eren kuat-kuat. Namun nyatanya pria dengan tinggi badan 160 cm ini hanya terpaku di tempatnya. Mulutnya yang ingin menuntut penjelasan pun hanya terkatup rapat. Koordinasi tubuhnya sudah di luar kehendak otaknya. Dan ini semua karena rasa sakit di hatinya yang begitu dominan.
            “Aku... aku...” Eren sendiri tampak kesulitan harus memulai penjelasannya dari mana. Kepalanya kini tertunduk dalam dan mati-matian Eren berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Sungguh perasaannya sangat hancur sekarang, sehancur yang mungkin dirasakan Levi.
            “Levi,” panggil Eren lirih ketika melihat si raven yang sejak tadi sama sekali tidak bicara.
            Levi hanya menatap lurus ke arah Eren tanpa ada satu kata yang terucap. Otaknya sibuk berusaha untuk berpikir serasional mungkin. Grisha dan Carla Jaeger, kedua orangtua Eren, memang tidak pernah merestui hubungan mereka. Levi paham benar masalah itu. Dan tentu saja mereka tidak setuju, Eren adalah anak satu-satunya dan kenyataan bahwa anaknya adalah seorang gay bukanlah sesuatu yang bisa diterima semudah membalikkan telapak tangan.
            Gadis berwajah oriental itu, Mikasa, adalah teman sepermainan Eren dari kecil. Levi lebih dari sekadar tahu, dia kenal gadis berambut hitam itu. Levi juga tahu, dari tingkah laku yang protektif terhadap Eren sudah jelas menerangkan bahwa Mikasa menaruh hati pada Eren. Mungkin selama ini memang Levi yang terlalu arogan, menganggap Eren hanya miliknya dan hanya untuknya. Ternyata Tuhan tidak memberikan jalan hidup yang semudah itu untuk Levi.
            Eren dan Mikasa. Pasangan serasi di mata keluarga Jaeger yang sangat menyukai Mikasa. Harusnya Levi sadar dan bertindak lebih cepat. Harusnya keinginan mengajak Eren untuk tinggal di belahan dunia lain dilakukannya sejak dulu.
            Yang tersisa sekarang hanya penyesalan, yang perlahan-lahan mulai menggerogoti jiwa Levi. Dan Levi benci mengakui itu.
            “Maafkan aku, Levi...” ujar Eren, nyaris terdengar seperti bisikan.
            Eren, yang sudah menyerah pada hidupnya sendiri, memilih untuk segera beranjak pergi. Suara derit kursi yang beradu dengan lantai mengiringi tubuh Eren yang bangkit berdiri.
            “Terima kasih untuk makan malamnya.” Eren membungkuk dalam, kemudian bergegas meninggalkan meja makan. Diraihnya tas yang tergeletak di meja ruang tengah. Disambarnya mantelnya cepat. Suara daun pintu yang tertutup dan bunyi kunci otomatis bak lonceng yang bergema keras di telinga Levi, membuat tubuhnya bergetar dan jatuh merosot begitu saja di kursi makan.
            Matanya menatap kosong ke arah sepiring beef bourguignon milik Eren yang masih utuh, tak disentuh sama sekali. Levi mendadak jadi menyesal. Mungkin memang seharusnya tadi dia memasak foie gras saja. Foie gras adalah makanan kesukaan Eren, bagaimana Levi bisa melupakan hal sepenting itu.
            Dengan segudang rasa sesak dan sesal yang menggelayuti batinnya, Levi mengambil pisau makannya yang tergeletak di sebelah kanan piring. ‘Ini akan jadi makan malam kita yang terakhir. Dasar kau bocah sial, Jaeger,’ batin Levi.

.
.
.

- TAMAT -

Artikel terkait :

A/N
Wah, fic Riren perdanaku setelah drabble gaje kemarin. Fic yang ini pun ga kalah gajenya, huahahahahaha. xD
Selesai dalam 1 hari. Diketik dari sore tapi baru selesai jam 0.09 WIB yang berarti tanggalnya udah ganti jadi tanggal 8 Maret 2015, wkwk. Ngetiknya disambi sih, jadi ga kelar-kelar, wkwk.
Saya sebenernya ga terlalu paham mengenai masakan ala Perancis. Itu nama-nama dan penjelasannya hasil searching sama Google hehe. Mohon maaf kalau ada yang keliru. /bow
Terima kasih banyak untuk yang sudah menyempatkan diri untuk baca. Kalau berkenan mohon tinggalkan review untuk saya, supaya kedepannya tulisan saya bisa lebih baik lagi. :) Komentar, kritik, saran, koreksi, pertanyaan, semuanya saya terima. Misal habis baca fic ini terus ada yang pengin nimpuk saya juga boleh haha. /evil laugh
Sekali lagi, arigachuu, minna~~ ^^

8 Maret 2015
0.14 WIB

Tembalang, Semarang

6 Maret 2015

Je T’aime

Je T’aime
*          *          *
a Shingeki no Kyojin fanfiction
RivaEre Relationship
Je T’aime © Kristalicia Rizki
Disclaimer : I do not own the cast. The cast belong to Isayama Hajime- sensei. This fanfiction belongs to me.
Rate : T
Warning : BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
            “La pluie me fait toujours penser a toi[1].”
         “Sir Levi? Sir Levi mengatakan sesuatu?” tanya Eren Jaeger ketika melihat Levi Ackerman menggumamkan sesuatu sembari memandang keluar jendela, menatap derai hujan yang turun malam ini.
         Levi mengalihkan pandangannya dan menatap pria yang bertubuh lebih tinggi darinya itu tengah menyuapkan seiris daging ke dalam mulut.
        “Eren,” panggil Levi dengan nada datar dan rendah, bahkan lengkap dengan ekspresi wajah yang juga sedatar lantai marmer di bawah kaki mereka.
            “Hm?”
       Setelah sebuah helaan napas pelan, Levi berkata dengan nada bicara yang tenang, “Tu es l’homme de mes rĂªves[2]. Je t’aime tel que tu es[3]. Je t’aime de tout mon coeur[4].”
           “Eum… Sir Levi bilang apa barusan?” Eren bertanya dengan nada ragu. Otak dan telinganya sama sekali tidak menangkap satu pun kata yang terucap dari bibir Levi.
 Kalau saja Levi boleh memaki, mungkin dia akan mengatai Eren bodoh. Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk hal semacam itu. Susah payah Levi menciptakan suasana—yang semoga saja bisa disebut romantis, hanya untuk Eren Jaeger-nya seorang dan dia tidak mau merusak momen yang sudah sangat ideal ini dengan kata-katanya yang tidak pernah disaring sehingga terdengar terlalu to the point.
        Alih-alih mengumpat, Levi menarik napas kecewa. Kata-kata romantis yang jarang dikatakannya menjadi sia-sia, padahal sudah semalaman dirinya menghabiskan waktu untuk memikirkan kata-kata itu. Bahkan dia sampai membuang sebentar egonya dan meminta bantuan pada sahabatnya, Hanji. Ditatapnya Eren dalam-dalam, lalu kembali berkata kali ini dengan bahasa yang sederhana dan lebih mudah dimengerti, “Menikahlah denganku, Eren.”
            Mulut Eren terbuka tanpa sadar dan kedua mata beriris hijaunya berkaca-kaca terharu. Kebahagiaan jelas terpancar dari raut wajah dan sorot kedua mata besarnya. Napasnya tercekat karena senang, membuat tak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari mulutnya. Hanya sebuah anggukan tegas tanpa ragu, yang diikuti dengan senyuman, dan menara Eiffel di kejauhan yang menjadi saksi bagi mereka berdua.
- TAMAT –


P.S
Drabble pertama yang aku buat. Fic bukan YUNJAE pertama yang aku buat. Fic manga/anime pertama yang aku buat. Fic SnK pertama yang aku buat. Fic Riren pertama yang aku buat. :)
Ide dari salah satu akun twitter yang nge-share tentang pelajaran bahasa Perancis. Kata-kata di atas aku ambil dari akun itu.
Awalnya aku mau mem-posting drabble ini buat ikut meramaikan #IFDrabble yang diselenggarakan di AO3 tanggal 15 Februari kemarin. Tapi apa daya, di kampung halaman akses internet susah jadi di tanggal itu aku ga bisa posting drabble ini. Dan berhubung ga jadi diikutkan di #IFDrabble, fic ini akhirnya aku edit-edit lagi di beberapa tempat dan jadi lebih dari 100 words, kekeke. xD
Selama ini aku udah terlalu tenggelam bikin fic dengan main cast Yunjae. Sekarang aku mau coba juga yang lain. Gomen kalau penggambaran karakternya masih aneh atau janggal, aku masih dalam tahap ‘penyelaman’ nih, wkwkwk. :3
Jadi, aku butuh banget saran, kritik, atau komentar apa saja dari kalian yang udah berkenan membaca drabble ini. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian untukku ya, hehe. Arigachu~~ :))
17 Februari 2015
22.15 WIB
Bukateja, Purbalingga




[1] Hujan selalu mengingatkanku akan dirimu.
[2] Kamu adalah laki-laki yang aku impikan.
[3] Aku mencintaimu apa adanya.
[4] Aku mencintaimu sepenuh hatiku.

26 Desember 2014

Down to Fall

DOWN TO FALL

Aku berdiri diam di pinggir jembatan dengan tatapan lurus ke arah depan. Angin malam yang dingin membelai tubuhku yang hanya terlindung oleh sebuah sweater rajutan berwarna abu-abu. Setelah sebuah helaan napas panjang, aku mengangkat kaki kananku untuk berpijak di pagar pembatas jembatan. Dengan bantuan topangan kedua telapak tangan, kuangkat kaki kiriku dan membuat diriku berdiri mantap di pagar pembatas yang catnya mulai mengelupas oleh waktu.
            Angin malam kembali menerpa tubuhku, kali ini terasa lebih kencang dari sebelumnya, seolah ingin menggoyahkan badanku. Kupejamkan kedua mataku erat, meresapi dinginnya malam di awal musim dingin hari ini. Ketika suara desiran air yang terusik oleh kencangnya hembusan angin memasuki indera pendengaranku, kubuka kedua mataku. Dengan kepala tertunduk kutatap lekat air sungai yang berwarna hitam pekat sepekat langit malam tanpa bintang hari ini. Suara deburan air bersamaan dengan hembusan angin menjadi kombinasi yang sesuai, yang membawa sensasi dingin mencekam hingga ke tulang rusukku. Tubuhku mulai menggigil. Rasa takut mulai meliputi naluriku. Sungai gelap yang ada di bawah kakiku terlihat seperti akan menelanku hidup-hidup dan akan membawa diriku ke dimensi paling kelam yang pernah ada.
            Angin berhembus makin kencang, membuat kedua lututku mulai bergetar. Bisa kurasakan kulit tubuhku yang mulai kebas karena dingin yang menggigit. Kutengadahkan kepalaku ke atas, menghadap ke langit yang terlihat sama menyedihkannya seperti hidupku. Aku diam selama beberapa menit dengan pikiran kosong, sebelum kemudian kedua mataku kembali terpejam bersamaan dengan kedua tanganku yang terulur lurus ke samping. Kuhela lagi sebuah napas panjang dan kemudian kubiarkan tubuhku jatuh ke bawah tanpa usaha untuk mencoba melawan gravitasi. Deru angin yang melewati telingaku membuat mataku semakin erat terpejam hingga tak berapa lama setelah itu aku merasakan air dingin memukul sekujur tubuhku dengan keras.
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!