• Always Keep The Faith!

    The five of us working together could be consider as fate. Five different people feeling as one, happiness multiplied by five, sorrow is just 1/5. This is called happiness. To me, TVXQ is just like a family, a home. No matter how far we’re separated, we’ll come back together one day. TVXQ is just such an important place for us. - U-know Yunho, Fujin kouron magazine 2009

  • Are you envied at us?

    This red ocean is belong to Cassiopeia and TVXQ, just for your information.

  • Humanity Strongest's Soldier

    Thanks to you, Rivaille, for looking so DAMN HOT although you're 160cm. xD /kicks/

Tampilkan postingan dengan label apapun tentang kpop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apapun tentang kpop. Tampilkan semua postingan

3 April 2015

Hujan

HUJAN

"Apa ini?" tanyaku dengan dahi berkerut, menatap sebuah kertas putih tebal terlipat dua yang dibungkus rapi dalam sebuah plastik bening.
"Undangan," jawab pria bermata doe di depanku dengan sebuah senyum manis yang memperlihatkan deretan giginya yang tertata dengan baik.
Aku belum pernah mendapatkan firasat buruk sebelumnya. Ini yang pertama kali bagiku. Dan sebagai pengalaman pertama, keringat dingin dan debaran jantung yang cepat kurasa sudah cukup berlebihan untuk sebuah respon tubuh terhadap sesuatu yang masih diselubungi kabut misterius.
Kuulurkan tanganku mengambil undangan yang diletakkan persis di depan cangkir kopi hitamku. Aku membaca tiap huruf yang tertera di lembar muka. Ada namaku tertulis di pojok kanan bawah. Di pojok kiri atas ada gambar siluet sepasang pengantin. Di tepiannya dihiasi oleh untiran bunga-bunga warna merah muda, putih, dan merah. Tepat di bagian tengah lembar itu, ada inisial dua huruf J.
Aku melirik sekilas ke arah pria bermata doe itu, Kim Jaejoong, yang tengah memainkan jemarinya di atas ponsel layar sentuh berwarna putih tulang miliknya. Suara plastik yang teremas mengisi keheningan di antara kami. Aku mengeluarkan undangan itu dari plastik pembungkusnya dan menatap sekali lagi pada inisial di lembar awal.
Jaejoong bisa disingkat JJ. Tapi kurasa bukan itu maksudnya. Otakku masih cukup pintar untuk tidak mencoba menipu diri sendiri dengan menganggap JJ itu adalah inisial dari Jaejoong.
Aku membuka lipatan kertas tebal itu. Menahan diri untuk tidak terburu-buru mencari nama si tokoh utama di acara pernikahan ini, aku membaca kata demi kata urut dari bagian paling kiri atas.
Aku bohong kalau berkata aku baik-baik saja. Baru paragraf pembuka yang kubaca saja, dadaku sudah terasa nyeri. Aku munafik kalau bilang aku tidak takut. Andai saja aku bukan pecundang, mungkin aku sudah mengatakan dengan lantang isi hatiku pada Jaejoong detik ini juga.
Pasukan oksigen ke paru-paruku agak tersendat ketika akhirnya aku menemukan nama Jaejoong di sana. Dan sebuah nama wanita yang kukenal terpatri tepat di bawah nama Kim Jaejoong membuatku jantungku serasa diremas-remas dengan kuat, sakit hingga ke ulu hati. Saat itu juga aku jadi ragu untuk bersyukur karena aku bukan terlahir sebagai seorang yang buta aksara. Aku bisa membaca dengan jelas dan mencerna dengan baik arti dari serangkaian kata dalam suatu kalimat, tapi untuk yang satu ini aku sangat berharap mendadak jadi idiot yang tidak mengerti apa-apa.
Sebenarnya aku sudah mempersiapkan diri bila momen ini datang dalam hidupku. Sungguh! Aku benar-benar sudah berusaha memantapkan diri untuk setiap kemungkinan terburuk yang terjadi. Yang sama sekali tak kupahami adalah mengapa hati ini tetap terasa sakit? Mengapa dada ini tetap terasa sesak? Bahkan mataku mulai memanas. Sepanjang hidp aku selalu berusaha berpikir serasional mungkin dan mengedepankan logika. Akan tetapi memang benar kata orang banyak, kalau sudah menyangkut soal perasaan dan cinta, kata rasional dan logika sudah dihapus otomatis dari daftar kosakata dalam otakmu.
"Kau harus datang, Yun," Jaejoong berujar ringan, membuatku mengalihkan pandangan dari undangan yang sudah kusut di bagian yang kucengkeram dan menatapnya lekat-lekat.
Aku berdeham pelan dan menelan ludah, berusaha menjernihkan tenggorokan yang mendadak terasa kering kerontang. "Mendadak sekali. Apa ini kejutan untukku?" Aku berusaha membuang jauh-jauh nada sarkatis dari kalimatku barusan.
Jaejoong tertawa. Tawa khasnya yang selalu berhasil mengundang sebuah senyum di wajahku. Namun untuk kali ini, aku sama sekali tidak bisa tersenyum. Wajahku terasa kaku dan bibirku terasa kering. Mulutku bahkan terasa pahit.
"Anggap saja begitu, Yun," sahut Jaejoong, masih dengan sisa-sisa tawanya.
Akhirnya kupaksakan sebuah senyum tipis. Aku menghindari kontak mata dengan Jaejoong dan kembali menatap undangan pernikahan dalam gengaman tanganku. Aku membaca alamat gerejanya. Kuingat-ingat dahulu hari ini tanggal berapa sembari membaca tanggal yang tertera di situ.
Tunggu! Sekarang tanggal 31 Maret dan di undangan itu tertera tanggal 1 April. Tanggal 1 April sama dengan April Mop. Apa mungkin...
* * *
a YUNJAE fanfiction
Hujan © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : T
Warning : YAOI, BL, OOC, Possibility of typo(s), Sad ending.
* * *
Aku berharap aku bisa membohongi diriku sendiri dengan menganggap undangan pernikahan dari Jaejoong ini adalah lelucon untuk April Mop besok. Aku membayangkan, besok ketika semua orang yang diundang oleh Jaejoong sudah duduk rapi memenuhi deretan kursi di dalam gereja, sang tokoh utama yaitu Kim Jaejoong akan datang memasuki altar sambil berkata "April Mop! Kalian tertipu," lalu tertawa keras. Aku membayangkan betapa melegakannya hal itu kalau benar pernikahan ini hanya lelucon belaka. Betapa saat itu mungkin aku tidak akan bersungut-sungut karena telah ditipu di hari tipuan, melainkan ikut tertawa keras. Bisa saja aku malahan akan menangis terharu saking senangnya.
Tetapi lagi-lagi pikiranku masih rasional. Otakku masih bisa berpikir jernih bahwa sebuah pernikahan adalah hal sakral yang sama sekali tidak pantas dijadikan lelucon. Aku jadi ingin membenturkan kepala ke tembok untuk menghilangkan delusi yang menyedihkan barusan.
"Oh iya aku baru ingat harus menjemput noona dulu," kata Jaejoong sambil memasukkan ponsel ke balik saku jasnya dan mengeluarkan dompet, "Aku duluan ya, Yun."
"Aku juga sudah selesai," tandasku cepat sambil melipat kembali kertas undangan itu dan memasukkannya kembali ke dalam plastik.
Sepasang mata Jaejoong mengerjap beberapa kali sebelum kemudian dengan sorotan mata hangat yang selalu kusuka dia berkata, "Baiklah. Hari ini aku yang traktir ya."
Beberapa lembar uang diletakkan Jaejoong di atas meja segera setelah dia memundurkan kursinya dan bangkit berdiri. Mataku tak lepas memandang Jaejoong, sepasang kakiku melangkah di balik punggung Jaejoong yang berjalan keluar dari coffee shop langganan kami.
Langit siang itu gelap, matahari sama sekali tidak terlihat dan awan putih berubah menjadi awan hitam. Angin dingin yang berhembus membawa aroma hujan yang begitu kuat, lembab dan dingin. Tepat setelah aku dan Jaejoong keluar, tetes-tetes air dari langit mulai jatuh membasahi bumi.
"Hee... kenapa tiba-tiba turun hujan?" keluh Jaejoong. Aku yang berdiri di samping Jaejoong hanya diam dan memandang sendu ke arah langit mendung yang menggantung di atas kami.
"Aish... aku kan tidak bawa payung," keluh Jaejoong lagi, membuatku menoleh dan memandang wajahnya yang tampak gusar memandangi jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
Entah inisiatif ini datang dari mana, tiba-tiba saja tanganku sudah bergerak melepas mantel abu-abu yang melekat di tubuhku dan memayungkannya ke atas kepalaku dan Jaejoong. Jaejoong segera menengok ke arahku dan menatap heran campur bingung.
"Dimana kau parkir mobil?" tanyaku di tengah suara hujan yang kian deras.
Aku mengikuti arah telunjuk Jaejoong. Jaejoong menunjuk mobilnya yang ada di seberang jalan, di depan sebuah toko roti yang berjarak sekitar 50 meter dari posisi kami sekarang.
"Ayo," ujarku dan bersiap untuk lari menerjang hujan.
"Eh?"
"Cepat, sebelum hujannya makin deras," imbuhku.
Tetapi Jaejoong hanya berdiri diam sambil menatap ragu ke arahku. Sepasang doe eyes itu malah menatap khawatir ke arahku. Oh, tidak bisakah kau berhenti membuatku lemah jantung seperti ini, Jaejoong?
Aku merapatkan diriku ke Jaejoong dan dengan lengan atas tangan kiriku aku mendorong pundak Jaejoong agar segera mengikutiku menerobos hujan. Aku menaungkan sebagian besar mantelku ke atas kepala Jaejoong, melindungi pria ini dari tetes besar hujan yang menyakitkan.
"Terima kasih, Yunho," kata Jaejoong saat kami sudah berdiri di samping pintu mobilnya.
"Cepatlah masuk, nanti kau kedinginan," ujarku dengan agak mengigil. Bagian kanan tubuhku hampir basah kuyup dan angin kencang yang bertiup membuatku hampir bersin-bersin.
Jaejoong mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan masuk ke dalam mobil. Jendela di samping Jaejoong turun perlahan saat aku hendak berlari pergi ke tempat beratap. "Masuklah Yun, aku akan mengantarmu sampai ke mobil," katanya.
"Tidak usah repot-repot Jae, aku parkir dekat sini kok. Bukankah kau harus menjemput noona? Kaa, pergilah. Sampaikan salamku untuk noona ya."
Aku tersenyum ke arah Jaejoong. Dia hendak memaksaku masuk ke dalam mobilnya namun kata-katanya terhenti di pangkal tenggorokan karena kakiku yang sudah melangkah pergi lebih dulu.
"Besok kau harus datang, Yun!" seru Jaejoong di belakangku. Aku menghentikan lariku seketika dan berdiri diam beberapa detik. Ah, lagi-lagi dadaku terasa sesak sampai untuk bernapas saja sulit. Energiku juga tiba-tiba saja menguap, atau mungkin meresap ke dalam tanah tempatku berpijak bersama dengan air hujan. Aku mungkin akan ambruk begitu saja jika kaki-kakiku yang bergetar ini tidak kupaksa untuk tegar berdiri.
Aku membalikkan tubuhku dan kulihat Jaejoong yang melongokkan kepalanya dari balik jendela mobil. Dasar bodoh, kepalanya kan bisa pusing kalau begitu.
Aku hanya berdiri terpaku di tempat. Aku tidak ingin menjanjikan padanya kalau besok aku akan datang ke upacara pernikahannya, tapi Jaejoong yang menanti jawabanku sambil membiarkan helai-helai rambut pirangnya basah karena hujan membuatku mau tak mau menganggukkan kepala. Dari kejauhan ini aku masih bisa melihatnya tersenyum lembut, senyum yang selalu membuatku merasa tenang.
Dengan susah payah kuulaskan sebuah senyum, berharap Jaejoong bisa melihatnya meski hanya segaris tipis bibirku melengkung. Setelah itu Jaejoong melambai dan kepalanya menghilang di balik mobilnya. Sedetik kemudian roda-roda mobil Jaejoong berputar, dan pergi melintasi hujan yang makin deras hingga membuat jarak pandang memendek.
Aku masih berdiri diam di tempatku. Keinginan untuk berteduh sudah hilang entah kemana dan aku terus menatap lekat mobil Jaejoong hingga benar-benar tidak terlihat. Seketika itu juga jiwaku terasa kosong. Hampa. Gelap. Sunyi. Dan sendiri.
Kepalaku menengadah, menatap pada langit yang terus menitikkan air ke bumi. Hujan terus turun dengan derasnya, yang sukses membuat sekujur tubuhku basah dan kedinginan. Aku bersyukur siang ini hujan. Karena hujan, aku tidak perlu bersusah payah menyembunyikan air mataku.
* * *
Rain.
Even heaven knows that I miss you already.
* * *
- TAMAT -


P.S

Minggu ini adalah minggu ter-emo saya. >////<
Mulai dari Jaejoong's enlistment, libur Paskah yang dipakai buat ngerjain tugas juga, teary Yunho dan Changmin di konser Tohoshinki di Tokyo Dome kemarin, sampai tadi SM resmi bilang kalau Yunho entry military tahun ini. :"(
Kokoro saya ini ga kuat, maka jadilah fic ini buat pelampiasan saya, huahahahahahaha.

Inspirasinya dari hujan yang katanya turun pas tanggal 31 Maret kemarin dan dari tweet seorang Cassiopeia di timeline saya yang kurang lebih berbunyi, "Heaven is letting Jaejoong know that we miss him already."

Saya seriusan kangen sama Jaejoong. Dan ga kebayang nanti kalau Yunho masuk wamil... T______T Tapi saya bangga sama mereka. :") Jaejoong, kamu harus sehat-sehat ya di sana. Sampai ketemu di Desember 2016. :")
Meski ga bisa nganterin mereka, I wish I could attend their comeback. :") Semoga saya bisa hadir di konser comeback mereka, entah konser di Jepang atau di Korea, amiiiin. :)

Entah gimana, belakangan saya suka bikin broken pairing gara-gara undangan pernikahan. Kemarin Riren, sekarang Yunjae, hahahahahahahahaha. xD mohon maafkan kenistaan saya ini.

Terakhir, mohon komentar, kritik, dan sarannya. Arigachu~~ ^^

26 Desember 2014

Down to Fall

DOWN TO FALL

Aku berdiri diam di pinggir jembatan dengan tatapan lurus ke arah depan. Angin malam yang dingin membelai tubuhku yang hanya terlindung oleh sebuah sweater rajutan berwarna abu-abu. Setelah sebuah helaan napas panjang, aku mengangkat kaki kananku untuk berpijak di pagar pembatas jembatan. Dengan bantuan topangan kedua telapak tangan, kuangkat kaki kiriku dan membuat diriku berdiri mantap di pagar pembatas yang catnya mulai mengelupas oleh waktu.
            Angin malam kembali menerpa tubuhku, kali ini terasa lebih kencang dari sebelumnya, seolah ingin menggoyahkan badanku. Kupejamkan kedua mataku erat, meresapi dinginnya malam di awal musim dingin hari ini. Ketika suara desiran air yang terusik oleh kencangnya hembusan angin memasuki indera pendengaranku, kubuka kedua mataku. Dengan kepala tertunduk kutatap lekat air sungai yang berwarna hitam pekat sepekat langit malam tanpa bintang hari ini. Suara deburan air bersamaan dengan hembusan angin menjadi kombinasi yang sesuai, yang membawa sensasi dingin mencekam hingga ke tulang rusukku. Tubuhku mulai menggigil. Rasa takut mulai meliputi naluriku. Sungai gelap yang ada di bawah kakiku terlihat seperti akan menelanku hidup-hidup dan akan membawa diriku ke dimensi paling kelam yang pernah ada.
            Angin berhembus makin kencang, membuat kedua lututku mulai bergetar. Bisa kurasakan kulit tubuhku yang mulai kebas karena dingin yang menggigit. Kutengadahkan kepalaku ke atas, menghadap ke langit yang terlihat sama menyedihkannya seperti hidupku. Aku diam selama beberapa menit dengan pikiran kosong, sebelum kemudian kedua mataku kembali terpejam bersamaan dengan kedua tanganku yang terulur lurus ke samping. Kuhela lagi sebuah napas panjang dan kemudian kubiarkan tubuhku jatuh ke bawah tanpa usaha untuk mencoba melawan gravitasi. Deru angin yang melewati telingaku membuat mataku semakin erat terpejam hingga tak berapa lama setelah itu aku merasakan air dingin memukul sekujur tubuhku dengan keras.

7 September 2014

Path

PATH

Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, semuanya tetap sama.
Tidak ada yang pernah menoleh ke arahku.
Semuanya menganggapku tidak lebih berharga dari sebutir pasir di pantai.
Semuanya sia-sia, tidak berguna.
Sedikit pun tidak ada yang berubah...
Sampai kau berdiri di sana dan memandangku dengan sepasang matamu yang teduh.
*          *          *
a YUNJAE fanfiction
Path © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : T
Warn : YAOI, Shounen-ai, BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
            “Maaf, Jung Yunho-ssi, naskahmu belum lolos seleksi kali ini.”
            Napasku tercekat detik itu juga. Ah, aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk ini jauh-jauh hari sebelumnya. Aku juga sudah berusaha memantapkan diri untuk siap menghadapi apa pun hasilnya nanti. Tetapi rasanya sia-sia. Dadaku tetap terasa sesak dan kepalaku mendadak terasa berat. Kenapa bisa sesakit ini?
            “Halo? Halo? Jung Yunho-ssi.”
            “Ah, ne,” jawabku sekenanya. Tenggorokanku jadi kering dan setiap kata yang keluar seolah bisa menyakitiku.
            “Maaf—”
            “Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, Jihyun-ssi. Ah, aku ada urusan, jadi harus kututup dulu teleponnya... Eum... Terima kasih banyak.”
            Sambungan terputus. Kupandangi ponsel yang ada dalam genggamanku itu. Tanpa sadar genggaman tanganku pada ponsel itu mengeras dan perasaan ingin menghancurkan benda hitam itu mendadak menguap ke permukaan. Kuayunkan tangan kananku yang menggenggam ponsel itu ke atas, siap menghempaskannya ke tanah.
            “Apakah kau Jung Yunho?”
        Pergerakan tanganku terhenti ketika sebuah suara memanggil namaku. Kutolehkan kepalaku ke samping dan kulihat seorang pria tengah memandangku dengan senyuman di wajahnya. Siapa?
            “Benar kau Jung Yunho?”
            Aku diam. Siapa orang ini? Wajahnya sama sekali tidak kukenal.

21 Mei 2014

Bersandar

Bersandar

Aku memandangnya lekat. Sorot matanya begitu sendu. Sepi dan pedih terpancar kuat dari raut wajahnya. Sepasang bahu tegap itu bergetar menahan kesedihan.
            Aku bisa merasakannya. Hatiku berdenyut nyari ketika melihat sosoknya yang tampak begitu rapuh, seolah siap hancur kapan saja. Kuulurkan tanganku untuk menyentuh wajahnya. Matanya masih tertunduk dalam, hanya menekuri tanah di bawah kakinya. Akan tetapi aku bisa merasakan, kehampaan terpancar dari sepasang mata bak musang itu.
            Aku tidak tahan lagi. Segera kurengkuh bahu namja itu dan kupeluk erat tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Kulingkarkan kedua tanganku di punggungnya, berusaha menguatkan namja itu. Dan sedetik kemudian, aku bisa merasakan pundakku mulai basah dan tangan kekarnya mulai melingkar di pinggangku. Air mataku pun mulai jatuh.
            Aku tahu seberapa besar beban dan kesedihannya sekarang. Aku bisa memahami kekalutan yang tengah memenuhi benaknya. Aku bisa merasakan kehilangan besar yang tengah dirasakannya.
            Tubuh dalam pelukanku itu mulai bergetar dan samar-samar telingaku bisa menangkap isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Seiring dengan itu, air mataku pun turun kian deras. Dan bersamaan dengan itu pula, aku berjanji pada diriku sendiri, dengan Tuhan sebagai saksinya, bahwa aku tidak akan membiarkan namja ini tampak menyedihkan seperti sekarang. Aku akan melindunginya, dengan terus berada di sisinya.
*          *          *
a YUNJAE fanfiction
Bersandar © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : T
Warn : YAOI, Shounen-ai, BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
Aku berlari dengan usaha sekeras mungkin agar tidak terlalu menimbulkan suara gaduh antara sepatu dan lantai yang beradu. Dengan secepat mungkin aku menyusuri koridor rumah sakit, melewati beberapa pasien yang berjalan dengan pakaian seragam, berpapasan dengan beberapa orang suster berpakaian putih, sembari sesekali mengedarkan pandangan mata dengan liar.
            Aku sampai di depan lift dengan napas terengah. Kutekan tombol hijau di samping pintu lift dan beruntung pintu di depanku itu terbuka tak sampai 10 detik kemudian. Lift kosong itu segera kumasuki dan kutekan tombol nomor 5 yang ada di samping kanan pintu. Pintu lift menutup tak lama kemudian, membawaku yang tengah berdiri gelisah menuju ke lantai 5.
            Setiap detik di dalam lift begitu menyesakkan, membuat debaran jantungku makin menjadi. Dan rasanya baru seabad kemudian ketika pintu lift itu akhirnya terbuka. Aku segera melangkah keluar dan kepalaku sibuk berputar mencari sosok yang kukenal di dekat situ.
            Napasku tercekat selama beberapa saat ketika sepasang mata doe milikku menangkap sesosok namja berambut brunette yang dicat coklat agak kemerahan tengah berdiri bersandar pada dinding, tak jauh dari pintu ruang UGD. Aku segera menghampirinya.
            Langkahku terhenti di depan namja itu, hanya berjarak sekitar 5 langkah. Mataku memandangnya lekat, tetapi sepasang mata tajam itu hanya menatap lurus ke bawah, seperti ada sesuatu yang menarik di atas lantai yang dipijaknya.
            “Yunho,” panggilku lirih.
            Namja bernama lengkap Jung Yunho yang tengah berdiri di hadapanku itu mengangkat kepalanya hingga kedua mata kami bertemu pandang. Seketika itu pula hatiku berdenyut sakit, begitu mataku menangkap kesedihan yang mendalam dari sorot mata Yunho. Tidak ada air mata di mata tajam itu, bahkan sisa jejak air mata pun tak ada. Mata itu hanya memperlihatkan sorot mata sendu yang mampu membuat dadaku terasa sesak.
            Tangan kananku bergerak perlahan, terulur ke depan, hendak menyentuh wajah sedih Yunho. Namun pergerakanku terhenti ketika aku mendengar suara ribut dari balik pintu ruang UGD yang sedikit terbuka. Pandangan mataku teralih ketika kegaduhan itu berhasil menyita perhatianku. Kakiku pun mulai melangkah menuju pintu UGD itu dan tanganku membuka pintu itu perlahan.
            Aku berjalan masuk ke dalam ruangan penuh alat-alat medis itu dan aku disambut oleh suara histeris bercampur isak tangis dan celoteh kekhawatiran yang memenuhi ruangan itu. Tak butuh waktu lama hingga mataku menemukan sosok Shim Changmin yang tengah memapah yeoja cantik yang kukenali sebagai Jung Jihye, adik Yunho. Park Yoochun dan Kim Junsu, yang juga sahabatku dan Yunho, pun berada di sana. Beberapa orang lain, namja dan yeoja paruh baya, yang kurasa kerabat Yunho juga berada di sana sembari berurai air mata.
            Tubuhku membeku ketika kemudian pandanganku menangkap sosok namja dan yeoja berumur sepantaran dengan kedua orang tuaku, tengah terbujur kaku di atas tempat tidur rumah sakit dengan mata yang terpejam erat. Selimut putih melingkupi tubuh mereka masing-masing. Tak ada alat-alat kedokteran yang terpasang di tubuh mereka. Dan dari aura kelam yang menaungi ruangan itu membuatku yakin, Paman dan Bibi Jung telah tiada.
            Aku masih berdiri membeku di tempat, ketika ekor mataku menangkap sekelebat bayangan Changmin yang menggendong tubuh Jihye yang jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sebuah tepukan pelan di pundakku baru bisa menyadarkanku dan kutemukan Junsu sedang berdiri di depanku.
            Kulihat matanya yang berkaca-kaca. Jantungku berdebar makin keras, membawa rasa sakit yang seolah menghimpit jiwaku. Di balik Junsu, aku bisa melihat Yoochun yang matanya sudah memerah dan siap menjatuhkan kristal bening yang telah menumpuk di pelupuk mata.
            Aku kembali menatap Junsu ketika namja bersuara mirip lumba-lumba itu memanggilku lirih. Pasukan oksigen ke paru-paruku seolah terhenti ketika mendengar skenario terburuk yang sejak tadi sudah menghantui pikiranku.
            “Paman dan Bibi sudah tidak ada,” ujar Junsu pelan dengan suara bergetar. Dan setelah itu, tidak ada yang kupikirkan selain sosok seorang Jung Yunho.
*          *          *
Aku tidak suka pemakaman. Semua orang berpakaian serba hitam dan suara yang terdengar hanyalah isak tangis serta jerit histeris orang-orang, membuat dadaku terasa sesak sama seperti sekarang.
            Aku berdiri diam di bawah terik mentari pagi yang tak terlalu hangat. Di sampingku ada Yoochun, Junsu, dan Changmin. Mataku menatap lurus ke arah kedua nisan yang dikelilingi rangkaian bunga krisan putih. Dadaku terasa sesak. Berkali-kali aku menghela napas untuk mengurangi sakit ini, tapi hal itu sama sekali tidak membuahkan hasil.
            Paman dan Bibi Jung sudah seperti orang tuaku sendiri. Sejak kecil, kami berlima—aku, Yunho, Yoochun, Junsu serta Changmin—sudah bersahabat layaknya saudara. Kedekatan antara orang tua kami pun sama seperti kami. Itulah yang menyebabkan kami tak pernah sungkan satu sama lain, semuanya sudah seperti orang tua, kakak, adik, dan anak sendiri. Ikatan antara kami begitu kuat seperti sebuah keluarga besar. Maka dari itu, ketika kami harus kehilangan salah satu di antaranya, kami akan merasa kehilangan yang besar.
            Aku tak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sana. Aku terlarut pada kesedihan dan pikiranku sendiri, hingga tak ingat kalau waktu sudah lama berlalu. Kutengadahkan kepalaku. Orang-orang yang tak lain adalah kerabat Yunho dari Gwangju sudah mulai beranjak satu demi satu meninggalkan makam Paman dan Bibi Jung. Kulihat Jihye yang berdiri di bawah payung hitam tampak sangat kacau, matanya sembab dan air mata itu terus turun membasahi wajahnya. Aku tak tega, begitu pula dengan Yoohwan, adik Yoochun, yang kebetulan melihat ke arah yang sama sepertiku. Yoohwan berjalan menghampiri Jihye dan merangkul bahu yeoja itu sembari menepuk-nepuknya pelan.
            Matahari makin tinggi dan awan hitam mulai menggantung di langit yang semula berwarna biru cerah. Angin dingin berhembus mulai kencang sambil membawa aroma khas hujan. Umma tampak memeluk Jihye erat sebelum kemudian berjalan meninggalkan makam bersama dengan Appa. Begitu pula dengan orang tua Junsu serta Changmin. Sementara Bibi Park mulai menuntun Jihye yang terlihat rapuh itu berjalan meninggalkan makam, diiringi dengan Yoohwan yang berjalan di samping mereka.
            Aku masih terdiam di tempatku ketika kulihat Changmin berjalan menghampiri Yunho yang berdiri diam tepat di antara kedua nisan Paman dan Bibi Jung. Changmin memeluk Yunho erat, diikuti Junsu dan Yoochun yang juga ikut memeluk Yunho. Bisa kurasakan mereka saling menguatkan satu sama lain, saling berbagi kesedihan bersama, dan saling menghibur antar satu dengan yang lainnya.
            Aku masih terpaku di tempatku sampai mereka saling melepaskan pelukan. Ketiga namja yang sudah kuanggap dongsaengku itu sendiri bergantian menepuk-nepuk pundak Yunho sebelum kemudian berjalan pergi.
            Aku masih tak bergerak, meski Junsu dan Changmin sudah berjalan melewatiku. Mataku terpaku pada punggung Yunho yang ada beberapa meter di depanku. Dan aku baru mengalihkan pandanganku ketika kurasakan sebuah tepukan lembut di pundakku. Kutengokkan kepalaku dan kulihat Yoochun berdiri di sampingku sembari menatapku dengan matanya yang berair.
            “Dia membutuhkanmu, Hyung,” kata Yoochun lirih dengan suara serak. Namja di sampingku ini pasti sedang berusaha menahan isakannya.
            Aku hanya diam menatap Yoochun sampai namja itu melanjutkan langkahnya, menyisakan aku dan Yunho di tempat itu. Yunho sama sekali tak beranjak dari tempatnya sejak tadi dia sampai di sini. Dia pun tidak melakukan apa-apa selain berdiri diam dengan kepala tertunduk memandang tanah beralas rumput hijau pendek-pendek yang dipijaknya.
            Langit mulai gelap, sepertinya sebentar lagi hujan. Kakiku mulai melangkah mendekati Yunho yang tidak bergeming. Aku berhenti berjalan dan berdiri di sampingnya. Aku menghadap ke arahnya yang tampak tidak begitu mempedulikan kehadiranku.
            “Yunho,” panggilku pelan sambil memegang pundaknya.
            Yunho yang masih sibuk menekuri lantai, mulai mendongakkan kepalanya dan menatap ke arahku. Seketika itu juga hatiku berdenyut nyeri ketika bertemu pandang dengan sorot mata sendu yang terpancar kuat dari sepasang mata sipit itu. Jantungku pun ikut berdetak sakit ketika aku dapat dengan jelas menangkap gurat-gurat kesedihan yang mendalam pada wajah kecilnya, sejelas aku melihat gurat-gurat kelelahan pertanda namja ini sangat kurang istirahat beberapa hari belakangan ini.
            Kami berdua sama-sama terdiam tanpa ada sepatah kata yang terucap. Detik demi detik berlalu, seiring dengan hatiku yang terus saja menjerit kesakitan melihat penderitaan yang Yunho alami, juga seiring dengan rintik hujan yang mulai turun. Sakit dalam dadaku ini menjadi makin tak tertahankan ketika aku melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
            “Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa.”
            Untuk pertama kalinya aku dapat mendengar suara Yunho lagi, setelah beberapa hari ini aku tidak pernah melihatnya bicara. Aku masih ingat dengan jelas, sejak aku bertemu dengannya di rumah sakit waktu itu, Yunho sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata barang sedikit pun. Bahkan aku tidak melihatnya menangis sejak saat itu.
            Kepala Yunho kembali tertunduk. Suaranya tadi terdengar begitu parau dan lemah di antara suara titik-titik hujan yang jatuh membasahi Bumi, membuatku makin tersiksa karena rasa sakit yang menyeruak di dadaku. Dan ketika kulihat bahunya mulai bergetar, tanpa pikir panjang aku segera mengulurkan kedua tanganku dan meraih tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku melingkarkan sebelah tanganku di lehernya, sementara tangan yang lain di pundaknya. Aku memeluknya erat dan semakin erat ketika tubuh tegap itu mulai bergetar.
            Aku bisa merasakan tangan Yunho melingkar di pinggangku perlahan dan kepalanya diserukkan di perpotongan leherku. Tak berapa lama kemudian, telingaku menangkap suara isakan kecil darinya. Bahuku pun mulai basah. Aku yakin air hujan yang jatuh sudah bercampur dengan air mata Yunho. Tanpa kusadari, air mataku pun ikut jatuh. Meski tak begitu kentara lantaran hujan yang turun pun ikut membasahi wajahku.
            Aku memeluk tubuh Yunho erat, seolah takut raga ini bisa hancur kapan saja. Sebelah tanganku mengusap-usap punggung lebarnya, sesekali berpindah untuk menepuk pelan kepalanya. Hatiku ikut sakit melihat Yunho yang seperti ini. Sungguh, sangat jarang aku melihat namja bermata sipit ini menangis pilu seperti sekarang.
            “Apa yang harus kulakukan...?”
            Suara parau Yunho di tengah hujan begitu menyayat hatiku, membuat pelukanku padanya semakin erat.
            “Tidak ada...” sahutku dengan suara sama paraunya dengan Yunho, “tidak ada yang perlu kau lakukan, Yun,” lanjutku sembari menggelengkan kepala samar.
            Jeda beberapa detik untukku menghirup napas dalam-dalam, untuk menetralkan napasku yang pendek-pendek dan untuk menjernihkan suaraku, sebelum kemudian aku berkata lirih tepat di telinganya, “Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah bersandar. Aku tahu kau kuat, tapi sekuat apapun itu, kau tetap membutuhkan topangan. Aku selalu ada di sampingmu, Yun, aku siap untuk menjadi tempat keluh kesahmu. Bersandarlah pada bahuku, bersandarlah sepenuhnya kepadaku.”
            Hujan terus membasahi tubuh kami berdua namun aku tak peduli itu. Aku sangat mengkhawatirkan namja yang kucintai ini dan pikiranku hanya tersita pada Yunho.
            Kurasakan Yunho mulai bergerak pelan dalam pelukanku sehingga kulonggarkan kedua tanganku yang melingkar di tubuhnya. Yunho menjauhkan sedikit tubuhnya dariku, membuatku dapat melihat betapa kesedihan terpancar kuat dari sela-sela bulir air hujan yang membasahi rambut dan wajahnya. Segera kutangkupkan kedua telapak tanganku di wajah kecilnya dan bisa kurasakan betapa dinginnya kulit Yunho. Tangan kanan Yunho terlepas dari pinggangku dan menggenggam tangan kiriku yang menangkup wajahnya.
“Terima kasih, Jaejoongie.” Bibirnya yang pucat mengukir sebuah senyum tipis yang sarat akan kepedihan bercampur dengan  ketulusan.
Sejak detik itu aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan selalu berada di sisinya, bahwa aku akan selalu menjadi tempatnya bersandar untuk melewati kehidupan yang tak mudah ini.
- TAMAT -


P.S
Fic ini selesai pada 16.20 WIB pada hari Rabu, 21 Mei 2014. Mulai ditulis tanggal 12 Mei, dan niatku ceritanya ringan aja. Makanya kukira nulis fic ini paling selesai dalam waktu kurang dari seminggu, eh ternyata malah lebih hehe.
Banyak hal yang terjadi belakangan ini, membuatku menjadi manusia paling melankolis di dunia. Dan jadilah fanfic ga jelas dengan suasana sedih ini sebagai pelampiasan kegundahan hatiku.
Inspirasi? Ah mungkin ini curahan hatiku yang terdalam, karena aku juga baru sadar waktu ngetik corner ini. Sepertinya alam bawah sadarku membutuhkan sekaligus menginginkan tempat untuk bersandar, hingga jemari ini tanpa sadar mengetik fic dengan judul Bersandar. Ah, memang dasar manusia melankolis. /bicara pada diri sendiri/
Waktu Junsu konser di Tokyo Dome dan dia nyanyi medley lagu TOHOSHINKI, aku nangis malam-malam. Aku sangat merindukan DB5K. :””( Dan entah kenapa, sepertinya optimismeku makin kuat sejak saat itu. Aku yakin, hari dimana DBSK kembali dengan 5 member datang semakin dekat, Amin. :) Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk para oppars. So let’s always keep the faith together, Cassiopeia. :)

Last, aku mohon komentarnya yaa. Arigachu~~ :*

31 Maret 2014

SKANDAL - Chapter 11 (END)

SKANDAL
Chapter 11 (END)

-xxx-

Park Yoochun melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju ruang guru ketika dirinya baru saja teringat sesuatu yang penting. Sebenarnya Yoochun sudah mengingat-ingatnya sejak tadi pagi dia akan berangkat ke sekolah, namun baru sekarang ingatan itu kembali muncul dalam benaknya. Beruntung siang ini Yoochun sudah tidak ada jam mengajar, jadi dia punya waktu bebas sampai pulang sekolah nanti.
            Setengah berlari, Yoochun melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. ‘Hampir waktunya. Aish… sepertinya sudah mulai,’ batinnya panik.
             Dengan segera, Yoochun menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang guru, menarik perhatian beberapa pasang mata yang ada di sana. Suasana ruang guru di saat jam mengajar tak terlalu ramai, hanya ada beberapa guru yang memang sedang tidak ada jam mengajar yang duduk di sana. Dan sekarnag ini, hanya ada 3 orang guru termasuk sahabatnya yang tengah duduk di kursi masing-masing. Dan ketiga orang itu menatap Yoochun heran.
            “Yah, Jung Yunho,” seru Yoochun dengan nada yang agak tinggi begitu matanya bertemu pandang dengan mata sipit Yunho.
            “Apa?” sahut Yunho cepat dengan nada kesal dan alis yang bertaut.
            Tentu saja kesal. Bagaimana tidak? Yoochun yang tiba-tiba masuk ke ruang guru, lalu langsung saja memanggilnya dengan setengah berteriak seperti itu. Memang apa masalahnya?
            Yoochun segera menghampiri sahabatnya yang sejak selesai jam makan siang tadi sibuk membaca buku. Dengan muka serius, Yoochun menatap Yunho tajam, mengundang kerutan dalam di dahi Yunho.
            “Apa?” tanya Yunho lagi. Melihat tingkah aneh rekan kerja sekaligus sahabatnya ini membuat Yunho kesal tapi juga penasaran. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting.
            Yoochun mengatur napasnya sejenak. Agak lelah juga meski dia cuma berlari kecil dari toilet menuju ruang guru yang jaraknya tak begitu jauh. Sementara Yunho masih menatapnya dengan tatapan bingung bercampur kesal.
            “Yun,” katanya pelan sambil menepuk pundak kiri Yunho, “Ikut aku sekarang.”
            “Eh?” tandas Yunho cepat, dia masih belum bisa membaca situasi sekarang, “Kemana? Memangnya ada apa?”
            “Sudahlah, ikut saja,” jawab Yoochun dengan nada malas, “Aku malas menjelaskannya.”
            “Tapi—”
            Belum sempat Yunho menyelesaikan kalimat protesnya, Yoochun sudah menarik lengannya kuat dan membuatnya berdiri seketika dari tempat duduknya. Yunho hanya bisa bergumam tidak jelas sembari meletakkan bukunya asal karena Yoochun langsung menyeretnya berjalan keluar dari ruang guru.
            “Yah Park Yoochun, aku bisa jalan sendiri,” erang Yunho kesal sambil melepaskan cengkeraman tangan Yoochun pada lengan kirinya.
            Yoochun yang melihat Yunho sudah memasang muka kecut langsung melepaskan cengkeramannya dan berkata dengan nada tegas, “Ikut aku ke kantin.”
            “Mau apa?” tandas Yunho cepat seraya menghentikan langkahnya, membuat Yoochun yang beberapa langkah di depannya ikut berhenti.
            Yoochun berdecak kesal melihat Yunho yang sedang sangat tidak bisa diajak berkompromi hari ini, “Sudah, ikut saja dulu. Aku jelaskan nanti,” katanya dengan nada tidak sabar, sambil matanya melirik cemas ke arah jam tangannya.
            Yunho yang masih tidak mengerti juga, hanya berdiri terpaku di tempatnya sambil memandang Yoochun lekat-lekat, berusaha menerka apa yang tertulis di wajah sahabatnya itu.
            Sementara Yoochun yang sudah habis kesabarannya langsung saja menarik lengan Yunho lagi agar berjalan mengikutinya. Meski Yunho protes dan meronta, Yoochun tetap menyeret namja itu menuj ke kantin. Ini adalah urusan penting yang mendesak. Dan Yoochun sedang tidak ingin membuang waktu sekarang.
            Suasana kantin sepi begitu kedua namja sebaya ini sampai di sana. Hanya ada beberapa orang wanita berusia antara 40-50 tahun yang bekerja sebagai penjaga kantin yang ada di sana. Mereka pun tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing —membersihkan meja, mencuci piring, menata makanan ringan di rak, dan hal bersih-bersih lainnya—, sehingga hanya menatap sekilas ke arah Yochun dan Yunho yang memasuki kantin.
            Yunho yang sudah lelah menggerutu dan meronta sejak tadi akhirnya memilih untuk diam dan membiarkan Yoochun membawanya. Langkah kaki mereka baru berhenti ketika mereka sampai di depan sebuah televisi berukuran sedang yang ada di kantin.
            Yoochun membalikkan badannya dan menatap Yunho dalam, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Yunho kemudian berkata, “Lihat itu.”

21 Maret 2014

SKANDAL - Chapter 10

SKANDAL
Chapter 10

-xxx-

Two days later
Seoul, 01.16 p.m
            Kim Jaejoong duduk dengan gelisah di ruang tunggu. Berkali-kali dia mengubah posisi duduknya, bangkit berdiri lalu berjalan mondar-mandir di ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut. Matanya beberapa kali melirik ke jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Kedua tangannya bertaut dan saling meremas. Jantungnya berdegup cukup cepat tak beraturan. Bulir-bulir keringat di pelipisnya membuat Jaejoong harus menyekanya dengan sapu tangan beberapa kali. Kim Jaejoong sedang merasa gugup sekarang.
            Bagaimana tidak gugup? Saat ini dia sedang menunggu waktu untuk memulai konferensi pers yang sudah dia dan Junsu atur diam-diam tanpa sepengetahuan agensinya. Ini memang bukan konferensi pers-nya yang pertama, tapi entah kenapa Jaejoong merasa sangat gugup sekarang. Sekalipun sudah memantapkan hati dan mempersiapkan segala sesuatunya, tapi tetap saja kegugupan dan kegelisahan melanda Jaejoong hingga detik ini.
            Rasa gugup ini bukan karena tindakannya yang termasuk dalam tindakan melanggar peraturan agensinya, melainkan gugup karena yang akan Jaejoong lakukan sekarang adalah sesuatu yang besar dan bukan masalah sepele. Jaejoong sudah tidak terlalu peduli dengan agensinya itu, otaknya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi saat dan setelah konferensi pers ini berlangsung. Mungkin lebih pada antisipasi diri.
            Kalau dipikirkan lagi, yang dilakukan Jaejoong ini mungkin bisa disebut sebagai tindakan mengkhianati agensi yang telah berperan banyak dalam membesarkan namanya dalam industri musik Korea Selatan hingga sekarang. Terdengar seolah Jaejoong tidak tahu diri, bak kacang lupa kulitnya. Jaejoong tidak memungkiri, bila bukan karena agensinya, mungkin dia tidak bisa berada di posisi ini sekarang. Tapi masalah sekarang bukan tentang balas budi atau semacamnya, melainkan soal apa yang benar dan apa yang salah.
            Jaejoong mendudukkan tubuhnya lagi di sofa berukuran sedang yang ada di ruangan itu setelah berjalan tak tentu mengelilingi ruangan. Berusaha mengusir kegelisahan, Jaejoong menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Hal itu dia lakukan sampai beberapa kali.
            Jaejoong berdiri lagi, lalu kembali melihat jam tangannya. Kakinya mulai melangkah lagi sembari mengingat-ingat apa saja yang akan dikatakannya nanti di depan para wartawan. Semalaman Jaejoong sudah menyusun kata-kata untuk diucapkannya siang ini, maka dari itulah jangan sampai ada hal yang terlewatkan olehnya. Hal yang tidak perlu pun tidak seharusnya dikatakan. Cukup bicara seperlunya saja.
            Jaejoong sedang sibuk merapal kata-kata yang sudah disusunnya ketika kemudian terdengar suara pintu diketuk. Kaki Jaejoong seketika berhenti bergerak dan pandangannya menatap lurus ke arah pintu. Sedetik kemudian, pintu mengayun terbuka dan Kim Junsu masuk ke dalam.
            Dengan sebuah tablet di tangannya, Junsu berjalan menghampiri Jaejoong. Keduanya hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Saling menatap dan berusaha menyelami perasaan masing-masing. Tak dapat dipungkiri, Junsu juga merasa sangat gugup sekarang. Perasaannya campur aduk, hampir sama seperti yang Jaejoong rasakan.
            “Sudah waktunya, Jaejoong-ah,” kata Junsu beberapa saat kemudian.

28 Februari 2014

SKANDAL - Chapter 9

SKANDAL
Chapter 9

-xxx-

Junsu berkali-kali menatap gelisah ke arah jam tangannya. Sesekali pula menatap gelisah ke sekelilingnya.
            Junsu sedang berada dalam mobil van hitam yang biasa dia pakai untuk mengantar Jaejoong kemana-mana. Meski sekarang baru jam 6 pagi, tapi Junsu sudah stand by di depan tempat tinggal Jaejoong untuk menjemput namja itu. Hari ini Jaejoong ada jadwal syuting, jadi Junsu sudah menjemputnya pagi-pagi agar tidak terlambat dan tidak terjebak kemacetan.
            Tapi sekarang sudah lewat 15 menit dari waktu yang mereka janjikan. Junsu sudah berkali-kali menghubungi ponsel Jaejoong, tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya Junsu putuskan untuk menunggu saja.
            Namun kesabaran Junsu hanya bertahan selama 15 menit saja. Sekarang Junsu sudah gelisah menunggu. Selain takut terlambat yang ujung-ujungnya bisa membuat jadwal Jaejoong hari ini berantakan, Junsu juga khawatir terjadi sesuatu pada Jaejoong. Maka dari itulah, manajer Jaejoong ini akhirnya memutuskan untuk menjemput Jaejoong langsung di rumahnya.
            Setelah memasukkan ponsel ke saku dan meraih tas gendongnya, Junsu melangkah keluar dari mobil. Dia segera berjalan menuju kediaman Jaejoong setelah menyalakan alaram mobil. Junsu melangkah cepat dan terburu-buru.
            Tak berapa lama kemudian, Junsu sampai di depan pintu apartemen Jaejoong. Sebelum menekan bel, Junsu sekali lagi berusaha menelepon Jaejoong. 5 detik, 15 detik, 30 detik… tidak ada jawaban. Junsu menarik napas sejenak, lalu menekan bel di samping pintu.
            Suara bel yang menggema di dalam rumah dapat ditangkap oleh telinga Junsu. Junsu menunggu di depan pintu, tapi hingga 3 menit kemudian, Jaejoong tak kunjung membukakan pintu. Junsu menekan bel lagi, bukan hanya sekali tapi 3 kali berturut-turut. Lama Junsu menunggu, tapi tampaknya si penghuni tak memberikan tanda-tanda akan membukakan pintu.
            ‘Apa Jaejoong tidak di rumah?’ pikir Junsu.
            Junsu menekan bel lagi, sebelum kemudian menyerah. Junsu yang sudah tak sabar dan mulai khawatir akhirnya memilih untuk langsung masuk saja ke dalam rumah Jaejoong. Junsu menekan beberapa kombinasi angka, lalu meraih gagang pintu dan masuk ke dalam.
            Junsu segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah, lalu masuk ke dalam. Rumah Jaejoong sekarang terlihat lebih rapi dan bersih dari yang terakhir kali Junsu lihat ketika datang kemari.
            “Jaejoong-ah,” panggil Junsu.
            Sunyi. Tidak ada suara Jaejoong yang menyahut. Junsu jadi makin khawatir. Matanya dengan sigap menatap ke sekeliling apartemen Jaejoong. Jangan-jangan ada perampok yang masuk ke apartemen Jaejoong?
            ‘Tidak, tidak, tidak,’ batin Junsu. Kepalanya menggeleng, berusaha mengusir kemungkinan buruk yang muncul di benaknya.
            “Jaejoong,” panggil Junsu lebih keras, “Ini aku,” imbuh Junsu.
            Masih sunyi. Junsu segera mempercepat langkahnya menuju ke kamar Jaejoong. Baru saja Junsu hendak meraih gagang pintu kamar Jaejoong, pintu itu mengayun terbuka. Jaejoong yang sepertinya baru bangun tidur berdiri di sana, dan langsung saja Junsu menarik napas lega. Untung tidak terjadi sesuatu pada Jaejoong, sepertinya namja itu hanya terlambat bangun saja.
            “Hyung, kau di sini?” tanya Jaejoong sembari menggosok-gosok sebelah matanya dengan punggung tangan.
            “Yah Kim Jaejoong!” hardik Junsu, membuat Jaejoong terlonjak kaget.

25 Februari 2014

HAPPY BIRTHDAY!

HAPPY BIRTHDAY!

February 5th
11.50 p.m.
in front of Yunho’s apartment

            “Jaejoong hyung, apa sandinya?” tanya seorang namja tinggi dengan berbisik. Di tangannya terdapat sebuah kotak persegi berukuran cukup besar yang berisi kue ulang tahun.
            Namja berkulit putih bermata doe itu mengendikkan bahu, “Mana kutahu,” jawab Kim Jaejoong.
            “Kan kau yang sering ke apartemen Yunho hyung, Changmin-ah, bukannya kau yang harusnya tahu?” tanya seorang namja bersuara husky bernama Park Yoochun.
            Changmin, namja tinggi bermarga Shim itu mengacak rambutnya frustrasi dengan sebelah tangannya. “Aku lupa,” erang Changmin setengah kesal.
            “Hei, ini hampir jam 12 loh,” ujar Kim Junsu, namja dengan julukan duckbutt, setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
            “Aish,” Changmin mendesis kesal. Tanpa permisi, diberikannya kotak berisi kue itu pada Jaejoong yang berdiri di belakangnya.
            Jaejoong yang kaget tiba-tiba disodorkan kue, mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Changmin, “Kau mau apa, Min?” tanya Jaejoong.
            Changmin tidak menghiraukan pertanyaan Jaejoong, malah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil menggumam samar, membuat ketiga hyung-nya saling melempar tatapan bingung.
            Dengan sigap Changmin menekan tombol-tombol angka yang ada di hadapannya, membentuk sebuah kombinasi. ‘Semoga ini tidak lama, aku tidak mau kejutan untuk Yunho hyung gagal,’ batin Changmin sembari terus menggerakkan jarinya.
*          *          *
a HOMIN fanfiction
Happy Birthday! © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : PG-15
Warning : YAOI, Shounen-ai, BoyXBoy, BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
February 3rd
10.30 a.m.
in the office

            “Min...” panggil seorang namja berambut brunette bermata bak musang.
            Namja yang dipanggil itu tampak sedang melamun, sambil menatap lurus ke arah sebuah kalender meja yang ada di hadapannya. Tangan kanannya yang memegang pena mengetuk-ngetukkan pena tersebut ke pelipisnya.
            “Shim Changmin,” panggil namja bernama Jung Yunho itu dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
            Changmin yang kaget segera tersadar dari lamunannya dan bergerak membenarkan posisi duduknya, “A-ah, selamat pagi, Manajer Jung,” kata Changmin dengan sedikit terbata.
            “Melamunkan apa, eh?” tanya namja bernama Jung Yunho itu sambil sedikit terkekeh melihat ekspresi kaget di wajah namja yang berusia lebih muda 2 tahun darinya itu.
            “A-aniya,” sahut Changmin sambil menggelengkan kepalanya.
            “Hmm...” gumam Yunho, tangan kanannya bergerak menggaruk dagunya.
            “A-ada perlu apa, hyung?” tanya Changmin, berusaha mengubah topik pembicaraan.
            “Oh iya,” ujar Yunho begitu teringat tujuannya menemui Changmin. “Apa laporan kunjungan ke Jeju kemarin sudah selesai?” tanya Yunho.
            “Sudah, hyung,” sahut Changmin cepat.
            “Baiklah. Nanti setelah istirahat makan siang antarkan laporan itu ke mejaku ya.”
            Changmin mengangguk sembari berkata, “Baik, hyung.”
            “Oke,” gumam Yunho lirih lalu berbalik meninggalkan meja kerja Changmin. Baru berjalan 1 meter dari meja Changmin, Yunho membalikkan badannya, “Hari Kamis besok kau ada acara tidak?” tanyanya pada Changmin.
            Changmin tergagap mendadak ditanya oleh Yunho, “Sepertinya tidak, hyung,” jawab Changmin spontan.
            Yunho tersenyum senang, “Baiklah,” katanya lalu berjalan kembali ke meja kerjanya, meninggalkan Changmin yang sedang mengacak rambut frustasi.
*          *          *
February 3rd
8.05 p.m.
at Jaejoong’s apartment

            “Jaejoong hyung, kau ingat sekarang tanggal berapa?”
       “Hm...” Jaejoong berfumam sembari meletakkan 2 cangkir kopi di meja, “tanggal 3 Februari,” jawabnya sedetik kemudian.
            “Lalu hari Kamis tanggal berapa?”
            “Eum... tanggal 6,” jawab Jaejoong lagi, “Waeyo, Min? Apa mendadak kau hilang ingatan?” selidik Jaejoong yang merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan namja tinggi bernama Shim Changmin itu.
            “Apa kau tidak teringat sesuatu, hyung?” tanya Changmin lagi.
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!