• Always Keep The Faith!

    The five of us working together could be consider as fate. Five different people feeling as one, happiness multiplied by five, sorrow is just 1/5. This is called happiness. To me, TVXQ is just like a family, a home. No matter how far we’re separated, we’ll come back together one day. TVXQ is just such an important place for us. - U-know Yunho, Fujin kouron magazine 2009

  • Are you envied at us?

    This red ocean is belong to Cassiopeia and TVXQ, just for your information.

  • Humanity Strongest's Soldier

    Thanks to you, Rivaille, for looking so DAMN HOT although you're 160cm. xD /kicks/

31 Desember 2013

SKANDAL - Chapter 7

SKANDAL
Chapter 7

-xxx-

Jaejoong mengajak Changmin ke sebuah tempat yang sudah lama jadi langganannya sejak dia debut. Meskipun kecil, tapi tempat ini terasa nyaman. Dia suka minum di tempat ini dan sering kali dia pergi berdua bersama Junsu. Tempat ini tidak terlalu ramai, kebanyakan pelanggannya orang-orang kantoran berumur sekitar 30-an. Dan Jaejoong merasa tidka perlu khawatir ada yang mengenalinya di sini. Sekalipun ada yang mengenalinya, pasti orang itu bukanlah fansnya dan cenderung acuh terhadapnya. Itu sangat melegakan bagi Jaejoong, mengingat tidak banyak tempat yang bisa Jaejoong datangi dengan mudah tanpa penyamaran.
Pemiliknya, seorang pria berusia 60 tahun dan istrinya yang masih terlihat cantik di usianya sekarang, sangat ramah dan baik. Sepasang suami istri itu bahkan tahu Kim Jaejoong adalah seorang penyanyi terkenal, tapi hal itu tidak membuat mereka berubah sikap apalagi mengistimewakan Jaejoong. Mereka memperlakukan Jaejoong sama seperti pelanggan lainnya, dan mereka memberikan Jaejoong privasi dengan tidak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan seorang fans minta foto, minta tanda tangan,  menyentuh bagian tubuhnya, dan menanyakan hal ini-itu. Itulah yang membuatnya merasa nyaman.
            Jaejoong mengajak Changmin masuk ke kedai itu begitu mereka berdua memarkirkan mobil masing-masing. Jaejoong menggeser pintu kedai dan masuk dengan sedikit membungkuk.
            “Selamat datang,” seru si pemilik kedai dengan ramah begitu menyadari ada pelanggan yang datang.
            Jaejoong masuk ke dalam diikuti dengan Changmin di belakangnya. Tampak olehnya ada 3 orang pria paruh baya orang selain dirinya dan Changmin, sementara si pemilik kedai terlihat sedang membersihkan beberapa meja.
            “Annyeong, ahjusshi,” sapa Jaejoong.
            Si pemilik kedai yang bernama Kang Jangwoo menoleh dan langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan Jaejoong, “Rupanya kau, Joongie,’ katanya sambil membersihkan kedua tangannya dengan celemek yang ada di pinggang, “Sudah lama kau tidak kemari.”
            “Ah ye, kemarin aku sibuk jadi tidak sempat mampir kemari. Ahjusshi merindukanku, ya?” canda Jaejoong. Dia memang suka sesekali bercanda dengan Tuan Kang, menurutnya Tuan Kang itu memiliki selera humor yang cukup bagus.
            “Aish, kau ini bisa saja,” sahut Tuan Kang lalu tertawa kecil, “Ayo silahkan duduk,” tambahnya.
            “Ne, ahjusshi,” kata Jaejoong, lalu mengambil tempat duduk di tengah belakang. Tempat ini selalu jadi tempat favoritnya.
            Changmin mengikuti Jaejoong dan duduk di seberang namja itu. Matanya menatap sekeliling kedai itu. Sederhana tapi terkesan hangat, suasananya pun begitu nyaman, begitulah kesan pertama Changmin begitu masuk ke tempat ini.
            Tuan Kang menghilang di balik dapur sederhananya dan muncul kembali sembari membawa 2 gelas air dan meletakkannya di meja mereka.
            “Tumben sekali kau kemari membawa teman, Joongie-ah,” ujar Tuan Kang, “Junsu tidak ikut?” tanyanya kemudian.
            “Tidak, ahjusshi, Junsu hyung sedang sibuk,” jawab Jaejoong, “Dan ini Shim Changmin,” lanjutnya, memperkenalkan Changmin.
            Changmin segera menundukkan kepalanya ke arah Tuan Kang dan memberi salam, “Annyeonghaseo.”
            “Annyeonghaseo,” balas Tuan Kang sembari sedikit menunduk.
            Tuan Kang memperhatikan Changmin untuk beberapa detik sebelum kemudian berkata, “Sepertinya wajahmu tidak asing,” ujarnya sambil berusaha mengingat-ingat pemilik wajah tampan itu.
            “Ah sudahlah ahjusshi, jangan menatapnya seperti itu.”
            “Baiklah, baiklah,” Tuan Kang menyerah untuk mengingat-ingat, memorinya diumur yang sekarang memang tidak lagi sama seperti saat dia muda dulu, “Mau pesan apa, Joongie-ah?”
            “Seperti biasa saja, ahjusshi.”
            “Baik, tunggu sebentar ya,” ucap Tuan Kang lalu berlalu ke dapurnya.
            Changmin menatap punggung Tuan Kang hingga menghilang di balik dapur, lalu menatap Jaejoong, “Hyung sering kemari ya?” tanyanya.
            “Eum,” sahut Jaejoong sembari mengangguk, lalu menegak airnya.
            “Tempat ini enak juga,” gumam Changmin sambil mengedarkan pandangannya.
            “Setuju,” tandas Jaejoong cepat dan bersemangat, “Tempat ini memang nyaman. Pemiliknya ramah. Dan lagi kita tidak perlu menyamar kalau datang kemari.”
            Changmin mengangguk-angguk setuju. Beberapa menit kemudian, Tuan Kang kembali sambil membawa nampan di tangannya dan menghampiri meja mereka. Tuan Kang meletakkan beberapa botol soju, 2 buah gelas, dan beberapa piring camilan beserta sumpit.
            “Silahkan,” ujar Tuan Kang sambil tersenyum ramah.
            “Gomawo, ahjusshi,” sahut Jaejoong.
            Tuan Kang membungkuk sekilas lalu pergi dan meninggalkan kedua namja ini. Jaejoong lalu meraih sebotol soju dan segera menuangkannya ke dalam gelas Changmin. Changmin yang kaget melihat tindakan Jaejoong, menyodorkan gelasnya lalu ganti mengisi gelas Jaejoong dengan soju. Jaejoong tersenyum samar lalu mengangkat gelasnya dan bersulang dengan Changmin.
            Baik Jaejoong maupun Changmin, langsung menegak habis segelas soju itu. Berikutnya dan berikutnya, keduanya kembali mengisi penuh gelas mereka dan menegaknya.
            “Haahh,” desis Jaejoong saat merasakan minuman khas Korea itu melewati tenggorokannya dan membawa sensasi hangat dan menyenangkan. Setelahnya, dia meraih sumpit dan mulai memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
            Kedua namja tampan seprofesi ini terdiam cukup lama. Masing-masing sibuk dengan pikiran dan euforianya. Hanya suara denting gelas yang beradu dan suara air yang menggelegak yang mengisi keheningan di antara mereka.
            Sementara di kejauhan tampak Tuan Kang yang tengah memperhatikan mereka, dengan yakin menarik sebuah kesimpulan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa yang sedang terjadi dan hal itulah yang membuat mereka tenggelam dalam kesunyian tanpa obrolan. Anak muda zaman sekarang memang sering terlihat banyak pikiran dan terkadang itu sebenarnya tidak cocok dengan usia mereka, begitu pikir Tuan Kang.
            “Hyung,” panggil Changmin, mencoba memulai pembicaraan.
            Jaejoong hanya mendongakkan kepalanya dan menatap Changmin sekilas dengan pandangan bertanya.
            “Ada apa?” tanya Changmin.

SKANDAL - Chapter 6

SKANDAL
Chapter 6

-xxx-

            “Jae Jaejoong-ah.”
            Kim Jaejoong yang merasa namanya dipanggil, dengan cepat mengangkat kepalanya dan mengerjap-ngerjap menatap sekeliling. Dilihatnya Junsu yang sedang duduk di sampingnya sambil menatap dengan pandangan cemas. Menyadari hal itu, Jaejoong membenarkan posisi duduknya dan mengusap-usap matanya.
            “Waeyo, hyung?” tanya Jaejoong pada Junsu.
            “Apa kau baik-baik saja? Kulihat sedari tadi kau hanya duduk diam,” jawab Junsu, dengan nada penuh kekhawatiran.
            “Ah gwaenchana, hyung. Aku hanya sedikit merasa lelah.”
            Meski Jaejoong berkata baik-baik saja, tapi Junsu tidak yakin dan masih menatap Jaejoong dengan cemas lalu berkata, “Kalau begitu kembalilah ke hotel dan istirahatlah di kamar. Lagipula besok kau masih ada jadwal pemotretan, ‘kan?”
            “Eh?” sahut Jaejoong bingung.
            “Tidak apa-apa kok, istirahat saja duluan.”
            “Eum” Jaejoong tampak berpikir sejenak.
            Suasana di ruang karaoke yang cukup luas ini masih riuh. Salah seorang staf sedang menyanyikan sebuah lagu, sementara yang lain sibuk bersorak-sorai. Di meja penuh dengan berbagai makanan dan camilan, serta beberapa botol minuman ringan serta soju. Jaejoong melirik sekilas jam yang ada di dinding. Waktu ternyata hampir lewat tengah malam.
            Kedatangan Jaejoong ke Jeju adalah untuk pekerjaan, bukan untuk liburan apalagi menghindar dari kejaran pers. Dan saat ini Jaejoong memang sedang berada di salah satu tempat karaoke di Jeju. Dia pergi setelah menerima ajakan dari para kru dan staf sebuah majalah fashion yang sedang bekerja sama dengannya untuk sebuah pemotretan. Acara karaoke ini mungkin menjadi cara bagi mereka untuk bisa melepas penat sejenak dari pekerjaan yang menumpuk.
            “Mungkin aku akan keluar sebentar untuk mencari udara segar, hyung,” ujar Jaejoong, kemudian bangkit dari tempat duduk dan mengenakan mantelnya.
            “Kau yakin tidak apa-apa, Jae?” tanya Junsu, masih khawatir karena menurut matanya Jaejoong terlihat begitu penat dan banyak pikiran.
            Jaejoong mengangguk pelan lalu berkata, “Aku pergi dulu, hyung.”
            Junsu hanya bisa menatap Jaejoong yang berjalan menjauh dari keramaian tanpa ada satu pun yang menyadari, dan melihat punggung Jaejoong menghilang di balik pintu. Junsu menghela napas kuat-kuat sebelum kemudian memutuskan untuk kembali ke kerumunan orang-orang yang sepertinya sudah sangat terlarut dalam euforia masing-masing.
*          *          *
            Kim Jaejoong melangkahkan kakinya menembus pekatnya malam, dan ternyata kakinya membawanya ke sebuah pantai. Tidak ambil pusing, Jaejoong berjalan saja menuju bibir pantai dan menyusurinya. Suara desiran halus ombak menyapa pendengarannya dan memecah kesunyian malam. Hanya butuh beberapa menit berjalan di pantai sebelum Jaejoong melepas sepatunya dan berjalan dengan telanjang kaki, karena merasa kakinya tergelitik untuk menikmati halusnya pasir pantai.
            Jaejoong melangkah dengan ringan, tanpa perlu khawatir ada yang mengenalinya. Fakta bahwa pantai di malam hari begitu sepi atau bahkan tidak ada orang lain selain dirinya sedikit melegakan untuk hatinya yang merasa sesak belakangan ini. Sepanjang menyusuri bibir pantai, sesekali ombak mengenai kakinya dengan lembut. Suasana yang tenang sekaligus menghanyutkan ini terasa nyaman bagi Jaejoong.
            Sembari berjalan, sesekali Jaejoong mengedarkan pandangannya ke arah laut. Laut yang tetap terlihat gelam dan kelam, sekalipun bulan menggantung di atasnya. Laut yang meski dipandang sejauh apapun tetap terlihat tak ada ujungnya. Jaejoong berhenti sejenak dan terdiam. Matanya terpejam sambil menikmati desiran angin malam yang menerpa tubuhnya, ditambah dengan suara-suara nyiur kelapa yang bergemerisik akrena terusik oleh angin pantai yang cukup kencang. Terasa dingin, tapi juga menenangkan.
            Jaejoong mengeratkan mantelnya dan kembali melanjutkan langkah kakinya, agak menepi karena mulai terusik oleh dinginnya air yang mengenai kakinya. Kedua tangannya menyatu ke belakang tubuhnya, dengan sepasang sepatu yang terkait di jemarinya. Kepalanya mendongak, matanya menatap langit malam yang gelap namun cerah tak berawan. Bulan terlihat bersinar terang di atas sana, ditemani ratusan bintang yang menciptakan konstelasi indah di langit.
            Kaki Jaejoong kembali terhenti. Matanya kini sibuk memandang bintang-bintang. Sejak kecil Jaejoong memang suka sekali melihat bintang, dan kebiasaan melihat bintang itu terus terbawa hingga di umurnya yang sekarang. Jaejoong tersenyum samar, masih sambil memandang bintang-bintang. Bintang-bintang itu selalu berhasil menghibur hatinya.
            Jaejoong melangkah lagi, kali ini lebih menepi lagi. Setelah dirasa menemukan tempat yang pas, Jaejoong meletakkan sepatunya, kemudian duduk dan merebahkan tubuhnya begitu saja dengan beralaskan pasir. Kedua telapak tangannya saling tertaut dan digunakan sebagai sandaran kepalanya. Jaejoong menghela napas pelan, lalu kembali sibuk memandangi bintang. Bintang-bintang itu memang tak pernah membuatnya bosan.
            Kedua kelopak mata Jaejoong kembali tertutup. Dia tengah menikmati halusnya pasir pantai tempat punggungnya bersandar, angin malam yang mengalir lembut membawa dingin yang menenangkan, gemerisik pohon-pohon kelapa, dan desir ombak.
            “Kau suka sekali melihat bintang ya?”

SKANDAL - Chapter 5

SKANDAL
Chapter 5

-xxx-

Winter, 2 years ago
Seoul, 11.15 p.m
            Kim Jaejoong menghentikan langkahnya. Terdiam sejenak dan menghirup napas dalam-dalam sebelum menghelanya kuat-kuat. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam untuk beberapa saat. Dieratkannya mantel sebelum kemudian melanjutkan langkah kakinya.
            Entah kemana kakinya membawanya pergi, Jaejoong hanya berjalan mengikuti instingnya. Tatapannya kosong ke depan, sesekali kepalanya menengadah ke atas, menatap langit malam yang hari ini tampak cerah tak berawan.
            Lagi-lagi, Jaejoong menghela napas berat. Kata-kata Song Jihyun terus dan masih terngiang jelas di telinganya. Kata-kata perpisahan yang sama sekali tidak Jaejoong kira akan meluncur dari bibir sang kekasih. Kata-kata yang tak bisa dia sangkal. Kata-kata yang membuatnya tersadar dan terhempas ke kehidupan jelata. Kata-kata yang sempat menjadi kekhawatirannya. Tentang dirinya, yang kini menjadi salah satu artis papan atas Korea.
            “Jaejoong-ah, eum… maaf… tapi kupikir hubungan kita sampai di sini saja. Belakangan ini kita berdua sama-sama sibuk. Aku harus menyelesaikan skripsi dan kau… belakangan ini kau semakin populer. Aku… membaca banyak artikel di internet tentangmu. Promo album, iklan, drama, tour, aku yakin banyak hal yang harus kaulakukan.”
            “Apa maksudmu, Jihyun-ah?”
            “Aku… maaf… tapi belakangan ini aku merasa risih, eum… dengan status kita masing-masing. Kau tahu, aku ini orang biasa, bukan dari kalangan artis sepertimu. Dan akhir-akhir ini kariermu sedang menanjak, fansmu pun bertambah. Aku merasa… kita ada di dunia yang berbeda… dan kurasa… aku tidak bisa lagi. Mianhe, jeongmal mianhe, Jaejoong-ah. Kau… mengerti maksudku bukan?”
            “…”
            “Kurasa… kita tak bisa bersama lagi. Mungkin sudah cukup sampai di sini.”
            Song Jihyun adalah kekasihnya sekarang mantan kekasihnya sejak sebelum Jaejoong memulai debutnya. Bertemu di sebuah toko bunga tempat Jihyun bekerja sambilan, ketika Jaejoong memulai hari-hari pertama perantauannya ke Seoul. Sepasang remaja muda yang bertemu tanpa disengaja, kemudian saling tertarik satu sama lain, dan hanya butuh waktu sampai mereka memutuskan sebuah komitmen hubungan.
            Mereka pernah berkomitmen. Ya, layaknya pasangan muda lainnya, berjanji untuk saling mencintai dan melindungi, berkomunikasi tanpa ada yang disembunyikan dari satu sama lain. Semuanya berjalan biasa, tak ada yang aneh dari pasangan ini. Sementara waktu terus berjalan sembari membawa takdir lain dalam kehidupan mereka.
            Jaejoong yang lolos ajang pencarian bakat dan menjalani masa training, akhirnya memulai debutnya sebagai penyanyi solo pria. Sementara Jihyun mulai sibuk dengan berbagai aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Seoul. Sibuk dengan jalan hidup yang baru sebagai seorang dewasa, membuat mereka semakin jarang bertemu. Komunikasi lewat ponsel terkadang tidak terlalu membantu intensivitas hubungan mereka. Semuanya pun perlahan berubah.
            Langkah Jaejoong kembali terhenti. Kepalanya menunduk, matanya menekuri salju yang ada di dekat kakinya. Lagi-lagi Jaejoong menghela napas berat. Jaejoong menyadarinya sekarang. Selama ini dia terlalu egois, beranggapan bahwa hubungannya dengan Jihyun baik-baik saja. Terlalu egois, sehingga Jaejoong lupa memikirkan perasaan Jihyun terhadap dirinya yang sudah menjadi penyanyi terkenal. Terlalu egois, sehingga Jaejoong tak ingatuntuk berpikir bagaimana perasaan Jihyun terhadap dirinya yang kini dikelilingi oleh fans-fans yang mayoritas yeoja. Terlalu egois, sehingga Jaejoong tak menyadari kalau sebenarnya dia menyakiti Jihyun perlahan-lahan. Dia mungkin memang bukanlah pacar yang baik.

SKANDAL - Chapter 4

SKANDAL
Chapter 4

-xxx-

            “Mau minum apa, Jihye-sshi?” tanya Jaejoong sembari berjalan ke dapur.
            “Tidak usah repot-repot, oppa. Aku kemari hanya ingin mengantarkan ini,” kata Wang Jihye sambil mengeluarkan sebuah naskah dan meletakkannya di meja. Jaejoong membalikkan badannya dan melangkah menuju meja.
            “Apa ini?” tanya Jaejoong. Dia mengambil naskah tersebut dan duduk di seberang Jihye. Matanya menatap lembar demi lembar dalam naskah itu.
            “Itu skenario drama. Sutradara Seo memintaku untuk memberikannya padamu. Dia sedang mencari pemeran pria dalam drama tersebut, dan katanya dia ingin oppa yang memerankannya.”
            “Hm,” gumam Jaejoong, matanya menelusuri kata-kata dalam naskah tersebut.       “Tapi aku bukan seorang aktor, Jihye-sshi. Aku belum pernah mencoba berakting,” ujar Jaejoong sambil melirik Jihye sekilas.
            Jihye tersenyum kemudian berkata, “Sutradara Seo ingin oppa melihat skenarionya dulu, baru memutuskan.”
            “Hm, entahlah, tapi aku tidak begitu yakin,” kata Jaejoong sembari menutup naskah tersebut dan meletakkannya kembali ke atas meja.
            “Sutradara Seo akan menghubungimu lagi nanti, oppa.”
            “Ya, baiklah.”
            “Kalau begitu aku pamit pulang dulu, oppa. Ini sudah larut malam,” tandas Jihye. Dia bangkit dari duduknya, membuat Jaejoong pun segera berdiri.
            “Buru-buru sekali. Mau kuantar, Jihye-sshi?” tawar Jaejoong. Kakinya mulai melangkah menuju pintu depan, diikuti oleh Jihye.
            “Ani, tidak usah repot-repot, oppa, aku bawa mobil,” sahut Jihye sambil tersenyum samar.
            Jaejoong membuka pintu begitu mereka sampai di depan. Jihye melangkah keluar dan membalikkan badannya serta membungkukkan kepalanya sekilas.
            “Aku pamit dulu, oppa,” kata Jihye. Sebuah senyum menghiasi wajahnya yang terlihat agak letih.
            “Eum, hati-hati di jalan, ne?” Jihye mengangguk sambil masih tersenyum sebagai jawaban.
            “Lain kali mampirlah lagi kemari,” kata Jaejoong, mengundang tawa pelan dari Jihye.
            “Ne, oppa, gomawo.”
            Jihye kemudian berbalik dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di seberang rumah Jaejoong. Suara sepatunya yang beradu dengan jalan memecah kesunyian malam. Tangannya membuka pintu mobil dan segera duduk di balik kemudi. Setelah memasang sabuk pengaman, Jihye menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Jaejoong yang masih berdiri di ambang pintu.
            Jaejoong membalas lambaian tangan Jihye dan tersenyum ke arahnya. Mobil itu perlahan bergerak dan ketika mobil Jihye menghilang dari jangkauan penglihatannya, Jaejoong masuk kembali ke dalam rumahnya. Tak lupa dia menutup pintu dan menguncinya.
            Kaki Jaejoong melangkah menuju ruang tengah. Dihempaskannya tubuhnya begitu saja di atas sofa, dan Jaejoong menghela napas kuat-kuat. Diliriknya sekilas naskah yang tergeletak di atas meja. Kepalanya kemudian dia sandarkan ke atas sofa, matanya menerawang ke langit-langit rumahnya.
            Belakangan ini Jaejoong tak banyak melakukan aktivitas. Hanya sesekali dia pergi ke kantor agensinya, setelah itu dia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah yang luas ini. Jaejoong merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Jaejoong menghela napas kecewa ketika mendapati tak ada satu pesan atau panggilan pun yang masuk ke ponselnya. Bahkan Yunho tak lagi mengiriminya pesan singkat atau mencoba meneleponnya sejak kejadian malam itu.
            ‘Mianhe, Yun, jeongmal mianhe,’ batin Jaejoong.

20 November 2013

Mencari Jalan Menuju Fakultas Teknik

Dimana Universitas Diponegoro berada? Universitas Diponegoro terletak di Semarang. Kalau Anda ingin mencari dimana Fakultas Teknik, maka pergilah ke daerah bernama Tembalang. Mudah saja menemukannya. Di pinggir jalan menuju ke Tembalang sudah ada petunjuk arah kemana kita harus berbelok agar sampai di Tembalang. Bila Anda sudah melewati Patung Kuda, berarti arah Anda sudah benar dan kekhawatiran tentang tersesat menjadi lebih kecil. Lalu kemana arah menuju Fakultas Teknik?
Apabila Anda melihat sebuah gapura besar dengan logo UNDIP yang terdapat di sana dan gapura tersebut melintang di sepanjang jalan serta berada di antara SPBU dan Gedung Serba Guna (GSG), Anda perlu melewatinya dan bergerak lurus terus ke depan. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, tentu akan lebih praktis dan nyaman. Namun jika Anda memilih untuk berjalan kaki agar sekaligus untuk berolahraga ringan, maka energi yang Anda butuhkan akan cukup banyak, karena jalan yang akan dilewati berupa jalan naik-turun yang trotoarnya pun kurang nyaman bagi pejalan kaki. Bila Anda menggunakan kendaraan umum, Anda juga tidak perlu repot karena kendaraan umum yang harus Anda naiki hanya satu, yaitu angkutan yang berwarna kuning. Anda perlu mengatakan tujuan Anda pada supir angkutan, misal kampus S-1 Teknik Sipil, maka angkutan umum tersebut akan mengantarkan Anda sampai tujuan. Tarifnya pun hanya Rp. 2500,-, cukup terjangkau bagi kantung mahasiswa. Dari gapura UNDIP tersebut Anda akan menemukan sebuah perempatan pertama dengan lalu lintas penyeberangan yang biasanya padat. Anda hanya perlu lurus saja. Tidak jauh dari perempatan itu, Anda kemudian akan menemukan sebuah pertigaan dengan masjid kampus di kiri jalan yang berada beberapa meter dari pertigaan tersebut. Anda hanya perlu bergerak lurus saja. Anda akan melewati sebuah jembatan dan Anda akan menemukan sebuah bundaran. Dari sana, Anda beloklah ke kiri. Sekarang Anda mulai memasuki area kampus Universitas Diponegoro. Fakultas Teknik yang Anda cari mudah ditemukan, karena berada tidak jauh dari jalur utama dan berkelompok dalam satu area. Jurusan Teknik Sipil adalah kampus pertama yang akan Anda temui. Kampus Sipil, yang bangunannya paling berumur dibandingkan dengan bangunan-bangunan kampus lainnya karena sudah berdiri seiring dengan berdirinya Fakultas Teknik, berada tak jauh dari jalur utama. Begitu Anda melewati gedung kembar ICT, Anda akan menemukan sebuah perempatan pertama. Belok ke kiri dan maju beberapa meter, Anda sudah akan menemukan gerbang kampus Sipil. Kampus Sipil berada tepat di depan Student Center atau mahasiswa biasa menyebutnya PKM Baru. Anda dapat masuk ke sana, mungkin untuk sekadar melihat-lihat bagaimana kampus Sipil, apakah sesuai dengan bayangan Anda dan apakah sesuai dengan penerapan ilmu Sipil itu sendiri.
Pada dasarnya tidak susah untuk mencari letak kampus Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Selain karena jalannya yang tidak terlalu banyak bercabang, lingkungan sekitar kampus yang selalu ramai bisa membantu Anda dalam menanyakan arah pada orang yang berada di sekitar situ. Yang juga tak kalah penting adalah tujuan Anda harus jelas, agar Anda tidak membingungkan diri Anda sendiri. Jangan malu bertanya. Ingat pada pepatah yang mengatakan, “Malu bertanya, sesat di jalan.”

8 November 2013

SKANDAL - Chapter 3

SKANDAL
Chapter 3

-xxx-

Suasana koridor sekolah setelah bel masuk berbunyi tampak lengang. Terkadang hanya ada beberapa guru, siswa, atau petugas kebersihan yang lewat. Selebihnya, semua orang berada di dalam kelas.
            Namun suasana koridor yang hening sedikit terusik dengan adanya suara derap langkah kaki. Seorang namja berumur 20-an, yang merupakan guru biologi di sekolah ini tampak sedang berjalan-jalan di koridor dengan santai, sembari sesekali menyesap segelas kopi yang ada di tangannya. Park Yoochun, begitu nama lengkap namja bersuara husky ini, mengisi kegiatannya dengan berjalan-jalan santai, karena dia tidak ada jam mengajar pagi ini. Kakinya melangkah menyusuri koridor yang sepi. Matanya sesekali menengok ke dalam kelas dan menyapa guru-guru yang sedang mengajar dengan sebuah anggukkan.
            “Hah~” Yoochun menghela napas pelan.
            Sebenarnya dia juga bosan harus jalan-jalan sendirian seperti ini, tapi cuma duduk di ruang guru itu lebih membosankan. Biasanya dia sering menghabiskan waktu luang bersama sahabatnya yang seorang guru matematika, Jung Yunho. Tapi sahabatnya itu ada jam mengajar pagi ini. Yoochun meneruskan langkahnya dengan malas.
            ‘Mungkin duduk di taman lebih baik,’ pikir Yoochun, sambil melangkah menuju taman yang ada di samping sekolah.
            Yoochun menghabiskan seteguk kopinya dan membuangnya di tempat sampah yang berada di dekat pintu masuk ruang kelas yang dilewatinya. Yoochun melongok sedikit ke dalam untuk melihat siapa guru yang mengajar.
            ‘Oh, Yunho,’ batin Yoochun sambil tersenyum ke arah sahabatnya yang sedang duduk di balik meja guru itu, berharap sahabatnya itu melihatnya.
            Namun senyum di wajah Yoochun hilang ketika mendapati Yunho kini sedang menyangga kepalanya yang tertunduk dengan telapak tangan kanannya, sementara jemarinya tampak memijit pelipisnya. Yoochun maju beberapa langkah dan melihat lebih ke dalam. Suasana kelas yang hening dan masing-masing dari mereka tampak sibuk mengerjakan sesuatu membuat Yoochun berasumsi bahwa mereka sedang mengerjakan ulangan.
            Yoochun mengernyit ketika matanya menangkap beberapa siswa yang duduk di belakang saling melempar kertas contekan. Hei, dia juga guru. Dan dia tidak suka melihat murid yang menyontek. Segera dialihkan pandangannya kepada Yunho, mencoba melihat tindakan apa yang akan Yunho lakukan.
            Yoochun terkesiap kaget ketika mendapati Yunho masih memijit-mijit kepala. Yunho tampak acuh pada murid-muridnya, tak peduli meski beberapa dari mereka mulai menyontek saat ulangan. Atau… dia tidak tahu kalau ada yang menyontek? Tidak, itu mustahil. Biasanya Yunho akan mengawasi murid-muridnya dengan tegas saat ulangan. Bahkan ketika ada yang tertangkap basah sedang menyontek, Yunho tidak segan untuk langsung merobek lembar jawab siswa itu.
            Lalu, kenapa Yunho bersikap tak seperti biasanya?
            Yoochun mempertajam penglihatannya dan mengamati Yunho lekat. Wajah Yunho memang terlihat lelah, tak seperti biasanya. Waktu Yoochun menyapa Yunho tadi pagi di ruang guru, Yunho juga terlihat lemas.
            ‘Apa ada yang sedang mengganggu pikirannya?’ batin Yoochun sambil berjalan meninggalkan kelas itu. Dia tidak mau terlalu lama berdiri di sana dan nantinya malah mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
            ‘Mungkinkah ini berhubungan dengan Jaejoong?’
*          *          *
            “Yak, Jung Yunho!” panggil Yoochun ketika melihat Yunho berjalan masuk ke ruang guru.
            Yunho melirik Yoochun sekilas, kemudian melanjutkan langkahnya berjalan ke mejanya. Diletakkannya setumpuk buku di atas meja. Baru saja Yunho ingin duduk dan sedikit mengistirahatkan tubuhnya di kursi, seseorang menarik lengannya kuat.
            “Setelah ini kau tidak ada jam mengajar, ‘kan?” tanya Yoochun sambil menggenggam erat lengan Yunho, menahan namja itu agar tidak duduk dulu.
            “Tidak. Maka dari itu aku ingin tidur sebentar disini. Aku lelah, Park Yoochun, dan aku sedang tidak ingin bermain denganmu,” jawab Yunho ketus sembari memasang ekspresi kecut.
            “Ikut denganku,” ujar Yoochun. Ditariknya lengan Yunho dan dibawanya sahabatnya itu beranjak dari ruang guru.
            “Yah~! Park Yoochun! Lepaskan,” raung Yunho sambil mencoba melepaskan diri dari Yoochun.
            Beberapa guru lain yang ada di ruang guru menatap mereka dengan tatapan bingung. Yoochun hanya mendengus pelan dan tidak memedulikan Yunho yang terus berontak.
            “Kau mau apa, Park Yoochun?” tanya Yunho dengan nada kesal. Akhirnya dia menyerah dan pasrah saja mengikuti langkah Yoochun. Dia tak punya cukup tenaga untuk berontak. Semalam dia kurang tidur dan hari ini tubuhnya terasa lemas.
            “Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” jawab Yoochun singkat tanpa menoleh sedikit pun ke arah Yunho. Yunho mengerutkan dahinya dan menatap Yoochun bingung.
            “Kalau begitu, dibicarakan di ruang guru saja bisa ‘kan?”
            “Aish, sudahlah, jangan berisik terus, Jung Yunho. Sekarang masih ada jam pelajaran, kau ingat itu ‘kan?
            Yunho memutuskan untuk mengunci mulutnya dan hanya mengikuti langkah Yoochun saja. Semakin cepat urusan mereka selesai, semakin cepat pula Yunho bisa tidur sejenak di ruang guru.
            Yoochun baru melepaskan tangannya dari lengan Yunho ketika mereka sampai di atap sekolah. Angin yang berhembus cukup kencang langsung menyambur kedua namja ini ketika mereka membuka pintu yang menghubungkan ke atap sekolah. Yoochun melangkah pelan dan berhenti di tengah-tengah.
            Yoochun kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Yunho tajam, sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, “Apa yang Kim Jaejoong katakan padamu?” tanya Yoochun tiba-tiba.
            Yunho tersentak kaget, alisnya bertaut menatap Yoochun, “Apa maksudmu?”
            “Kau menemui Kim Jaejoong, bukan?”
            Yunho hanya diam, kepalanya menunduk dalam. Kaki jenjangnya melangkah perlahan menuju ke samping, ke bagian dinding setinggi 1 meter yang membatasi area atap sekolah. Tubuhnya disandarkan ke dinding, sementara kedua sikunya bertumpu pada bagian atas dinding. Kepalanya menegadah, menerawang ke langit biru tak berawan.
            “Tidak ada yang dia katakan,” kata Yunho lirih. Yoochun berjalan perlahan menuju ke tempat Yunho berdiri dalam diam, membiarkan Yunho melanjutkan kalimatnya.
            “Aku sudah mengetuk pintu dan memanggil namanya, tapi dia tidak keluar untuk menemuiku,” lanjut Yunho, “Aku yakin dia ada di dalam. Tapi…” Yunho menggantung kalimatnya. Ditariknya napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
            Yoochun berdiri di samping Yunho dan menyandarkan tubuhnya juga pada dinding. Matanya menatap lurus ke depan sementara telinganya setia mendengar cerita Yunho.
            “Mungkin memang dia tidak ingin melihatku lagi. Dan kurasa… hubungan ini memang berakhir hanya sampai di sini.”
            Yoochun terperangah kaget mendengar kata-kata Yunho. Tanpa sadar tangannya meraih kerah baju Yunho dan menariknya kuat, membuat Yunho berdiri tepat di depannya. Kedua bola matanya menatap Yunho tajam. Sebelah tangannya yang terkepal hendak melayangkan sebuah pukulan ke wajah sahabatnya itu.
            Yunho yang tahu Yoochun akan memukulnya memilih untuk tidak berontak sedikit pun. Dia tahu kalau dirinya memang pantas mendapatkan itu. Mata bak musangnya balas menatap Yoochun. Terlihat jelas gurat kemarahan di wajah tampan Park Yoochun.
            “Yah, Jung Yunho~!” seru Yoochun sambil mempererat cengkraman tangannya di kerah baju Yunho, “Apa seperti ini sikap seorang Jung Yunho yang aku kenal?! Jung Yunho yang kukenal bukanlah pengecut yang pesimistis seperti ini. Dia seorang yang tidak mudah putus asa dan teguh pada pendiriannya,” ujar Yoochun lantang, tepat di depan wajah Yunho.
            Yunho menghela napas berat. Kepalanya sedikit tertunduk untuk menyembunyikan ekspresi kepedihan di wajahnya. Kepalan tangan Yoochun terangkat dan siap untuk memukul Yunho, namun sedetik kemudian Yoochun mendengus kesal dan menurunkan kepalan tangannya. Dia melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Yunho dan sedikit menghentakkannya, membuat Yunho mundur selangkah ke belakang.
            Yoochun cepat-cepat membuang mukanya, sementara Yunho menatapnya dengan perasaan bersalah karena telah membuat Yoochun khawatir padanya sampai seperti ini.
            “Mianhe, Yoochun-ah,” ujar Yunho lirih. Kepalanya menunduk dalam, matanya sibuk menekuri lantai.
            Yoochun menolehkan kepalanya dan menatap Yunho. Ada sebersit rasa penyesalan yang menghampirinya ketika dia menyadari perbuatan yang baru saja dilakukannya pada Yunho.
            “Aku… aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Aku pikir Jaejoong masih…” lagi-lagi Yunho menggantung kalimatnya. Dadanya kembali terasa sesak tiap kali dia memikirkan Kim Jaejoong. Dia merasa kalut dan bingung, tak tahu harus bagaimana.
            “Bukankah selama ini kau mempercayainya? Bukankah sebelum skandal ini, tiap kali aku memberitahu gosip tentang Kim Jaejoong, kau akan dengan tegas menyangkalnya dan mengatakan kalau kau percaya pada Kim Jaejoong? Lalu sekarang apa?”
            “Aku tidak tahu. Aku merasa seharusnya semuanya tidak seperti ini. Tapi Jaejoong…”
            “Yunho,” potong Yoochun, nada suaranya rendah dan tegas. Matanya menatap lurus ke arah Yunho yang kini sudah mengangkat kepala dan balas menatapnya. “Yakinkan dan buktikanlah kalau rasa percayamu pada Kim Jaejoong selama ini tidak pernah salah.”
*          *          *
            Jung Yunho menginjak pedal gas kuat, membuat mobilnya melaju cukup kencang di jalanan kota Seoul malam ini. Meski jam hampir menunjukkan waktu tengah malam, tapi sepertinya penduduk Seoul masih enggan untuk berhenti dari aktifitas mereka. Terlihat dari kondisi jalan yang maish ramai dengan kendaraan.
            Yunho menatap lurus ke depan. Dikatupkannya rahangnya kuat-kuat. Kata-kata Yoochun siang tadi di atap sekolah masih jelas membekas di pikirannya, membuat namja bermarga Jung satu ini memutuskan untuk pergi ke rumah Jaejoong sekali lagi. Dan kali ini dia tidak akan menyerah. Dia siap untuk melakukan apa saja, asal dia bisa bertemu dengan kekasihnya.
            ‘Aku akan melindungimu, Jae,’ batin Yunho sembari tangannya mencengkeram kuat stir mobil.
            Perlahan Yunho menginjak pedal rem, membuat roda-roda mobilnya bergerak lebih pelan dan akhirnya mobil hitam milik Yunho berhenti beberapa meter dari rumah Kim Jaejoong. Dimatikannya mesin mobilnya dan dilepaskannya sabuk pengaman dari tubuhnya. Diliriknya jam tangan yang setia melingkar di pergelangan tangan kirinya sekilas.
            Yunho mencoba merilekskan tubuhnya dengan beberapa kali menghirup napas dalam-dalam. Mata sipitnya menatap tepat ke arah rumah Jaejoong. Dengan kedua tanan yang terlipat di depan dada, Yunho berusaha memikirkan langkah yang akan dia lakukan selanjutnya.
            ‘Apa aku harus kesana dan mengetuk pintu? Atau langsung masuk saja? Aish, apa yang harus kulakukan sekarang,’ batin Yunho sembari mengacak rambutnya frustasi.
            Yunho mengarahkan pandangannya ke kaca spion yang ada di atasnya dan di sampingnya, mencoba mengamati keadaan di sekeliling rumah Jaejoong. Tampak tidak ada wartawan bahkan seorang pun yang terlihat. Yunho menaikkan retsleting jaketnya sampai ke dagu. Setelah menghembuskan napas kuat-kuat, tangan Yunho bergerak untuk membuka pintu mobil dan bersiap untuk keluar.
            Tapi entah ada bisikan darimana, Yunho menghentikan jemarinya yang sudah memegang kenop pintu. Mendadak dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil dan pergi menemui Jaejoong. Yunho mengerjapkan matanya beberapa saat sembari menimbang-nimbang pilihan yang ada di hadapannya, keluar dari mobil dan menemui Jaejoong atau menunggu sejenak di dalam mobil.
            Perlahan jari-jari Yunho lepas dari kenop pintu. Disandarkannya kembali punggungnya di kursi pengemudi, sementara tangannya memukul stir mobil dengan cukup keras.
            Yunho tidak banyak bergerak setelah itu. Kedua tangannya masih memegang stir mobil dan matanya menatap rumah Jaejoong lekat. Cukup lama Yunho terdiam di dalam mobilnya sementara pikirannya mengembara entah kemana.
            Yunho kembali tersadar dari lamunan kosongnya ketika menangkap ada gerakan dari pintu rumah Jaejoong. Pintu itu membuka perlahan. Yunho menegakkan tubuhnya dan mencondongkan tubuhnya ke depan, sembari berusaha mempertajam penglihatannya, bersiap untuk mengantisipasi apa pun yang terjadi setelah ini.
            Tak berapa lama kemudian, tampak seorang yeoja dengan rambut sebahu keluar dari rumah Jaejoong, disusul oleh Jaejoong yang berdiri di ambang pintu. Mereka berdua tampak berbicara satu sama lain, sampai akhirnya yeoja itu berjalan meninggalkan rumah Jaejoong menuju sebuah mobil silver yang terparkir di seberang rumah Jaejoong. Jaejoong masih berdiri di ambang pintu dan tampak sedang memperhatikan yeoja itu, sementara yeoja itu memasuki mobilnya.
            Yunho mengerjapkan matanya beberapa kali sambil terus mengamati wanita itu. Rambut pendek sebahunya membuat Yunho mengerutkan dahi, berusaha mengingat wajah yeoja yang terasa tak asing bagi Yunho. Tunggu, jangan-jangan yeoja itu… Wang Jihye?
            Yeoja itu menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Jaejoong. Jaejoong yang melihatnya balas melambaikan tangan dan sebuah senyum menghiasi wajahnya. Mobil silver yang dikendarai yeoja itu perlahan berjalan dan meninggalkan rumah Jaejoong. Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, Jaejoong kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
            Tangan Yunho yang semula mencengkeran stir mobil erat kini terjatuh lemas ke samping tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang dan pikirannya sibuk berkelana.
            ‘Jadi… semua skandal itu benar? Jaejoong dan Wang Jihye…’ batin Yunho. Matanya menatap penuh tanya ke arah rumah Jaejoong. ‘Kenapa, Jae?’
*          *          *
   
-to be continued-
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!