• Always Keep The Faith!

    The five of us working together could be consider as fate. Five different people feeling as one, happiness multiplied by five, sorrow is just 1/5. This is called happiness. To me, TVXQ is just like a family, a home. No matter how far we’re separated, we’ll come back together one day. TVXQ is just such an important place for us. - U-know Yunho, Fujin kouron magazine 2009

  • Are you envied at us?

    This red ocean is belong to Cassiopeia and TVXQ, just for your information.

  • Humanity Strongest's Soldier

    Thanks to you, Rivaille, for looking so DAMN HOT although you're 160cm. xD /kicks/

17 April 2014

Karena Wanita

            Belakangan ini ramai diberitakan di berbagai media tentang kasus pemukulan seorang pramugari oleh seorang pejabat pemerintahan. Menurut penuturan pramugari yang menjadi korban tersebut, dia dipukul dengan gulungan koran sebanyak 2 kali oleh pria yang menjadi penumpang dalam penerbangan kali itu.
            Menanggapi berita ini, Mami pernah berkata, “Kalau ke cowok ya mungkin maklum, tapi ini ke cewek. Kalau cuma marah-marah dan bentak sih masih bisa ya sedikit ditolerir, lah ini sampai mukul coba. Apa ga sembarangan banget?”
            Mendengar kata-kata itu, aku langsung manggut-manggut dengan semangat. Tentu saja aku menyetujuinya. Jalan pikiran dan pandangan kami sama! :) Sama-sama menganggap bahwa seorang laki-laki yang berani melakukan kekerasan pada wanita itu lebih buruk daripada seorang pecundang. Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Coba saja pikirkan, siapa yang telah melahirkan kita? Siapa yang merawat kita dari bayi sampai dewasa? Siapa yang selalu mencurahkan kasih sayang pada kita? Jawabannya jelas, Ibu. Dan seorang ibu adalah wanita. Maka dari itu aku pun berasumsi bahwa seorang pria yang berani mengangkat tangannya dan memukul seorang wanita sama saja dengan pria tersebut memukul ibunya sendiri.
            Karena pendangan itulah meka aku tidak habis pikir mengenai kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang mayoritas menjadikan sosok seorang istri sekaligus ibu sebagai korbannya. Apa watu melakukan kekerasan itu mereka tidak ingat kalau ibu mereka juga seorang wanita? Apakah berani melakukan kekerasan terhadap wanita menjadi suatu kebanggaan dan prestasi tersendiri?
            Karena yang dipukul adalah seorang wanita maka kasus ini tidak dibiarkan begitu saja. Juga kasus ini tidak mudah hilang dalam benak masyarakat. Karena wanita, maka si pelaku tidak hanya memperoleh balasan dari segi hukum melainkan juga dari segi sosial, yaitu menurunnya image-nya sebagai seorang pejabat pemerintah sekaligus kekecewaan masyarakat terhadap tindakannya.

          Sebuah lagu dari ADA Band yang berjudul “Karena Wanita Ingin Dimengerti” tampaknya cocok untuk direnungkan bagi semua pria di seluruh dunia.

(Seri Perempuan di Abad 21)

P.S
Tulisan ini penuh dengan keegoisan saya sebagai seorang wanita.
11 Juni 2013

31 Maret 2014

SKANDAL - Chapter 11 (END)

SKANDAL
Chapter 11 (END)

-xxx-

Park Yoochun melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju ruang guru ketika dirinya baru saja teringat sesuatu yang penting. Sebenarnya Yoochun sudah mengingat-ingatnya sejak tadi pagi dia akan berangkat ke sekolah, namun baru sekarang ingatan itu kembali muncul dalam benaknya. Beruntung siang ini Yoochun sudah tidak ada jam mengajar, jadi dia punya waktu bebas sampai pulang sekolah nanti.
            Setengah berlari, Yoochun melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. ‘Hampir waktunya. Aish… sepertinya sudah mulai,’ batinnya panik.
             Dengan segera, Yoochun menerobos masuk begitu saja ke dalam ruang guru, menarik perhatian beberapa pasang mata yang ada di sana. Suasana ruang guru di saat jam mengajar tak terlalu ramai, hanya ada beberapa guru yang memang sedang tidak ada jam mengajar yang duduk di sana. Dan sekarnag ini, hanya ada 3 orang guru termasuk sahabatnya yang tengah duduk di kursi masing-masing. Dan ketiga orang itu menatap Yoochun heran.
            “Yah, Jung Yunho,” seru Yoochun dengan nada yang agak tinggi begitu matanya bertemu pandang dengan mata sipit Yunho.
            “Apa?” sahut Yunho cepat dengan nada kesal dan alis yang bertaut.
            Tentu saja kesal. Bagaimana tidak? Yoochun yang tiba-tiba masuk ke ruang guru, lalu langsung saja memanggilnya dengan setengah berteriak seperti itu. Memang apa masalahnya?
            Yoochun segera menghampiri sahabatnya yang sejak selesai jam makan siang tadi sibuk membaca buku. Dengan muka serius, Yoochun menatap Yunho tajam, mengundang kerutan dalam di dahi Yunho.
            “Apa?” tanya Yunho lagi. Melihat tingkah aneh rekan kerja sekaligus sahabatnya ini membuat Yunho kesal tapi juga penasaran. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting.
            Yoochun mengatur napasnya sejenak. Agak lelah juga meski dia cuma berlari kecil dari toilet menuju ruang guru yang jaraknya tak begitu jauh. Sementara Yunho masih menatapnya dengan tatapan bingung bercampur kesal.
            “Yun,” katanya pelan sambil menepuk pundak kiri Yunho, “Ikut aku sekarang.”
            “Eh?” tandas Yunho cepat, dia masih belum bisa membaca situasi sekarang, “Kemana? Memangnya ada apa?”
            “Sudahlah, ikut saja,” jawab Yoochun dengan nada malas, “Aku malas menjelaskannya.”
            “Tapi—”
            Belum sempat Yunho menyelesaikan kalimat protesnya, Yoochun sudah menarik lengannya kuat dan membuatnya berdiri seketika dari tempat duduknya. Yunho hanya bisa bergumam tidak jelas sembari meletakkan bukunya asal karena Yoochun langsung menyeretnya berjalan keluar dari ruang guru.
            “Yah Park Yoochun, aku bisa jalan sendiri,” erang Yunho kesal sambil melepaskan cengkeraman tangan Yoochun pada lengan kirinya.
            Yoochun yang melihat Yunho sudah memasang muka kecut langsung melepaskan cengkeramannya dan berkata dengan nada tegas, “Ikut aku ke kantin.”
            “Mau apa?” tandas Yunho cepat seraya menghentikan langkahnya, membuat Yoochun yang beberapa langkah di depannya ikut berhenti.
            Yoochun berdecak kesal melihat Yunho yang sedang sangat tidak bisa diajak berkompromi hari ini, “Sudah, ikut saja dulu. Aku jelaskan nanti,” katanya dengan nada tidak sabar, sambil matanya melirik cemas ke arah jam tangannya.
            Yunho yang masih tidak mengerti juga, hanya berdiri terpaku di tempatnya sambil memandang Yoochun lekat-lekat, berusaha menerka apa yang tertulis di wajah sahabatnya itu.
            Sementara Yoochun yang sudah habis kesabarannya langsung saja menarik lengan Yunho lagi agar berjalan mengikutinya. Meski Yunho protes dan meronta, Yoochun tetap menyeret namja itu menuj ke kantin. Ini adalah urusan penting yang mendesak. Dan Yoochun sedang tidak ingin membuang waktu sekarang.
            Suasana kantin sepi begitu kedua namja sebaya ini sampai di sana. Hanya ada beberapa orang wanita berusia antara 40-50 tahun yang bekerja sebagai penjaga kantin yang ada di sana. Mereka pun tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing —membersihkan meja, mencuci piring, menata makanan ringan di rak, dan hal bersih-bersih lainnya—, sehingga hanya menatap sekilas ke arah Yochun dan Yunho yang memasuki kantin.
            Yunho yang sudah lelah menggerutu dan meronta sejak tadi akhirnya memilih untuk diam dan membiarkan Yoochun membawanya. Langkah kaki mereka baru berhenti ketika mereka sampai di depan sebuah televisi berukuran sedang yang ada di kantin.
            Yoochun membalikkan badannya dan menatap Yunho dalam, lalu melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Yunho kemudian berkata, “Lihat itu.”

21 Maret 2014

SKANDAL - Chapter 10

SKANDAL
Chapter 10

-xxx-

Two days later
Seoul, 01.16 p.m
            Kim Jaejoong duduk dengan gelisah di ruang tunggu. Berkali-kali dia mengubah posisi duduknya, bangkit berdiri lalu berjalan mondar-mandir di ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut. Matanya beberapa kali melirik ke jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Kedua tangannya bertaut dan saling meremas. Jantungnya berdegup cukup cepat tak beraturan. Bulir-bulir keringat di pelipisnya membuat Jaejoong harus menyekanya dengan sapu tangan beberapa kali. Kim Jaejoong sedang merasa gugup sekarang.
            Bagaimana tidak gugup? Saat ini dia sedang menunggu waktu untuk memulai konferensi pers yang sudah dia dan Junsu atur diam-diam tanpa sepengetahuan agensinya. Ini memang bukan konferensi pers-nya yang pertama, tapi entah kenapa Jaejoong merasa sangat gugup sekarang. Sekalipun sudah memantapkan hati dan mempersiapkan segala sesuatunya, tapi tetap saja kegugupan dan kegelisahan melanda Jaejoong hingga detik ini.
            Rasa gugup ini bukan karena tindakannya yang termasuk dalam tindakan melanggar peraturan agensinya, melainkan gugup karena yang akan Jaejoong lakukan sekarang adalah sesuatu yang besar dan bukan masalah sepele. Jaejoong sudah tidak terlalu peduli dengan agensinya itu, otaknya terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi saat dan setelah konferensi pers ini berlangsung. Mungkin lebih pada antisipasi diri.
            Kalau dipikirkan lagi, yang dilakukan Jaejoong ini mungkin bisa disebut sebagai tindakan mengkhianati agensi yang telah berperan banyak dalam membesarkan namanya dalam industri musik Korea Selatan hingga sekarang. Terdengar seolah Jaejoong tidak tahu diri, bak kacang lupa kulitnya. Jaejoong tidak memungkiri, bila bukan karena agensinya, mungkin dia tidak bisa berada di posisi ini sekarang. Tapi masalah sekarang bukan tentang balas budi atau semacamnya, melainkan soal apa yang benar dan apa yang salah.
            Jaejoong mendudukkan tubuhnya lagi di sofa berukuran sedang yang ada di ruangan itu setelah berjalan tak tentu mengelilingi ruangan. Berusaha mengusir kegelisahan, Jaejoong menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Hal itu dia lakukan sampai beberapa kali.
            Jaejoong berdiri lagi, lalu kembali melihat jam tangannya. Kakinya mulai melangkah lagi sembari mengingat-ingat apa saja yang akan dikatakannya nanti di depan para wartawan. Semalaman Jaejoong sudah menyusun kata-kata untuk diucapkannya siang ini, maka dari itulah jangan sampai ada hal yang terlewatkan olehnya. Hal yang tidak perlu pun tidak seharusnya dikatakan. Cukup bicara seperlunya saja.
            Jaejoong sedang sibuk merapal kata-kata yang sudah disusunnya ketika kemudian terdengar suara pintu diketuk. Kaki Jaejoong seketika berhenti bergerak dan pandangannya menatap lurus ke arah pintu. Sedetik kemudian, pintu mengayun terbuka dan Kim Junsu masuk ke dalam.
            Dengan sebuah tablet di tangannya, Junsu berjalan menghampiri Jaejoong. Keduanya hanya terdiam untuk waktu yang cukup lama. Saling menatap dan berusaha menyelami perasaan masing-masing. Tak dapat dipungkiri, Junsu juga merasa sangat gugup sekarang. Perasaannya campur aduk, hampir sama seperti yang Jaejoong rasakan.
            “Sudah waktunya, Jaejoong-ah,” kata Junsu beberapa saat kemudian.

28 Februari 2014

SKANDAL - Chapter 9

SKANDAL
Chapter 9

-xxx-

Junsu berkali-kali menatap gelisah ke arah jam tangannya. Sesekali pula menatap gelisah ke sekelilingnya.
            Junsu sedang berada dalam mobil van hitam yang biasa dia pakai untuk mengantar Jaejoong kemana-mana. Meski sekarang baru jam 6 pagi, tapi Junsu sudah stand by di depan tempat tinggal Jaejoong untuk menjemput namja itu. Hari ini Jaejoong ada jadwal syuting, jadi Junsu sudah menjemputnya pagi-pagi agar tidak terlambat dan tidak terjebak kemacetan.
            Tapi sekarang sudah lewat 15 menit dari waktu yang mereka janjikan. Junsu sudah berkali-kali menghubungi ponsel Jaejoong, tapi tidak mendapat jawaban. Akhirnya Junsu putuskan untuk menunggu saja.
            Namun kesabaran Junsu hanya bertahan selama 15 menit saja. Sekarang Junsu sudah gelisah menunggu. Selain takut terlambat yang ujung-ujungnya bisa membuat jadwal Jaejoong hari ini berantakan, Junsu juga khawatir terjadi sesuatu pada Jaejoong. Maka dari itulah, manajer Jaejoong ini akhirnya memutuskan untuk menjemput Jaejoong langsung di rumahnya.
            Setelah memasukkan ponsel ke saku dan meraih tas gendongnya, Junsu melangkah keluar dari mobil. Dia segera berjalan menuju kediaman Jaejoong setelah menyalakan alaram mobil. Junsu melangkah cepat dan terburu-buru.
            Tak berapa lama kemudian, Junsu sampai di depan pintu apartemen Jaejoong. Sebelum menekan bel, Junsu sekali lagi berusaha menelepon Jaejoong. 5 detik, 15 detik, 30 detik… tidak ada jawaban. Junsu menarik napas sejenak, lalu menekan bel di samping pintu.
            Suara bel yang menggema di dalam rumah dapat ditangkap oleh telinga Junsu. Junsu menunggu di depan pintu, tapi hingga 3 menit kemudian, Jaejoong tak kunjung membukakan pintu. Junsu menekan bel lagi, bukan hanya sekali tapi 3 kali berturut-turut. Lama Junsu menunggu, tapi tampaknya si penghuni tak memberikan tanda-tanda akan membukakan pintu.
            ‘Apa Jaejoong tidak di rumah?’ pikir Junsu.
            Junsu menekan bel lagi, sebelum kemudian menyerah. Junsu yang sudah tak sabar dan mulai khawatir akhirnya memilih untuk langsung masuk saja ke dalam rumah Jaejoong. Junsu menekan beberapa kombinasi angka, lalu meraih gagang pintu dan masuk ke dalam.
            Junsu segera mengganti sepatunya dengan sandal rumah, lalu masuk ke dalam. Rumah Jaejoong sekarang terlihat lebih rapi dan bersih dari yang terakhir kali Junsu lihat ketika datang kemari.
            “Jaejoong-ah,” panggil Junsu.
            Sunyi. Tidak ada suara Jaejoong yang menyahut. Junsu jadi makin khawatir. Matanya dengan sigap menatap ke sekeliling apartemen Jaejoong. Jangan-jangan ada perampok yang masuk ke apartemen Jaejoong?
            ‘Tidak, tidak, tidak,’ batin Junsu. Kepalanya menggeleng, berusaha mengusir kemungkinan buruk yang muncul di benaknya.
            “Jaejoong,” panggil Junsu lebih keras, “Ini aku,” imbuh Junsu.
            Masih sunyi. Junsu segera mempercepat langkahnya menuju ke kamar Jaejoong. Baru saja Junsu hendak meraih gagang pintu kamar Jaejoong, pintu itu mengayun terbuka. Jaejoong yang sepertinya baru bangun tidur berdiri di sana, dan langsung saja Junsu menarik napas lega. Untung tidak terjadi sesuatu pada Jaejoong, sepertinya namja itu hanya terlambat bangun saja.
            “Hyung, kau di sini?” tanya Jaejoong sembari menggosok-gosok sebelah matanya dengan punggung tangan.
            “Yah Kim Jaejoong!” hardik Junsu, membuat Jaejoong terlonjak kaget.

25 Februari 2014

HAPPY BIRTHDAY!

HAPPY BIRTHDAY!

February 5th
11.50 p.m.
in front of Yunho’s apartment

            “Jaejoong hyung, apa sandinya?” tanya seorang namja tinggi dengan berbisik. Di tangannya terdapat sebuah kotak persegi berukuran cukup besar yang berisi kue ulang tahun.
            Namja berkulit putih bermata doe itu mengendikkan bahu, “Mana kutahu,” jawab Kim Jaejoong.
            “Kan kau yang sering ke apartemen Yunho hyung, Changmin-ah, bukannya kau yang harusnya tahu?” tanya seorang namja bersuara husky bernama Park Yoochun.
            Changmin, namja tinggi bermarga Shim itu mengacak rambutnya frustrasi dengan sebelah tangannya. “Aku lupa,” erang Changmin setengah kesal.
            “Hei, ini hampir jam 12 loh,” ujar Kim Junsu, namja dengan julukan duckbutt, setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
            “Aish,” Changmin mendesis kesal. Tanpa permisi, diberikannya kotak berisi kue itu pada Jaejoong yang berdiri di belakangnya.
            Jaejoong yang kaget tiba-tiba disodorkan kue, mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Changmin, “Kau mau apa, Min?” tanya Jaejoong.
            Changmin tidak menghiraukan pertanyaan Jaejoong, malah menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil menggumam samar, membuat ketiga hyung-nya saling melempar tatapan bingung.
            Dengan sigap Changmin menekan tombol-tombol angka yang ada di hadapannya, membentuk sebuah kombinasi. ‘Semoga ini tidak lama, aku tidak mau kejutan untuk Yunho hyung gagal,’ batin Changmin sembari terus menggerakkan jarinya.
*          *          *
a HOMIN fanfiction
Happy Birthday! © Kristalicia Rizki
Disclaimer : They belong to God. This fanfiction belongs to me.
Rate : PG-15
Warning : YAOI, Shounen-ai, BoyXBoy, BL, OOC, Typo(s).
*          *          *
February 3rd
10.30 a.m.
in the office

            “Min...” panggil seorang namja berambut brunette bermata bak musang.
            Namja yang dipanggil itu tampak sedang melamun, sambil menatap lurus ke arah sebuah kalender meja yang ada di hadapannya. Tangan kanannya yang memegang pena mengetuk-ngetukkan pena tersebut ke pelipisnya.
            “Shim Changmin,” panggil namja bernama Jung Yunho itu dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
            Changmin yang kaget segera tersadar dari lamunannya dan bergerak membenarkan posisi duduknya, “A-ah, selamat pagi, Manajer Jung,” kata Changmin dengan sedikit terbata.
            “Melamunkan apa, eh?” tanya namja bernama Jung Yunho itu sambil sedikit terkekeh melihat ekspresi kaget di wajah namja yang berusia lebih muda 2 tahun darinya itu.
            “A-aniya,” sahut Changmin sambil menggelengkan kepalanya.
            “Hmm...” gumam Yunho, tangan kanannya bergerak menggaruk dagunya.
            “A-ada perlu apa, hyung?” tanya Changmin, berusaha mengubah topik pembicaraan.
            “Oh iya,” ujar Yunho begitu teringat tujuannya menemui Changmin. “Apa laporan kunjungan ke Jeju kemarin sudah selesai?” tanya Yunho.
            “Sudah, hyung,” sahut Changmin cepat.
            “Baiklah. Nanti setelah istirahat makan siang antarkan laporan itu ke mejaku ya.”
            Changmin mengangguk sembari berkata, “Baik, hyung.”
            “Oke,” gumam Yunho lirih lalu berbalik meninggalkan meja kerja Changmin. Baru berjalan 1 meter dari meja Changmin, Yunho membalikkan badannya, “Hari Kamis besok kau ada acara tidak?” tanyanya pada Changmin.
            Changmin tergagap mendadak ditanya oleh Yunho, “Sepertinya tidak, hyung,” jawab Changmin spontan.
            Yunho tersenyum senang, “Baiklah,” katanya lalu berjalan kembali ke meja kerjanya, meninggalkan Changmin yang sedang mengacak rambut frustasi.
*          *          *
February 3rd
8.05 p.m.
at Jaejoong’s apartment

            “Jaejoong hyung, kau ingat sekarang tanggal berapa?”
       “Hm...” Jaejoong berfumam sembari meletakkan 2 cangkir kopi di meja, “tanggal 3 Februari,” jawabnya sedetik kemudian.
            “Lalu hari Kamis tanggal berapa?”
            “Eum... tanggal 6,” jawab Jaejoong lagi, “Waeyo, Min? Apa mendadak kau hilang ingatan?” selidik Jaejoong yang merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan namja tinggi bernama Shim Changmin itu.
            “Apa kau tidak teringat sesuatu, hyung?” tanya Changmin lagi.

19 Februari 2014

Baccano

Baccano, adalah sebuah light-novel Jepang berseri karya Ryohgo Narita dan diilustrasikan oleh Katsumi Enami, yang kemudian diadaptasi menjadi anime.


Baccano, bergaya klasik ala Barat dengan latar belakang tahun 1930-an, menceritakan tentang kisah hidup orang-orang immortal. Orang-orang immortal adalah orang-orang yang bisa hidup abadi. Meskipun mereka ditusuk, ditembak, atau diberi berbagai tindak kekerasan yang bertujuan untuk membunuh, mereka, orang-orang immortal tidak akan mati dan hidup kembali. Luka atau semacamnya akan menghilang dengan sempurna dalam waktu beberapa detik saja. Baccano menceritakan kisah hidup orang-orang berkemampuan khusus ini.

Anime dengan 16 episode ini disajikan dengan alur cerita campuran, yaitu alur yang maju-mundur. Meskipun di awal, menurut saya, cukup sulit dimengerti, namun seiring dengan berjalannya dan berkembangnya cerita, Anda akan dapat mengikuti alurnya. Dan hingga akhir episode, Anda akan dapat mengungkapkan semua fakta yang awalnya menjadi tanda tanya dalam pikiran Anda.

Berlatar belakang tahun 1930-an dengan gaya klasik Eropa, membuat Anda tidak menemukan kultur Jepang di dalamnya. Akan tetapi, animasi yang digunakan bagus dan cukup meninggalkan kesan. Anime ini tergolong bergenre serius, dengan beberapa adegan kekerasan di dalamnya dikarenakan banyaknya adegan pembunuhan yang ditampilkan. Namun, anime ini juga tidak kehilangan sense humornya dengan menghadirkan beberapa tingkah lucu dari 2 tokoh yang menurut saya paling kocak, yaitu Isaac Dian dan Miria Harvent.

Baccano cocok bagi Anda penyuka genre mystery -suspense with slight humor.

Anime ini kuberi rating 6/10~!



© Kristalicia Rizki
Bukateja, 4 Februari 2014

DO NOT TAKE OUT WITHOUT PERMISSION.

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

ABOUT ME

Foto saya
Im a HUMANOIDS, not A-N-D-R-O-I-D~! I ♥ TVXQ. Fan of Lee Min Ho. Support VR46. Love watching SHINHWA Broadcast. :) me YUNJAE-shipper. not really into KPOP, but interest in JPOP esp ARASHI. member of GARUDA SIPIL 2013. ALWAYS KEEP THE FAITH!